MENUJU KEHIDUPAN YANG SEPENUH-PENUHNYA
oleh Michelle Chin

Earl Lu meyakini untuk mencapai kehidupan yang sepenuh-penuhnya, seseorang butuh menyeimbangkan hubungan antara intelektualitas, indra, dan emosi.

Ilmu pengetahuan dan filsafat merupakan dua bidang yang mendominasi kegiatan berpikir Earl Lu. Dia pernah menjadi seorang ahli bedah dalam jangka waktu panjang, dan ia juga pernah bekerja sebagai penguji luar biasa untuk bidang anatomi dan fisiologi di Singapura. Para filsuf kesukaannya, adalah Plato, Bertrand Russell, Soren Kierkegaard, dan Martin Buber. Serta penyair kesukaannya, adalah Rabindranath Tagore, T.S. Eliot, dan Dylan Thomas. Earl Lu, adalah seorang yang sangat gemar membaca walaupun dia juga selalu menekankan, bahwa dengan banyak membaca saja tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan harus saling berhubungan atau dalam bahasa Lu, “Tidak baik menjadi tempat sampah kertas-kertas.” Teorinya yang mendukung hal ini tersirat dalam pernyataannya sebagai berikut:

“Ketika aku masih kecil, ibuku berkata bahwa aku bodoh. Dia tidak salah. Jika aku tidak dapat menghubungkan ilmu pengetahuanku, maka aku tidak akan mengingatnya. Jika ibuku bertanya apa yang aku makan untuk sarapanku, dan aku tidak mendapat petunjuk, maka, aku tidak akan pernah dapat menjawabnya. Hal yang sama pun kualami ketika aku belajar bahasa Cina. Saya menghadapi begitu banyak kesulitan karena guru-guru saya tidak tahu bagaimana caranya mengajar yang baik. Mereka tidak berkata, “Radikal ini berarti sayuran, atau, ini adalah besi – hanya itu yang perlu seorang guru sampaikan pada seorang anak kecil. Sepanjang memberi pelajaran ketika saya mengajar anatomi, saya menyadari mengapa saya mengalami begitu banyak kesulitan karena saya mempelajarinya bagian demi bagian seperti halnya puisi – dan itu salah. Apa yang harus kita sadari dalam belajar adalah hubungan antar segala hal. Jika saya belajar tentang tulang, maka saya harus belajar tentang otot, pembuluh darah arteri, urat saraf, limpa, tendon, dan jika saya belajar tentang otot, saya harus belajar tentang tulang dan pembuluh darah, urat saraf, limpa, dan tendon. Jadi, jawabannya mudah, yaitu bacalah buku secara keseluruhan, jangan bagian per bagian. Ketika engkau menyelesaikan buku itu, secara tiba-tiba engkau akan menyadari bahwa engkau telah mengulangi hal yang sama sebanyak sepuluh kali, dalam cara yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda.”

Dengan ilmu kedokteran dan filsafat yang dipelajarinya, Earl Lu mampu menjelaskan pertanyaan besar tentang kehidupan;
“Saya sangat peduli tentang perkembangan evolusi umat manusia. Apa tujuan hidup? Tidak ada tujuan hidup. Ketika pertama kali saya melihat apa yang ada di bawah mikroskop, dalam setetes air di sana ada peperangan yang hebat yang terus berlangsung, para mikroorganisme saling memakan, yang kuat memakan yang lemah. Kita pun tidak ada bedanya. Dalam alam semesta, apa yang terjadi? Anda dapat menghitung populasi singa dan harimau melalui populasi kerbau – sejumlah kerbau akan dimakan oleh harimau dan singa. Jika populasi kerbau terus menurun, populasi singa dan harimau akan ikut menurun. Kita, manusia, saat ini masih berada di puncak teratas dari rantai makanan, tetapi jika kita masuk dalam hutan rimba, singa mungkin menduduki tempat teratas atau beberapa jenis kuman atau beberapa jenis cacing yang mampu memakanmu hidup-hidup. Kita, manusia, kerap berpikir bahwa kita adalah makhluk individual tetapi sesungguhnya kita masuk dalam sistem ekologis. Mengapa kita dapat membunuh sesama kita di meja operasi? Karena di dalam tubuh kita terdapat organisme-organisme yang berbahaya yang mampu melakukan hal-hal yang berbahaya ketika dibuka.”

Saya tidak yakin bahwa ada sebuah tujuan yang dituju dalam kehidupan. Tetapi Anda harus menemukan tujuan hidupmu. Buatlah sebuah tujuan.

Ketika saya membaca tulisan Bhagavad Gita, saya sungguh terkesan dengan apa yang dikatakan Krisna pada Arjuna dalam sebuah peperangan. Arjuna berkata, “Orang-orang yang melawanku saat ini, dahulu adalah orang-orang yang kucintai dan kukagumi. Apa yang harus kulakuan?” Dan Krisna menjawab, “Kamu harus berperang dengan sebaik-baiknya, semampu yang terbaik dari dirimu. Kalah atau menang bukanlah yang paling penting.”

Saya pikir inilah nasehat yang paling bijaksana yang pernah saya ketahui tentang kehidupan. “Lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan, dan biarkan takdir menentukan hasilnya.”

Pemahamannya tentang anatomi mempengaruhi Lu dalam lukisan-lukisannya tentang wanita:
“Bentuk tubuh seorang wanita secara mendasar berbeda dengan seorang pria karena tubuh wanita dipersiapkan untuk mengandung seorang anak. Oleh karena itu rongga pinggul mereka lebih lebar, payudara mereka untuk menyusui bayi. Ada timbunan lemak yang lebih banyak untuk persiapan karena ketika mereka mengandung, mereka harus memberi makan kepada sang janin dengan baik sepanjang proses kehamilan. Sedangkan seorang pria pada dasarnya adalah seorang pemburu. Dalam evolusi, jika seorang pria tidak dapat berburu, maka keluarganya akan kelaparan, atau dia menjadi seorang petani. Seorang pria adalah seorang pemburu dan seorang pelindung dan seorang pejuang.

