Percakapan dengan Yunizar
Yogyakarta, 21 September 2006

 

M: Michelle Chin
Y: Yunizar

M: Yang pertama Michelle mau tanya pengalaman waktu sekolah di Padang, dan bagaimana sampai mengambil keputusan untuk masuk di ISI Jogja.

Y: Pada tahun ’92, saya datang ke Jogja memang ingin menjadi pelukis, walaupun di Padang saya sudah merasa bisa menggambar, tapi nyampai sini sudah tidak ada apa-apanya, tau-tau sini banyak yang pintar.

M: Maksudnya, antara siswa-siswa atau guru-guru atau seniman-seniman di Jogja ini?

Y: Di Jogja banyak sekali, di Padang jumlahnya sedikit. Tapi, saya datang ke Jogja untuk menjadi pelukis. Saya belum tau apa-apa, seni lukis mungkin saya lihat Basuki, Dullah atau siapa yang realis-realis. Ya mungkin saya belum bisa juga. Tapi, saya ingin belajar kayak gitu di sini.

M: Maksudnya yang realis?

Y: Saya tau lukisan emang itu. Nyampai sini ternyata lukisan macam-macam.

Setelah nyampai di ISI saya tidak diterima, tahun '93 baru diterima. Waktu itu lukisan realis dan surealis yang berkembang di Jogja. Saya kagum sekali, luar biasa, tapi akhirnya saya minder. Kalau harus begini lukisan saya belum punya kemampuan teknik, cuman selera saya ada di situ, tapi gak mampu untuk bikin.

Waktu semester muda baru masuk, soalnya saya sering melukis di luar. Tetap saya gak bisa gambar, yang saya inginkan gak bisa. Saya ini masuk dunia seni ini kebetulan saja mungkin, saya mikir begitu kebetulan bukan karena bakat atau apa-apa. Saya gak punya apa-apa. Akhirnya saya menyerah begitu saya gak punya apa-apa. Saya kira bukan dunia saya, apa saya harus berhenti sekolah? Saya pikir begitu dulu. Di semester 2 atau semester 3 mau berhenti sekolah. Saya mikir kalau berhenti kasihan sama ibu/bapak. Mereka udah bangga saya sekolah di Jawa. Kalau orang Sumatra sekolah di Jawa bagus sekali. Kasihan juga nanti bapak saya kecewa. Udah, sekolah aja.

Seandainya saya gak dimasukkan kelompok Jendela, belum tentu juga saya aktif dilukis, mungkin saya pulang ke Padang atau gimana. Saya kira saya dapat teman yang baik, ketemu teman yang cocok, untuk bekerja berkesenian pas. Saya kira bersama anggota kelompok Jendela itu ada dukungan moralnya. Nasib yang baik ketemu yang cocok. . .

M: yang senada, sejiwa. . .

Y: Satu selera, rata-rata kelompok Jendela banyak mendekati selera. Seandainya dulu saya gak diajak temen-temen dalam kelompok mungkin. . .

M: bisa pulang kampung ya. . .

Y: Ya, bisa. Masuk kelompok Jendela saya kira cukup membentuk saya. Bagus kalau kelompok itu ada suasana kompetisi. Ya, seandainya tampil dengan kelompok biasanya setiap orang itu yang terbaik. Bagusnya itu.

M: Selama semester-semester awal di ISI ada banyak tantangan?

Y: Ya, saya lihat mahasiswa yang bingung lukis. Saya juga. Itu tidak cuman kayak kamu diketok sama batu. Gak lama-lama sekolah selera saya berubah, yang saya anggap dulu bagus, realis, saya gak senang lagi. Saya sering lihat buku di perpustakaan. Cézanne, dulu saya lihat awal-awal lukisan kok terkenal sekali, tapi gak apa-apa. Berapa semester saya lihat lagi mulai terasa Cézanne memang bagus, kan terasa, still life atau botol aja, dan saya banyak bikin begitu. Saya terinspirasi dari sana. Cézanne dengan satu apel saja bisa bikin lukisan bagus, sederhana sekali. Apel atau gelas bisa bagus. Selera saya mulai terasa begitu, ini bagus. Dulu saya menggambar jelek, stelah itu mulai bagus. Sampai seterusnya coretan saya. Saya sampai kadang-kadang seperti terkena virus gitu, kok lihat gini bagus?

