Exploring Modern Indonesian Art – Dr. Oei Hong Djien

oleh Michelle Chin

Menjadi sebuah peringatan! Ini merupakan sebuah buku yang membuat kita tidak akan pergi ke tempat tidur untuk membacanya. Buku ini mempunyai format ukuran yang besar 312 halaman, serta boros dengan ilustrasi kira-kira 150 gambar warna, dan jika itu ditimbang beratnya sekitar 3 kilogram. Sementara, menggoda kekuatan untuk menggambarkan seperti buku coffee-table, ketika saya memulai membacanya terlebih dahulu harus menggeser dari meja kopi ke meja tulis dan kursi, dan kemudian saya segera bergerak ke sebuah tempat duduk dengan mengganjal kaki sedemikian rupa sehingga saya baru bisa merasa nyaman membuka buku di atas pangkuan. Yang patut disayangkan, adalah pilihan melawan kebiasaanku, saya tidak bisa membawa buku Dr. Oei Hong Djien ke tempat tidur, dan harus lebih dulu duduk di tempat duduk untuk beberapa jam.

Buku Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of Dr. Oei Hong Djien memberikan sebuah ikhtisar yang menakjubkan terhadap seni rupa Indonesia di abad 20 dan sampai abad 21. Dr. Oei Hong Djien mengakui, bahwa ia merasa ketagihan dengan seni rupa: ia memperoleh sekitar 1,200 karya seni lebih dari dua puluh tahun lalu (sedikitnya rata-rata 60 lukisan dan patung setiap tahunnya. Ia membandingkan keinginannya untuk mengkoleksi karya seni seperti halnya ketagihan dengan narkotika - berangsur-angsur salah satu keinginannya itu semakin banyak, dan, bahkan menjadi lebih. Sejauh yang saya ketahui, tak ada seorang pun yang ketagihan karya seni sebagai terapi di Indonesia, namun, mungkin saja memulai sebagai bisnis yang berharga!

Dr. Oei Hong Djien lahir di Magelang, Jawa Tengah pada tahun 1939, adalah seorang pensiunan dokter. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia tahun 1964 dan, menempuh pendidikan magister Pathological Anatomy di Universitas Katholik Nijmegen, Netherlands (1966-1968). Ia bekerja sebagai dokter sukarelawan di Magelang dan Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia (1964-1966, 1968-1991). Ia juga seorang ahli tembakau dan sebagai mitra bisnisnya sejak tahun 1979, Djarum, salah satu perusahaan rokok kretek terkemuka di Indonesia. Dalam mengkoleksi karya seni sesungguhnya lebih banyak dibiayai dari bisnisnya tembakau dibandingkan dari profesinya sebagai dokter. Ia mulai mengkoleksi lukisan lebih dari dua puluh tahun lalu, dan baru kemudian meluaskan minatnya pada patung. Dr. Oei pernah menjalankan perannya sebagai kurator Museum H. Widayat dalam peresmiannya tahun 1994, dan, sekarang ini ia juga sebagai honorary adviser di Singapore Art Museum. Ia juga banyak menulis pengantar dan esai untuk katalog pameran dan buku-buku seni rupa. Pada tahun 1997, Dr. Oei membuka sebuah museum milik pribadi di Magelang yang digunakan untuk memajang koleksi-koleksi karya seninya.