Saya sangat mengagumi aspek-aspek kewanitaan karena wanita membawa anak dan memberinya makan. Saya berpikir bahwa kita semua mewarisi kekaguman yang khusus kepada wanita, sama halnya dengan kebutuhan evolusi tersebut. Dalam sebuah dunia dimana beraneka ragam binatang saling berkompetisi untuk bertahan, maka aspek kemenangan merupakan aspek penting. Para pria adalah pemburu, pejuang, pelindung, dan wanita melahirkan penerus bagi para pejuang ini.”

Indra (senses) memungkinkan kita untuk menikmati semua hal yang indah dalam kehidupan, misalnya makanan dan minuman (melalui indra perasa), bunga (melihat), parfum (mencium), musik (mendengar), kasih sayang (sentuhan).

Estetika Rasa adalah penting untuk mencapai kebahagiaan penuh atas kehidupan. Setelah mengunjungi India beberapa kali, Earl Lu menyadari bahwa, “Ada kelengkapan di sana, di dalam kebudayaan dan tradisi India. Pencapaian artistik tanpa butuh mencari hal-hal di luar untuk kebutuhan inspirasi mereka, karena mereka memiliki alamnya sendiri, masyarakatnya, tradisinya, sejarahnya, mitos dan legendanya sendiri.”

Kenikmatan sensual dikombinasikan dengan pemahaman intelektual menghasilkan apresiasi yang besar akan hal-hal yang berbudi luhur dalam kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah artikel surat kabar di Singapura, “The International Wine and Food Society of Singapore merupakan kelompok gastronomic tertua di dunia. Pada website-nya kelompok tersebut menyatakan bahwa obyektivitas kelompok mereka adalah “untuk bersama-sama membawa dan melayani mereka yang percaya akan adanya pemahaman yang benar atas makanan yang baik dan anggur yang baik, dimana anggur dan makanan tersebut merupakan bagian yang esensial dari kehidupan dan kesehatan seseorang, dan ada pola pendekatan yang cerdas terhadap masalah kepuasan dan masalah apa yang ditawarkan oleh meja makan melebihi hal-hal yang hanya bersifat memuaskan rasa lapar” (Business Times, Singapura, 23 Juli 2005).

Seseorang seharusnya tidak mengejar kenikmatan sensual hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Demikian halnya tidak ada ‘nilai’ jika orang tersebut tidak memilki pengertian akan estetika dan selera akan hal-hal yang berbudi halus. Confucius pernah berkata: “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang tidak makan atau tidak minum, tetapi hanya sedikit yang sungguh-sungguh memiliki cita rasa.”

Tentang emosi, Earl Lu menekankan bahwa hal penting dari bagian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas (atau agama) dan etika. Dia berkata, “Bagaimana kita bersikap terhadap sesama tidak ditentukan oleh hukum saja. Hukum hanya bicara sedikit tentang bagaimana penerimaan kepribadian, tetapi etika melampaui itu semua.  Etika dan agama dapat dipisahkan; dasar dari sumpah Hippocraties diambil oleh para dokter untuk mengobservasi sebuah kode kepribadian yang profesional tidak terikat dengan suatu agama tertentu.”

Earl Lu menghabiskan beberapa waktu di India selama Perang Dunia II. Dia bersekolah di Simla pada usia 17 tahun dan mengakui bahwa secara spiritual ia dipengaruhi oleh kepercayaan India. Lu sangat mengagumi agama Hindu dan dia membaca Bhagavad Gita, teks-teks Hindu, biografi Gandhi, Nehru. Dia menggambarkan pengalamannya di India sebagai berikut:
“Ketika saya masih remaja, saya menghabiskan setahun di India sebagai seorang pengungsi perang.  Ibu saya, dua orang saudara perempuan saya, dan saya sendiri berangkat kesana dengan perahu, dua minggu sebelum Singapura kalah. Pada waktu itu saya dalam masa pertumbuhan dan rasa ingin tahu saya begitu besar akan segala hal, saya pikir India adalah suatu hal penting dalam perkembangan pribadi saya, India merupakan negara yang paling spiritual dibandingkan dengan negara manapun yang pernah saya kunjungi.

Ada sebuah kisah yang sangat berkesan bagi saya ketika masih di India sebagai seorang pelajar yang sedang mengerjakan tugas untuk tingkat O. Saya mengunjungi rumah seorang teman dan pada saat itu juga ada seorang lain yang datang dan mengunjungi rumah teman saya. Dia berpakaian dengan pakaian yang sangat buruk, namun memberi kesan seorang pandita. Teman saya bersikap sangat sopan, mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Kemudian teman saya masuk ke dalam rumah dan ketika keluar, ia membawa sedikit makanan dalam sebuah kaleng dan memberikannya pada tamu itu. Karena begitu hormat dan sopan satu dengan yang lain, saya bertanya pada teman saya, “Apakah dia teman baikmu?” dan dia menjawab, “Bukan. Dia seorang pengemis, aku hanya memberinya sedikit makanan.” Kejadian itu mengajarkanku sebuah pelajaran penting, yaitu jangan hanya karena ia seorang pengemis lalu kita bersikap kasar padanya.”