M: Maksudmu, obyek apapun di sekitar?

Y: Ya, sekitar. Kayak gini bagus sekali. [sambil menunjukkan objek-objek sekitarnya]. Kadangkala saya merasa apakah sudah rusak pikiran saya, kok mengatakan ini bagus? Jadi selera saya bergeser seperti yang saya kagumi dulu saya gak senang lagi, cuma saya takjub, objeknya bagus tapi selera saya untuk itu gak bisa lagi, saya tak tertarik lagi. Ya, pergeserannya begitu.

M: Jadi apakah itu boleh dibilang semacam "studi" menikmati keindahan bentuk yang sederhana?

Y: Ya, saya merasa saya bangga sekali dengan apa yang saya rasakan, buat saya ada kelebihan dari orang lain. Orang bisa cuman menikmati keindahan yang biasa. Ah, saya yang lain juga bisa, bisa lihat. . . .

M: pot bunga? [sambil menunjukkan pot bunga yang terletak di halaman depan Yun]

Y: Ya, pot bunga atau apa yang terdekat saya bisa menikmati itu, saya itu merasa punya kelebihan.

M: Ada penemuan gitu ya?

Y: Ya, menarik juga permainan pikiran. Semua itu permainan pikiran. Keindahan saya kira permainan pikiran. Saya kira seandainya pikiran seseorang gak bisa dimainkan dikit atau pikiran dibelokkan dikit itu tidak akan bisa menikmati. Saya seolah-olah dapat permainan baru, saya gak harus wisata ke mana, ke pantai atau ke gunung atau ke mana, saya kira gak harus ke sana lagi.

M: Ya, untuk mencari landscape, udah banyak objek di sini.

Y: Banyak di sekitar rumah saja seandainya pikiran kita sesuai dengan kebutuhan kita.

M: Dan waktu itu masih kuliah ya? Dosen-dosen bisa menerima itu?

Y: Pada waktu itu belum pernah saya terapkan dalam lukisan. Saya gak tau teknik memvisualkan dalam lukisan. Saya coba tapi belum memuaskan hasilnya, lagian belajar lukis ada tahapanya, ada tingkatan, lukisan satu cat air, dua akrilik, macam-macam. Tapi saya coba-coba di rumah, di luar tugas saya coba tapi saya malu, tetap malu dilihatin orang teman-teman. Kelompok Jendela itu teman sepermainan tapi gak pernah mereka lihat. Saya masih malu lihatin lukisan saya. Saya gak mau ikut pameran, yang lain bawa lukisan seleksi gitu. Waktu seleksi, saya lihat terus. Saya kadang mikir lukisan kayak gini dia berani bawa, saya kira lukisan saya bagus dari itu tapi saya gak berani bawa lukisan itu, gak usahlah, saya gak mau ikut. Akhirnya sampai lukis empat bebas, terserah kamu mau bikin apa, baru saya coba-coba bermain warna hitam saja, padahal lukisan orang di Jogja gak ada yang begitu, tapi bukan saya mengatakan saya yang terbaru. Bukan.

Nyampai lukis empat itu dikasih kebebasan lukis apa saja. Itu saya coba gitu. Angkatan '93 kan banyak, angkatan lukis ada 50 orang, temen-temen gak pernah bisa nikmati, saya kira gak ada, gak bisa. “Ini kamu gambar apa ini? kok kamu gambar gini?” Dulu waktu kuliah kami dituntut untuk menceritakan apa kisahnya, kenapa kamu gambar gini. Saya gak bisa komentar apa-apa. Paling saya jawab, saya senang bikin ini. Itu aja, tapi saya gak tau saya gambar apa, saya gak bisa ceritakan.

