Apel / Planet Dalam Lukisan Tian Mangzi
Oleh Michelle Chin

Tian Mangzi lahir di Shenyang tahun 1968, ia mulai melukis sejak berusia 12 atau 13 tahun. Ia belajar teknik tinta dan teknik kuas dengan menggunakan cat di bawah bimbingan para master Cina yang mengajar dia untuk melukis landscape outdoors secara alami. Pada umur 18 tahun ia masuk di Shenyang Lu Xun Academi of Fine Arts, lulus tahun 1990 meraih gelar Bachelor of Fine Arts (BFA). Pada tahun 1992 ia mempelajari lukisan Cina klasik di Academy of Fine Arts Xi'an dan lulus tahun 1995 dengan memperoleh gelar Master. Tahun 1999-2002 Tian Mangzi mengajar seni lukis di Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts. Sejak tahun 2002 itu, ia mulai menggunakan seluruh waktunya untuk berkarya sebagai seniman.

 

Ketika Tian Mangzi mulai melukis tentang still life dia fokuskan pada usahanya untuk memahami struktur dan karakter buah, jeruk, pisang, sayur-sayuran serta jenis buah-buahan lain. Dan, akhirnya Tian Mangzi memilih buah apel sebagai yang disenanginya untuk objek lukisan still life, sebab buah itu mempunyai karakteristik kesederhanaan dan kompleksitas yang sama dengan Planet Bumi (Planet Earth).

Kilas balik Tian Mangzi adalah tentang peristiwa pembunuhan besar-besaran Tiananmen Square tahun 1989 yang telah menghancurkan semua ideal yang dipercaya oleh dia sendiri dan para siswa lain. Walaupun mereka semua ingin berperan untuk menciptakan planet lain yang lebih baik, para siswa menyadari bahwa mereka tidak bisa mengontrol masa depan negeri Cina atau pemerintahnya. Umat manusia juga tidak bisa merubah permasalahan dan sakitnya dunia.

Ia mengatakan, "Dunia ini tidak indah, dan saya merasa kecewa. Masyarakat (human society) banyak yang menyimpang dari moral dan yang ideal. Sejarah manusia penuh dengan intrik politis, kekejaman, pembantaian dan peperangan. Di mana-mana ada orang tunawisma dan orang miskin, pengemis. Pada satu sisi ada orang-orang lemah/miskin yang bekerja keras dan selalu merasa tidak berdaya, dan pada sisi lain ada yang kaya namun pelit dan boros. Manusia secara berangsur-angsur telah menghancurkan lingkungannya sendiri, planet dikotori, bahkan semua sungai berbau busuk oleh karena sampah. Saya merasa kecewa dengan semua ini dan saya tidak punya kekuasaan untuk menghentikan semua itu."

Setahun setelah ia memfokuskan pada lukisan buah apel, tiba-tiba ia menyadari bahwa alasannya untuk membuatnya ialah "dorongan hati untuk merobohkan dunia yang sudah terkutuk, dan, kemudian menciptakan sebuah planet baru, yang indah dan tenang yang dimiliki semua orang." Tian Mangzi tidak bosan melukis buah apel, dan ia mengatakan, "Apa yang sudah saya lukis sebenarnya bukan buah Apel tetapi Planet."

Selanjutnya Tian Mangzi menjelaskan, "Sikap orang-orang Cina menyarankan suatu bentuk sebagai nilai filosofis alam semesta itu. Filsafat Cina didasarkan pada emosi bukannya pada logika atau rasionalitas. Seni-ku mempunyai dua fungsi: pertama, untuk mengkonstruk (menggambar) buah apel, dan kedua mencoba untuk mendorong penonton supaya merubah langkahnya, menyadari realisasi bentuk yang merepresentasikan alam semesta. Apel/Planet melayang dalam ruang (space), tetapi "ruang" yang telah dialihkan sedemikian rupa sehingga masih meninggalkan efek dimensionalnya."

Berbagai warna yang Tian Mangzi gunakan mewakili jenis-jenis orang yang berbeda, karakter dan lingkungannya. Warna merupakan usahanya untuk mencapai kebahagiaan.

Warna Biru menandakan langit dan para dewa. Biru menghadirkan hal-hal kebatinan dan ke-universalan alam semesta. Buah apel Tian Mangzi yang biru adalah sebuah simbol daripada suatu planet dengan samudra air yang paling mirip dengan Planet Bumi yang kita tinggali.

Warna Kuning menyimbolkan kekayaan dan emas, sedangkan warna merah menandakan api, keberanian, kemarahan, emosi yang berhembus keras, cinta dan kekuasaan.

Warna pink pastel seperti sebuah kulit yang nampak masih muda, laiknya kulit seorang perempuan muda.

Warna ungu dan lilac menghadirkan misteri dan hal-hal yang tak dikenal atau yang tidak bisa kita pahami. Ungu Imperial (imperial purple) secara kimiawi sangat erat berhubungan dengan warna/tanaman nila, dan kadang-kadang terasa sulit untuk membedakan kedua warna itu. Memang kami bisa mendapatkan warna biru dari warna ungu dengan menyertakan sebuah reaksi photo-chemical (cahaya matahari) yang sedemikian rupa sehingga seperti lahirnya dunia sendiri dari cahaya.

Warna ungu sering dianggap sebagai simbol kekuasaan, kemewahan dan ketamakan. Bagaimanapun juga, warna ungu kebiru-biruan memberi keteduhan warna ungu (dengan sedikit cahaya campuran) mengingatkan kita pada sisi kebatinan terhadap alam semesta.

Warna hitam merepresentasikan tentang waktu, dan putih menghadirkan hal-hal yang logis. Dengan pencampuran hitam dan putih, kita akan memperoleh warna abu-abu yang pasif, suka berdiam dan merenung, mewakili ‘pemikiran dalam’ dan mereka yang mencintai kedamaian.

Buat Tian Mangzi, warna hijau merupakan jenis planet yang baru, dan harapannya ini merupakan planet yang ideal.

Melalui lukisan buah apel-nya itu, Tian Mangzi ingin menciptakan sebuah dunia yang sempurna. Barangkali utopia tidak mungkin tercapai. Jadi, pada saat ini, hanya mimpinya yang hadir dalam lukisannya.


[published in Michelle Chin, 16 Apel Tian Mangzi. Surabaya: Emmitan Fine Art Gallery, 2006. ISBN 981-05-6976-9]