Dari pengalaman ini, Earl Lu memutuskan selama hidupnya ia ingin memperlakukan setiap orang sebagai manusia. Keputusannya untuk memperlakukan orang lain sejajar dengan dirinya, mengingatkan kita pada satu bagian penting dalam teks Confucian The Doctrine of the Mean, salah satu dari Four Books, bagian dari norma-norma Confucian yang menurut sejarah ditulis oleh cucu Confucius, Kong Ji. Seperti halnya Great Learning, hal ini juga merupakan bagian dari The Records of Rites:

“Maka, yang disebut sebagai Manusia Superior (Superior Man) adalah manusia yang memperlakukan sesamanya seperti dirinya sendiri, dan, ketika mereka mengkritik diri (dalam arti positif), mereka mau berubah. Menjadi tulus hati dan adil dalam segala hal, walaupun ini berbeda dari ajaran Dao (The Way), tidak akan jauh dari manusia yang memiliki sifat tersebut.  Hal ini menyatakan bahwa, ‘jangan melakukan sesuatu pada orang lain yang tidak ingin kamu alami’.”

Ada empat cara umum yang ditempuh untuk menjadi Superior Man:

  1. Aku memperlakukan ayahku seperti apa yang aku ingin anakku perlakukan atasku.
  2. Aku memperlakukan bawahanku seperti perlakuan yang kuharapkan dari majikanku.
  3. Aku memperlakukan saudaraku yang lebih tua seperti perlakuan yang kuharapkan dari saudaraku yang lebih muda.
  4. Aku memperlakukan sahabatku seperti perlakuan yang kuharapkan dari sahabatku.”

Earl Lu juga menyatakan, bahwa seseorang belajar arti spiritualitas dalam kesunyian (silence) atau refleksi diri.  Dalam kesunyian yang utuh, ada disuasana dan alam yang indah, tidak membuat kita ingin berbicara atau berpikir, melupakan segala perselisihan dan untuk suatu tujuan yang menuju kepada sesuatu dan spiritualitas itu masuk.

Teknik Lukisan Earl Lu

Earl Lu lahir di dalam sebuah keluarga yang mencintai seni. Kakeknya adalah seorang kolektor seni dan pelukis yang amatir. Ayahnya seorang kolektor lukisan-lukisan dan keramik Cina, dan Asia Tenggara. Sebagian besar koleksinya disumbangkan ke beberapa institusi di Singapura termasuk Asian Civilisations Museum, dan National University of Singapore Museums. Earl Lu Gallery at Lasalle-SIA College of the Arts merupakan penghormatan padanya, karena ia telah menyumbangkan koleksi seni rupa tentang Asia Tenggara di sekolah tersebut.

Ketika saya bertanya pada Dr. Lu, kapan dia mulai melukis (mengapa?), dia menjawab, “Kehidupan saya penuh dengan keberuntungan. Dengan berbagai cara para dewa menyukai saya.” Ayah Earl Lu memiliki seorang teman baik yang berprofesi sebagai seniman, guru dan pembuat perabotan. Dia merekomendasikan seorang seniman kelahiran Cina yang tinggal di Singapura, Chen Wen Hsi, untuk menjadi guru lukis Earl Lu. Earl Lu belajar tentang memadu padankan warna dari Chen Wen Hsi. Penerapan garis-garis tinta yang kemudian diikuti dengan perpaduan warna yang tepat seperti ungu dan kuning, atau biru dan orange, merupakan pelajaran pertama Earl Lu. Salah satu aspek penting lain yang dipelajari oleh Lu ialah, bahwa sebuah lukisan membutuhkan tiga kualitas penting, yaitu menjadi ‘berat/besar,’ luas sekali dan eksentrik.

Earl Lu mengapresiasikan bahwa Chen Wen Hsi melukis ikan dari kehidupan. “Dia (Chen Wen Hsi) mempunyai akuarium ikan di rumahnya. Dia juga memiliki banyak tanaman bunga, memelihara ayam dan siamang yang ditaruh di kandang, dimana ia melukis mereka langsung. Saya mendapat ide melukis dari kehidupan dari Chen Wen Hsi, dan saya belajar bagaimana caranya dia memegang kuas pada bagian ujung, dimana bagian ini memberi ayunan yang luas dari jari ke siku kemudian ke bahu dan turun ke kaki. Saya juga belajar bagaimana menggunakan permukaan kuas dan cara-cara yang berbeda untuk menyentuh kertas, menggerakkan kuas itu secara berliku-liku dan penuh gerakan.”

Gaya lukisan Lu menyatakan bahwa ketika dia melukis di atas rice paper, pertama-tama ia menekankan garis, kemudian latar belakang (background) dan warna, kemudian garis lagi. Dalam komposisi lukisannya, Earl Lu berpikir tentang meletakkan obyek lukisannya dan mencoba untuk menghindari regularitas. Dia sangat berhati-hati akan kebutuhan untuk mengkontraskan warna dan bentuk. Distribusi berat dalam karnyanya juga penting; dia berpikir tentang dimana ia harus memberi titik berat atau titik ringan dari sebuah obyek. Di atas segalanya, Lu sangat peduli akan gerakan dan bentuk. Dia selalu mencari bentuk atau pola yang mampu membuat sebuah lukisan menjadi indah. Pola apa yang paling dominan yang membuat mata manusia puas?
Earl Lu berujar bahwa perlu jangka waktu yang lama untuk seorang seniman mengetahui apa yang sungguh-sungguh ia inginkan. Dia berkata bahwa seseorang mulai ‘dari tidak mirip’, kemudian masuk dalam tingkatan ‘mirip’ dan pada tingkat akhir kembali ke ‘tidak mirip’.  Fokus Earl Lu saat ini adalah mencari keluguan anak kecil, inilah cara anak kecil melukis. Dia berpikir bahwa dia masih berada ditingkat sedang dari ‘meniru’  seperti dalam ungkapan atas lukisan bunga mawarnya. Menurutnya, lukisan mawar adalah tetap secara sadar, mawar. “Ketika aku membuat sketsa mawar, saya sadar bahwa saya sedang berada dalam tingkatan dimana saya sudah cukup akrab dengan hal ini, saya hanya dapat melihat pada mawar dan tidak melihat pada lukisan saya, dan apa yang saya lukis akan seperti mawar. Saya hanya menambah sedikit coretan untuk menyempurnakannya ketika melihatnya dengan seksama. Itulah yang akan saya lakukan terhadap seorang manusia, entah dia laki-laki atau perempuan. Untuk melatih diri dan bekerja dengan giat, pada setiap sketsa yang saya buat, saya berusaha membuatnya seakurat mungkin, tidak hanya akurat secara anatomi, tetapi juga akurat secara postur, sehingga ia tidak jatuh, keseimbangan itu indah.”