Tapi setelah dapat lukis bebas di kampus saya percaya diri sendiri karena sudah lukis bebas, tugas kampus dimulai bawa ke kampus itu. Saya kira itu yang bikin saya mulai agak percaya diri, harus terpaksa dilihatin ke orang. Saya mulai percaya diri walaupun orang gak pernah memuji saya. Gak pernah orang mengatakan lukisanku bagus tapi saya yakin dengan selera saya sendiri, bahwa saya bikin yang bagus.

M: Iya, berarti barangkali di lukis empat, lukis bebas, kamu juga jadi bebas dan mulai percaya diri.

Y: Ya, tapi saya gak punya konsep macam-macam. Dosen pernah nuntut: "Kamu harus cerita apa yang kamu lukis." Karena saya sendiri gak mau ngomong. Kalau teman yang lain cerita lukisannya saya merasa mereka ini bohong semua. Lukisan gini kok cerita banyak sekali?

M: Sampai tamat? Skripsimu gimana? Biasanya harus menguraikan konsep karya gak?

Y: Sampai tamat, saya gak bisa pernah cerita sama dosen saya gambar ini karena ini. Skripsi itu saya kutip dari buku. Saya kira menyesuaikan saja, saya juga gak mampu untuk menulis yang begitu. Saya lihat dibuku kutip sana kutip sini, dan untuk uraian konsep karya itu pun Mikke nolong nulis.

M: Terus untuk TA lukisanmu seperti apa?

Y: Lukisan-lukisanku tetap ya. Yang saya bawa ke Bali [untuk pameran di Bali Padma Hotel] karya TA.

M: Berarti di kampus sudah bisa menerima?

Y: Udah bisa. Dosen bisa menerima tanpa komentar apa-apa. Saya rasa begitu. Saya tidak bisa mengatakan itu jelek gak bisa, mengatakan itu bagus juga gak bisa. Kelihatan dia terpaksa menerima apa saja itu tanpa punya komentar macam-macam.

M: Terus setelah tamat?

Y: Sampai sekarang saya gak mau menceritakan lukisan saya. Seandainya saya cerita banyak bohongnya nanti.

M: Ya, biar kasih lukisannya yang bicara.

Y: Lagian lukisan saya gak ada cerita apa-apa. Keindahan. Keindahan dalam bentuk. Indah menurut saya belum tentu indah menurut orang lain, tapi saya yakin yang saya bikin ini bagus. Gitu aja saya kira, gak ada karena latar belakang ini atau itu, orang sering cerita gitu, “Saya gini-gini. . .”

M: Seringkali ada seniman yang omongannya banyak namun produknya, hasilnya. . .

Y: gak ada nyambung, jadi jual cerita aja, jual omong saja.

M: Marjorie Chu di Art Forum, Singapore, sering bilang, "Art is not for talking, art is for looking” (seni rupa itu bukan untuk diskusi , seni rupa itu untuk dilihat). Kita harus melihat kan? Kita sering dapat undangan untuk diskusi atau seminar, dan gak mau hadir untuk mendengar dan omong-omong berjam-jam. Kita sebenarnya mau melihat.

Y: Pada lukis enam itu dosennya Agus Kamal sama Sudarisman bertanya, “Udah beberapa semester kamu saya biarin diam. Sekarang kamu harus ngomong.” Susah saya, udah saya gak mau ngomong konsep atau apa, saya gak tau itu. Apa itu konsep saya gak tau, apa itu cerita lukis pun saya gak tau. Tapi saya cerita tentang seni, seni itu cuman keindahan, indah. Saya kira lukisan saya sudah masuk dalam seni. Saya kira itu sudah indah, saya cerita itu saja. Nanti saya cerita sama dosen itu, kalau Bapak menuntut saya, nanti saya membohongi saja. Saya gak mau bohong! Mereka ketawa, tapi mereka ketawa seperti mereka ngerti yang saya pikir itu.