Namun lukisan landschap-nya, dilukis berdasarkan apa yang ada dalam imajinasinya. Sebagian besar lukisannya tentang alam terinspirasi oleh imajinasinya atau ‘realitas’ yang dilihatnya. Earl Lu berkata, “Para pelukis Cina lebih tertarik pada goresan kuas daripada realitas. Realitas hanyalah sebuah alasan untuk permainan tinta dan goresan kuas. Seperti yang dikatakan oleh seniman abad ke-17, Shi Dao, bahwa ‘Pada mulanya adalah guratan kuas’. Bukan pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi. Pada akhirnya sudut pandangmu melihat dunia itulah yang menarik perhatian orang lain, karena kesempurnaan sesuatu yang ditiru tidak akan pernah menyamai apa yang ditirunya. Hal yang penting adalah interpretasimu.”

Dalam beberapa karya lukisnya muncul sifat ‘ketidaksempurnaan dan kejanggalan’. Hal ini disebabkan oleh karena ia secara sadar dan dengan bebas mencoba untuk bergerak ke arah itu, daripada menjadi terlalu ‘rapi dan teratur’ dan terkontrol. Walaupun ia mengakui, orang-orang ingin melihat tindakan yang tidak diduga-duga dari seorang seniman, namun jika perbuatan itu berlebihan dapat menimbulkan kekacauan.

Earl Lu percaya bahwa hasrat (passion) dan ketaatan (devotion) adalah hal-hal yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah lukisan yang baik. Dan yang lebih penting lagi, hasrat tersebut haruslah tulus dan bersungguh-sungguh. Sekali lagi kita diingatkan atas sebuah bagian dari teks Confucius, The Doctrine of the Mean:

“Ketulusan adalah Jalan Surga.  Merasakan ketulusan adalah cara menjadi manusia. Jika engkau secara sempurna tulus tanpa mengharapkan sesuatu, tanpa memiliki pikiran untuk mendapatkan sesuatu dan berjalan dengan merangkum Jalan Tengah, maka engkau adalah seorang yang bijaksana.”

MELUKIS DARI KEHIDUPAN
Earl Lu melanjutkan usahanya untuk mencari pendekatan yang universal terhadap bidang lukis. Dia melukis segala hal, mulai dari kucing, sawah, orang-orang, bunga atau buah-buahan tergantung dimana dia berada saat itu. Dalam sebuah perjalanannya dengan seorang seniman ke Yunnan, Cina tahun 1998, Earl Lu berkomentar:

“Saya tidak rewel dengan apa yang saya sket. Saya membuat sketsa dari semua hal yang saya lihat, apakah itu sawah, petani, sapi, anjing, restauran, bahkan bus sekalipun. Saya memiliki beberapa koleksi sketsa yang indah tentang anak-anak Yunnan. Saya melihat para wanita di sana dengan keranjang penuh buah persik di belakangnya. Saya juga membuat sketsa tentang penjual buah persik.”

Walaupun demikian, Earl Lu juga menekankan, “Tidak ada satu pun dari sekian banyak sketsa yang saya buat di Yunnan yang saya kembangkan menjadi sebuah lukisan, karena saya tidak cukup tergerak secara emosional.” Melalui ungkapannya ini kita dapat mengambil kesimpulan, setelah membaca tiga hal penting pemahamannya akan membuat kehidupan menjadi hidup dan menuju hidup yang sepenuh-penuhnya, Lu menyadari pengalamannya di Yunnan tidak berarti bagi dia secara spiritual.

Jika, seperti yang dinyatakan oleh Earl Lu, bahwa hubungan antara indra dan emosi menghasilkan seni, kemudian mudahlah bagi kita untuk mengerti mengapa ia menemukan sesuatu yang membangkitkan semangatnya untuk melukis ketika dia berada di daerah pedesaan di India dan Bali:

“Bali sungguh menginspirasikanku: sungguh sebuah tempat yang indah. Apapun yang mereka dirikan dan mereka perbuat, selalu indah.  Orang-orang Bali tidak memisahkan antara yang fisik dan spiritual.”

Namun dari semua negara yang pernah dikunjunginya, Earl Lu menetapkan bahwa India lah tempat yang paling tepat untuk melihat kombinasi dari indra dan emosi:

“Di India, kamu bisa melihat suatu lukisan dimana-mana. Alasan utamanya adalah warna pakaian wanita India yang sungguh hidup, bintik merah di dahi mereka, perhiasan emas di hidung mereka dan anting-anting yang berwarna-warni kontras dengan warna kulit mereka yang gelap. Ketika sekelompok pekerja berjalan menyeberangi sawah, sungguh pemandangan yang luar biasa. Dan mereka berjalan dengan lemah lembut, secara khusus karena mereka membawa sesuatu di atas kepala, dan jika kamu menggerakkan kepalamu maka benda-benda itu akan jatuh, jadi mereka harus berjalan menurut garis lurus gravitasi, hampir seperti model yang berjalan. Saya selalu bisa menemukan kekhasan kelemahlembutan mereka.”

Mungkin sekarang kita menemukan alasan mengapa Lu melukis. Sebagai seorang seniman, dia mampu untuk ‘hidup sepenuh-penuhnya’ melalui aktivitas melukis. Dengan menggunakan kemampuan intelektual dan teknik melukisnya, dia membuat keputusan yang disadarinya seperti bagaimana mengkomposisikan, kombinasi warna, gerakan dan bentuk. Pada waktu bersamaan, indra dan emosi dari hasratnya, ketaatannya, ketulusannya, semuanya dibangkitkan. Oleh karena itu intelektualitas, indra dan emosi, seluruhnya dilatih dalam satu aktivitas, yang mengizinkan Earl Lu menemukan hidup yang sepenuh-penuhnya, dalam aktivitas yang disebut melukis. Dia berkata, “Melukis adalah kesenangan yang sangat total.”

MERAYAKAN INDRA DAN SPIRITUAL
Bunga Mawar - Merayakan Kelimpahan
Pada awalnya Lu melukis ikan dan tumbuh-tumbuhan, tetapi ia ingin melukis bunga. Satu-satunya nama bunga yang diketahuinya adalah mawar, dan selama hampir 50 tahun ia melukis mawar. Namun dia juga melukis bunga iris, bunga bakung dan hydrangeas (sejenis semak belukar). Dalam karya-karya awalnya tentang mawar, Lu membiarkan background lukisannya kosong, seperti halnya lukisan-lukisan Cina klasik pada umumnya. Sekarang ia melukis background lukisannya seperti halnya lukisan-lukisan Eropa. Lukisan mawar awalnya menggunakan tinta hitam yang dilukis di atas rice paper. Sekarang Lu lebih sering melukis dengan menggunakan tinta dan pigmen. Dia mengatakan bahwa,  “Warna lukisan terlihat lebih modern.”
Dia pertama-tama melukis subyeknya dan kemudian menambahkan background-nya. Garis adalah hal yang terpenting – dia membuat garis terlebih dahulu, dan, kemudian backgroundnya, setelah itu pada bagian terakhir ia menggambar garis lagi. Terkadang bagian background ada yang menghapus beberapa garis yang telah dilukis sebelumnya. Atau dia menambahkan bayangan untuk memberi kesan mirip kaca dikeramik-keramik Cina. Duri-duri mawar yang ada ditangkai menyerupai titik yang dihasilkan dari teknik melukis dengan cara mengangkat kuas yang menghasilkan bagian akhir yang tajam: hal ini memberi hidup pada sebuah lukisan.

Kadang-kadang, ia melukis dengan guratan kuas yang lembut pada warna dasar, kemudian menambahkan garis yang memberikan tekanan seperti terlihat pada lukisan Ink and Orange Roses (2003) dimana Lu mulai dengan guratan kuas yang luas, kemudian diaplikasikan pada bagian background dan pada akhirnya dia menambahkan garis batas berwarna hitam. Dia sangat menyukai hal-hal yang kuat dia jadi meletakkan garis-garis batas hitam.

Pada umumnya, lukisan mawar Lu memberikan kesan akan kemewahan dan kelimpahan. Bunga-bunga itu sangat luar biasa dan vas merupakan keramik Cina yang antik dan indah. Bunga-bunga mekar dalam kelimpahan memberikan impresi akan kemewahan dalam sebuah rumah. Karena dilahirkan dari sebuah keluarga kaya, Earl Lu selalu menyenangi hal-hal yang berhubungang dengan kemewahan, luar biasa dan kelimpahan. Dia berkata, “Filosofi hidup saya adalah ‘kelimpahan yang melampaui ukuran emas’ (The Golden Mean). Saya pikir jika kamu mempraktekkan The Golden Mean saja, kamu hanya hidup dalam kesia-siaan, oleh karena itu kamu harus hidup melampaui itu.”

Apa maksud Lu dengan filosofi kehidupan ‘kelimpahan yang melampaui ukuran emas?’ The Golden Mean ialah rasional sekelompok angka yang tidak kira-kira 1.618, yang menyatakan banyak hal yang menarik. Bentuk, jika didefinisikan dengan pengertian ini, memiliki arti estetika yang sudah lama berakar dalam kebudayaan Barat, yang merefleksikan keseimbangan antara asimetri dengan simetri, dan kepercayaan mendasar Phytagoras yang menyatakan bahwa, realitas adalah angka, kecuali angka tidak dikelompokkan dalam suatu  unit  seperti yang kita ketahui saat ini, tetapi angka merupakan ekspresi rasio. The Golden Mean tetap digunakan secara teratur dalam seni dan desain. The Golden Mean juga merujuk kepada pemujaan rasio, bagian yang tertinggi, angka yang tertinggi, dan hal-hal yang luar biasa. Istilah lain ialah section divina.”

Ketika merespon pengertian The Golden Mean, Lu ingin melampaui itu semua. Seperti setangkai bunga, mawar itu sudah indah dan ia ingin membuatnya menjadi menarik tanpa membuatnya menjadi vulgar. Dia berkata, “Kami orang Cina sangat pusing dalam mencari cara untuk tidak vulgar, dan ada satu kata yang mewakili hal ini, yaitu kemurnian (clarity) atau dalam bahasa Cina, qing, yang mungkin bisa mewakili apa yang disebut suci, tidak vulgar dan berbudi halus.”

Dalam konteks pendekatan seni ala Earl Lu, kita dapat menggunakan contoh lukisannya yang berjudul Beyond The Golden Mean (2004). Lu menantang ‘proporsi-proporsi sakral’ dari alam dengan menambahkan garis-garis yang tidak natural. Dia menciptakan warna-warna yang tidak eksis di alam dan memberi kepekaan rasa yang kuat terhadap apa yang biasanya dikenal sebagai setangkai bunga yang bagus, dengan pemakaian warna emas. Dalam kasus ini seniman sedang bermain seolah-olah menjadi Tuhan, menyempurnakan apa yang dikira sudah ‘sempurna’.