M: Ya, ya, pasti, karena sudah jujur.

Y: Akhirnya waktu saya dituntut ngomong terus, mengkritik teman atau apa, saya bisa mengatakan bahwa saya gak butuh cerita lukisan teman, saya bisa lihat lukisan tanpa orangnya, gak apa-apa. Saya gak butuh orang cerita-cerita lukisannya.

M: Ya, setuju

Y: Menurut saya lukisan itu berdiri sendiri, gak ada embel-embel sama orang lain, sama pelukis, gak usah kita mengatakan lukisan kita bagus atau ini atau itu. Saya kira gak harus.

M: Itu nanti menurut kita kan.

Y: Ya, saya sependapat itu, jadi saya kesulitan seandainya kadang-kadang orang minta tulis sedikit konsep, walaupun setiap seniman mungkin terinspirasi atau punya selera, ya seperti kalau orang luar mungkin Cy Twombly atau Anselm Kiefer atau Cézanne saya senang sekali. Saya ngaku sekali Cézanne itu pinter.

M: Saya mau tanya sedikit tentang coretan-coretan teksnya. Pada karya-karya Yun sering kelihatan huruf-huruf, tapi entah gak bisa bacanya. Coba ceritain tentang lukisan-lukisan dan tulisan itu. Waktu kamu bikin teks itu kamu sadar atau tidak sadar?

Y: Ya, seperti itu, gak bisa dibaca. Saya sadar estetika-nya saja, saya menempatkan ini, saya kira bagus gak? Bukan keindahan garis aja, mungkin sejenis komposisi. Kalau garis saya juga sadar bikin garis. Sesadar-sadarnya mungkin. [Yun bergerak sambil duduk di kursi, seolah sedang melukis] Saya gini ini mungkin bagus, harus saya begini, ini.

M: Bentuk-bentuknya?

Y: Ya, saya harus bikin gini, kasih ini dikit kan bagus, mungkin ada sedikit coretan itu. [Yun terus bergerak sambil duduk di kursi, seolah sedang melukis sebuah kanvas] Memang saya sadari sekali.

M: Mungkin untuk jadi sebuah elemen?

Y: Ya, elemen saja tanpa punya makna apa-apa. Saya kira tepatnya permainan estetika. Udah lama saya coba itu. Dulu saya pernah bikin tahun ’97.

M: Kalau Yun melukis landscape, saya lihat bahwa sering ada gerak dan ritme yang “indah”. Untuk saya "indah". Apakah itu seperti terinspirasi oleh rumput yang ditiup-tiup angin atau apa?  Ada pikiran apa dalam otak Yun sewaktu melukis landscape?

Y: Mungkin dari lukisan orang, mungkin detail dari lukisan orang, mungkin sebagian kecil daripada sebuah lukisan, saya jadiin satu lukisan full itu. Mungkin mirip sama spirit sketsa Van Gogh, saya lihat ini bagus dijadiin satu lukisan, diperbesar.

M: Ya, seperti kalau dengan komputer kita sering pakai Photoshop untuk memperbesar satu bagian kecil, tapi kamu bisa menggarap sendiri dengan melihat saja sesuatu di sekitar.

Y: Saya "mengutip" lukisan orang apa aja yang saya senangi. Saya berusaha untuk gak mengambil dari siapa atau apa.

M: Jadi kamu melukis dari ingatan, bukan foto atau buku?

Y: Lagian banyak landscape itu mungkin di dalam pemikiran saya. Tidak ada buku di depan.

M: Bisa terjadi salah juga, salah "kutip". Seingat Yun sebagian kecil diperbesar, dari sebuah lukisan yang pernah dilihat dulu dan diingat lagi.

Y: Saya jujur aja. Saya kira saya punya modal selera. Modal saya bukan hanya modal teknik, tapi modal selera. Saya sadar ini, saya punya selera: ini bagus diangkat, dipindahkan kesini lebih bagus lagi. [maksudnya Yun merubah dan meralat apa yang dia ingat tentang lukisan-lukisan tertentu] Saya kira ini teknik pengemasan, sebuah karya "dikemas".