Kecintaan Lu terhadap keramik Cina dinyatakan secara polos dalam lukisan-lukisannya tentang mawar. Mawar seringkali muncul dalam keindahan vas “Yuan” dan kadang-kadang vas tersebut berwarna ox-blood red, celadon dan green glazes. Tidak seluruh vas memang asli dari Dinasty Yuan berwarna biru dan putih: kadang-kadang Lu hanya ingin membuat sebuah desain baru yang mungkin belum pernah digunakan dalam keramik Cina.

Mawar-mawar Lu selalu dilukiskan dalam keadaan mekar seutuhnya. (Dalam arti yang kurang lebih sama, hal ini menunjukkan kecenderungannya akan model lukisannya yang hampir sebagian besar wanita berusia 30-40 tahun. Menurutnya, wanita pada usia ini telah mencapai kematangan sebagai wanita seutuhnya). Daun bunga dan daunnya dilukiskan mirip dengan bentuk daun ala Fu Bao Shi seperti kupu-kupu yang terbang: bentuk mata seperti buah almond, warna bibir seperti buah cherry dan alis mata yang tebal. Kadang-kadang sebuah vas keramik putih memuat mawar-mawar yang merepresentasikan ‘kilasan kecantikan’ seperti halnya yang terdapat pada wajah wanita.

Wanita - Merayakan Sensualitas dan spiritualitas

Earl Lu seringkali mengkombinasikan wanita dan mawar sebagai subject matter dalam lukisannya. Menurutnya hal ini sudah jelas menyatakan keindahan dan sensualitas mereka, yang memungkinkan Lu untuk menghasilkan sebuah karya seni sebagai akibat dari hubungan antara indra dan emosi ketika ia berhadapan dengan subyek tersebut.

“Saya tidak dapat membayangkan apakah ada seorang manusia, bahkan seniman sekalipun, yang mampu memisahkan antara karya seninya dengan kenyataan bahwa ia adalah makhluk yang memiliki hasrat seks terhadap orang lain dan ia menyadari bahwa orang lain di luar dirinya memiliki daya tarik seks terhadap dirinya. Dalam kasus seniman yang homoseksual, para model mereka pada umumnya adalah laki-laki, dan lukisan-lukisan mereka biasanya seputar pria dan dilukis dengan sangat indah. Beberapa seniman Eropa yang homoseksual pernah hidup di Bali, dan mereka pernah melukis pria-pria Bali dengan sangat indah. Hal yang sama juga terjadi pada seniman pria yang melukis seorang wanita. Dia tidak dapat memisahkan rasa tertariknya pada wanita tersebut, karena wanita itu sendiri sudah membawa daya tariknya sendiri dalam dirinya yang mampu mempengaruhi orang lain. Hal ini tidak mungkin dipisahkan. Saya yakin unsur daya tarik adalah unsur yang sangat penting.”

Lu mengatakan bahwa, “Anda harus mencintai tubuh manusia terlebih dahulu untuk menghasilkan sebuah lukisan yang baik. Anda harus sampai dibuatnya bergetar.”

Marjorie Chu, pengarang dari Understanding Contemporary Southeast Asian Art, menyatakan, “Earl Lu melukiskan payudara dalam cara yang benar-benar natural dan indah. Pada bagian tengah tubuh manusia, diantara keindahan wajah dan kaki, anda akan melihat garis-garis payudara yang sangat indah, dan anda akan ‘melihat’ bagaimana seorang Earl Lu sangat menikmati melukiskan garis-garis yang sensitif tersebut. Seringkali tanpa disadari efek dari lukisan nude Earl Lu pengikutsertaannya pada suatu waktu pameran lukisan nude-nya harus dihentikan karena tidak memiliki surat ijin sensor. Saya pikir masyarakat masih belum memiliki definisi yang cukup, tetapi hal tersebut memberikan Lu sebuah nilai lebih dan sebuah keberhasilan dalam karir Lu karena ia sesungguhnya telah mampu memproyeksikan secara sempurna sisi sensualitas tubuh manusia, keanggunan lukisan-lukisan nude-nya. Dalam seluruh kuliah yang diberikan, ia sering mendapat komentar, “Dr. Lu anda adalah seorang yang mempesona sekaligus seorang yang ‘nakal’.”

Earl Lu menjelaskan komentar tersebut sebagai berikut:
“Saya tidak tahu manakah sebuah keramik yang asli atau tidak. Saya seorang kolektor tetapi tidak pernah dapat secara penuh memiliki pengetahuan yang cukup untuk masalah berat, ketebalan, tekstur atau kehalusan dari permukaan keramik, karena saya seringkali melihatnya di museum. Tetapi ketika saya memeriksa seorang pasien kanker payudara, dengan hanya melihat, saya akan mengetahui mana yang mengalami tahap serius atau hanya sekedar tumor lunak, karena saya sudah memegang ribuan payudara.”

Terlepas dari kehidupan lukisannya, Lu seringkali membuat sketsa dan mengambar figur-figur ketika ia sedang berada di café dan pasar-pasar di Singapura ataupun ia sedang berjalan-jalan di luar negeri. Dia sangat merasa puas ketika ia mampu menggambar pose yang tercipta dari suasana yang tiba-tiba, misalnya ketika orang berjalan dengan separuh kakinya masih tertinggal di dalam sepatu, atau seseorang yang sedang duduk dengan mengangkat kakinya yang diletakkannya pada sebuah bangku yang tak memiliki sandaran. Pose yang kedua ini disebutnya ‘pose ketentraman seorang Raja’. Hal yang paling penting dan sangat cerdas dalam kecenderungannya melukiskan figur-figur seperti mereka sedang telanjang, kemudian figur-figur tersebut diberi pakaian mereka. Pendekatan yang cerdas ini mengizinkan Lu untuk  membuat struktur figur yang tepat. Hal ini dapat dilihat dalam lukisannya, Three Women Praying (2000) dimana lukisan tersebut melukiskan bulatan pinggul dari ketiga wanita dengan menambahkan kesan sensualitas kesuburan terhadap subject matter boleh dibilang yang “agak kering,” karena terbatas pada ritual keimanan.

Dalam lukisannya yang berjudul Still Life (2002), Earl Lu juga memasukkan unsur kepuasan sensualitas yang tidak diduga-duga. Kita melihat dalam lukisan sebotol anggur, sebuah cangkir, dan buah-buahan yang berwarna merah di atas sebuah baki yang bertengger disebuah sisi sebuah tempat tidur yang memiliki corak garis biru dan kuning. Tirai berwarna merah diciptakan sebagai bingkai untuk jendela sekaligus untuk lukisan itu sendiri. Elemen yang mengejutkan adalah adanya sebuah cermin yang menampilkan sebuah nude. Nude tersebut didisplay di atas dinding dekat jendela, atau merefleksikan seorang wanita yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi cermin.

Diantara rasa kuat secara fisik untuk melukis wanita, ada hal penting yang harus diingat bahwa, Lu memiliki perasaan yang sangat halus dan sangat melindungi wanita karena dalam sudut pandangnya wanita pada kenyataannya akan membawa anak dalam tubuhnya, dan tubuh mereka didesain untuk fungsi ini. Lu memiliki keyakinan yang mendasar bahwa para pria mewarisi kekaguman khusus pada wanita sebagai sesuatu yang penting bagi proses evolusi. Lukisan-lukisan nude Earl Lu merayakan keindahan wanita secara umum, dan secara khusus wanita sebagai calon ibu.

Kita juga harus mencatat bahwa, seniman-seniman profesional lain sering melukis wanita dengan wajah yang sangat cantik. Earl Lu tidak tertarik untuk melukis kecantikan “sekotak coklat.” Tujuannya membuat sketsa dalam waktu cepat adalah untuk memberikan semangat pada sebuah pribadi, esensi dari seorang wanita, daripada hanya pada seorang wanita tertentu. Dan sekali lagi kita diingatkan akan kepercayaan Earl Lu tentang hubungan antara indra dan emosi yang mampu menghasilkan seni, dan yang terpenting adalah semangat spiritual dari emosi tersebut:

“Seharusnya selalu ada rasa spiritual yang tampak pada wajah, rasa puas, tidak ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu darimu, karena menemukan kesempurnaan dari hidupnya sendiri (wanita). Pahatan batu terindah yang menggambarkan Apsaras ditemukan di Angkor Wat. Apsara adalah sosok setengah dewa yang memiliki wajah yang menggambarkan isi jiwa yang penuh seperti menyatakan tidak ada apa-apa lagi di dunia ini.”

Sebagai contoh, lihatlah ekspresi wajah wanita dalam lukisannya yang berjudul Nude 04 (2000). Hal ini menunjukkan penghargaan Lu terhadap wanita dengan melukiskan mereka dengan cara yang luarbiasa dimana Lu meleburkan sisi sensualitas dan spiritualitas.

Spiritualitas dan isi jiwa yang penuh diekspresikan dalam wajah Apsara yang dihubungkan dengan sebuah aspek penting dari filosofi Earl Lu akan kehidupan yang bisa disimpulkan dalam sebuah bagian dari The Doctrine of The Mean:

“Manusia Superior bersikap menerima situasi di sekitarnya. Dia tidak berharap untuk berada di suatu tempat yang lain. Ketika ia berada dalam posisi kemasyhuran dan penuh dengan keberuntungan, dia bersikap di dalam kemasyhuran dan keberuntungannya. Ketika ia berada dalam posisi kemiskinan dan status yang rendah, dia berlaku di dalam kemiskinan dan status yang rendah. Ketika dia berada di tengah-tengah mereka yang primitif, dia bersikap seperti orang primitif. Ketika dia dalam situasi tertekan dan susah, dia bersikap dalam ketertekananannya dan kesusahannya. Tidak ada tempat bagi Manusia Superior untuk tidak menjadi dirinya sendiri.

Ketika ia berada dalam posisi di atas, ia tidak menginjak mereka yang ada bawah. Ketika ia berada diposisi bawah, ia tidak merongrong menurunkan yang di atas. Memeriksa diri sendiri kembali dan mencoba untuk tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain, akan menghindarkan kita menciptakan dendam. Anda tidak akan marah terhadap Surga yang di atas, atau menyalahkan manusia yang ada di bawah.”

Landschap –  Merayakan Spiritualitas

Menurut Lu, “Dalam tradisi Cina, semua lukisan landschap memuat nilai rasa spiritual. Para seniman menunjukkan rasa rindunya terhadap kehidupan di pedesaan, kehidupan para petani, kehidupan para gembala, yang beristirahat dari kesibukan dan suasana buru-buru yang terdapat dalam kehidupan kota besar. Subject matter dari lukisan landschap mereka seringkali adalah sosok pertapa dengan seorang pelayan anak kecil yang membawa buku dan peralatan lukisan. Adanya pula kesamaan guratan kuas dan warna, dimana biasanya mereka menggunakan warna yang lembut, sehingga dapat dikelompokkan secara mudah dan tentu saja memiliki ukuran yang relatif, misalnya para orang tua menggunakan ukuran sepuluh kaki untuk tingginya gunung, satu kaki untuk pohon, satu inchi untuk rumah, dan sepersepuluh dari satu inchi untuk seorang manusia. Para seniman Cina memuja-muja alam karena alam diyakini merepresentasikan betapa agung dan luasnya alam semesta ini bagi ukuran pemikiran manusia. Pada dasarnya hal ini lah yang disebuat spiritualitas karena manusia meletakkan dirinya pada proporsi yang tepat di alam semesta, dan saya yakin hal itu benar.”