M: Selera dan cara melihat, ya.

Y: Saya juga mungkin melukis figur, saya punya emosi sendiri ke sana. Saya berusaha sekehendak tanpa punya batasan. Saya kira punya deformasi figur yang lain daripada yang lain. Warna yang khas juga. Ya, indah, kotor, apa saja saya kira itu indah sekali. Teoritik apa itu keindahan, ya keindahan luas sekali. Tiap orang punya anu sendiri, tingkat keindahannya macam-macam.

M: Ya, apa yang saya anggap indah bagi orang lain dianggap jelek, ya  memang begitu.

Y: Apa lagi udah mulai direspon orang, orang sudah mulai sedikit-sedikit, seperti orang beli aja udah berupa respon. Gak mungkin orang mengeluarkan uang dengan jumlah besar beli lukisan saya kayak gini, saya kira itu salah satu pengakuan dari orang lain juga bagus, layak dibeli. Saya kira itu motivasi untuk saya. Saya senang lukisan saya dibeli.

M: Ya, saya kira semua seniman senang!

Y: Ya, semua orang senang, tapi ke orang lain gak berani ngomong.

M: Ya setuju. Banyak seniman bilang, “Saya tidak peduli dengan uang, beli atau tidak beli.” Saya kira mereka bohong. Semua orang butuh uang untuk hidup,  semua orang punya pengeluaran untuk ongkos hidup.

Y: Bohong sekali. Tapi, saya dengan bangganya mengatakan saya senang lukisan saya dibeli orang. Saya tidak malu-malu jual lukisan. Saya dalam melukis ini puas, saya melukis terus hidup dari lukisan itu kepuasan saya. Saya kalau dapat melukis saja, tidak usah kerja lain. Saya bisa cari uang untuk makan, anak atau apa.

M: Ya, itu kan kepuasan. Bisa kerjakan apa yang betul-betul kamu ingin kerjakan. Semua orang akan lebih senang begitu daripada harus kerja yang lain.

Y:  Saya sudah puas sekali. Saya juga bisa pergi ke Singapura atau ke mana dengan bermodalkan saya melukis itu. Luar biasa sekali saya bisa menikmati negeri orang lain cuman karena saya bisa melukis. . . . . lukisan juga kayak gini! Saya kira saya udah dapat anugerah yang besar sekali. Seandainya saya kerja kantoran belum bisa, belum tentu. Puas sekali dengan profesi lukis, saya puas. Sampai saat sekarang puas.

Tapi kadang-kadang yang jadi masalah, “Ini apa maknanya? Apa artinya?” Itu agak menggangu saya. Susah sekali mengatakan artinya apa. . . .

M: Tapi Yun gak harus pusing tentang itu. Kalau Yun sudah kasih judul pada lukisan, itu semacam kunci untuk orang berpikir. Walaupun judulnya “Coretan Rasa” misalnya, orang harus mulai pakai otak untuk mengerti makna lukisan itu menurut mereka karena kamu udah menyerahkan kepada orang lain yang harus berusaha mengerti. Bukan kita harus duduk manis sambil bertanya, “apa artinya ini? apa artinya itu?” Itu terlalu gampang. Tapi aku kira bahwa lukisan-lukisan tanpa judul itu memang lebih susah untuk penonton, tapi minimal kalau pelukis atau seniman kasih judul itu sudah sebuah pancingan. . . .

Y: Pancingan atau jembatan menuju ke sana. Saya kira itu.

M: Nanti kalau orangnya tidak bisa lewat jembatan itu, itu berarti kekurangan kami.

Y: Ya, ya, saya kira itu, ya.

[published in Michelle Chin, Coretan Rasa Yunizar. Surabaya: Emmitan Fine Art Gallery, 2006. ISBN 981-05-6975-0]