Walaupun dalam lukisan landschap-nya terdiri dari elemen-elemen gunung, pohon dan air, dan bentuk-bentuk yang ada di alam, Earl Lu mengembangkan permainan warnanya. Berbeda dengan lukisan Cina klasik, Earl Lu menggunakan warna-warna terang untuk memberikan kesan yang terlihat lebih modern. Dia kadang-kadang menggambar langit berwarna hitam dengan gaya Vlaminck sehingga memberi efek dramatis. Dia juga terkadang memberi garis batas awan dengan warna merah yang sederhana dalam gaya Chen Wen Hsi karena ia menemukan hal ini menarik. Walaupun demikian Earl Lu menyadari bahwa, “Awan-awan itu lurus dibagian bawah dan bergelombang dibagian atas.”   

Dia menyukai menggunakan teknik “basah di atas basah,” yang mana memperlihatkan bentuk garis berbulu lembut, yang sangat tepat digunakan untuk melukis pemandangan. Kecenderungannya terhadap bentuk yang bulat, pemandangan gunung dengan puncak yang bulat, menunjukkan kesenangannya terhadap bentuk-bentuk yang banyak ditemukan dalam lukisan-lukisan dan gambar-gambar nude-nya, yang menampilkan bentuk tubuh wanita yang melingkar, bentuk payudara yang bulat, jari kaki yang bulat. Terkadang, bentuk gunung yang melingkar dapat diartikan seperti lukisan nude yang menyimbolkan keselamatan dan kenyamanan mereka dari bentuk yang melingkar.

Walaupun Earl Lu menyadari bahwa lukisan pemandangan adalah lukisan Cina yang paling berbudi luhur, di dalam seluruh karyanya, dia ingin mentransformasikan kekasaran ke kemurnian. Bunga-bunga sudah terlalu indah dan vulgar: bagaimana membuat mereka terlihat lebih halus? Atau, dalam kasus memandang seorang wanita, daripada hanya terfokus pada kecantikan fisik semata, Lu cenderung lebih menangkap sisi spiritual yang ia temui dari wajah seorang Apsara: wajahnya (wanita) menyatakan kepuasan batin akan hidup dimana wajah itu seolah-olah berkata, ”segala sesuatu yang kuinginkan, sudah kudapatkan dalam kehidupanku.” (Oleh karena itu, atas alasan inilah, mungkin Apsara tidak dapat didekati: Earl Lu berpikir bahwa wanita terbaik adalah suatu perpaduan antara malaikat dan iblis).

Bagaimana membuat sebuah lukisan landschap dengan nuansa spiritual tanpa harus menggambar sosok seorang pendeta di dalamnya secara jelas? Bagaimana membuat sebuah lukisan pemandangan yang mampu menggerakkan sisi spiritual seseorang? Saya berpikir jawabannya dapat ditemukan dalam The Doctrine of The Mean:

“Confucius berkata: kelimpahan kekuatan spiritual yang diwujudnyatakan sungguh-sungguh menakjubkan! Lihatlah mereka yang tidak dapat dilihat. Dengarlah mereka yang tidak dapat didengar. Mereka berwujud dimana-mana dengan segala macam bentuk. Mereka meluap ke segala arah, ke atas, terkadang ke kanan dan ke kiri. Dalam Book of Odes menyatakan: ‘Cobalah untuk bertanya pada roh-roh, yang tidak dapat kita tangkap. Bagaimana mungkin kita mendapatkan mereka dengan pemikiran kita?’ Ada manisfestasi yang sangat halus dan kemurnian hati yang tidak dapat disembunyikan.”

Salah satu obyek lukisan Earl Lu adalah lukisan harus memiliki jiwa. Lukisan-lukisan landschap-nya secara jelas menampakkan nilai spiritual. Karya-karyanya yang berjudul Spirit of Mountain (2003) atau A Place to Meditate (2003) menggambarkan alam Cina yang mungkin juga sering digambar oleh pelukis lain, namun saya menduga lukisan pemandangan Lu kemungkinan besar dipengaruhi oleh masa remajanya di India: “Saya tinggal di asrama sekolah yang terletak dalam sebuah hutan cemara dan setiap kali saya berjalan menuju sekolah, saya dapat melihat pohon cemara, beberapa dari mereka tingginya ratusan kaki dan saya berkata pada diri saya sendiri. Sekarang saya mengerti mengapa India sangat penuh dengan mistik. Negara ini paling tepat untuk berkontemplasi. “Masalah tempat tidaklah menjadi hal yang sangat penting dalam pemikiran Earl Lu, karena “pemandangan itu ada di dalam kepala” Earl Lu. Dan, menurutnya inilah realitas yang sesungguhnya. Dalam mengomentari karya-karya lukisannya, Earl Lu berujar:

“Saya tidak fokus pada realitas. Saya fokus pada sudut pandang saya akan realitas.  Karena, sebenarnya ketika anda mohon pada seorang seniman untuk melukis apa yang agar ia lakukan? Berikan padamu, versimu atas apa yang dia lihat, bukan persis apa yang dia lihat, sebuah kamera akan lebih baik. Versinya, pilihannya dan tambahannya terhadap alam, dan pilihan warnanya tergantung pada apa yang ia sukai.”   

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published in Earl Lu @ 80: Beyond the Golden Mean by Michelle Chin (Singapore, Art Forum, 2005) ISBN 981-05-4074-4, in conjunction with exhibition of same name held at Art Forum, Singapore in September 2005