Karena ia tinggal di Magelang - Jawa Tengah, koleksi-koleksinya cenderung "Jogja-Centric" kebanyakan lukisan dan patungnya ia peroleh dari seniman yang tinggal di Yogyakarta atau yang belajar di ISI Yogyakarta. Ketika ia masih bekerja sebagai dokter, Dr. Oei melakukan itu juga sangat mudah dengan mengendarai mobilnya sendiri pada malam hari untuk mengunjungi studio-studio seniman di Yogyakarta. Dengan jarak tempuh perjalanan 45 menit jauh lebih mudah bila dia bandingkan berpergian ke Bali atau Bandung di mana ada juga banyak seniman. Keuntungan yang didapatkannya, dalam dua dekade lalu kebanyakan dari seniman terbaik Indonesia yang ia beli tinggal di Yogyakarta, terutama mereka yang sedang belajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Koleksi-koleksi lukisan Dr. Oei kebanyakan seniman modern terbaik yang cukup dikenal di Indonesia, seperti Affandi (1907-1990), Sindudarsono Sudjojono (1913-86), Hendra Gunawan (1918-83) dan Widayat (1919-2002). Lukisan Affandi dan Hendra Gunawan sangat dikagumi di Indonesia dan luar negeri, khususnya kini banyak orang yang gencar mencari di berbagai lelang seni di Singapura, Jakarta dan Hong Kong yang menyimpannya, secara teratur ketukan palu dapat mencapai harga setengah juta Dolar Singapura (approx. US$275,000) atau lebih.

Ketika saya menanyakan kepada Dr. Oei, manakah lukisan Affandi yang paling disenangi yang menjadi ilustrasi dalam bukunya, ia menjawab, "Semua lukisan Affandi yang saya koleksi benar-benar favorit! Saya tidak hanya menyenangi satu, saya memiliki beberapa yang menjadi favorit. Saya suka juga seperti yang di pameran Venice Beannale tahun 1954, Bistro in Paris (1953). Itu seperti sedang melihat film koboi, tetapi saya berpikir lukisan itu dapat bersaing dengan lukisan Van Gogh, selebihnya tidaklah kurang dari pada Van Gogh. Lukisan lainnya yang kuat milik Affandi Chinese Temple in Yogya (1966) dan juga Kwan Kong, The Legendary General (1965) – subject matter-nya sesuatu yang unik – sesuatu yang jarang ada." Dr. Oei menceritakan kepada saya bahwa ketika ia mulai mengkoleksi, ia banyak belajar dengan Affandi tentang bagaimana cara memahami dan menghargai sebuah lukisan, tetapi, pada akhirnya semua itu menyimpulkan nasihat penting Affandi, "Jika warnanya itu bagus kemudian menyetujuinya." Affandi juga mengajarkan dia untuk memperhatikan lukisan dengan mata dan hatinya, bukannya dengan otak.

Seniman lain di Yogyakarta yang mana Dr. Oei Hong Djien belajar banyak dengan Widayat. Setiap kali ia dan isterinya pergi ke Jogja, mereka juga pergi mengunjungi Widayat di Mungkid. Mereka mulai mengetahui bahwa Widayat sangat baik sekali, dan kemudian, ketika H. Widayat mendirikan museum, hubungan mereka bahkan semakin dekat. Widayat menetapkan Dr. Oei sebagai salah satu dari kurator museum. Persahabatan Dr. Oei dengan Widayat tidak menutup kemungkinan supaya Widayat diminta melukisi peti mayat isteri Dr. Oei ketika meninggal tahun 1992. Ia menceritakan, "Isteri saya tadinya di rumah sakit Jerman - dia mengidap penyakit kanker - dan dia dibawa ke Indonesia dalam sebuah peti mayat yang sangat sederhana. Kami minta Widayat apakah ia bermaksud melukisi peti itu, dan Widayat merasa senang sebab ia juga berpikir apa yang ia dapat lakukan untuk kami. Ia sangat bergairah, maka ia datang ke rumah saya dan seketika mengerjakan lukisan itu. Peti mayat itu menjadi sangat indah, dan, barangkali seperti peti mayat yang sangat mahal, ia melukisi semua sisi peti, dari masing-masing sisi pun berbeda. Karena ia tinggal sangat dekat dengan kami, sebagai pelukis Widayat yang paling sering mengunjungi koleksi kami lebih dari seniman lain, dan sebaliknya kami juga sering mengunjungi dia lebih dari seniman lain."

Benar-benar sebuah proses belajar ketika ia mulai mengetahui Affandi dan kemudian Widayat, secepatnya menjadikannya sebagai sahabat yang sangat menyenangkan, sebab dari langkah itu ia menjadi banyak belajar dari mereka berdua dan sama-sama saling berbagi rasa dan dengan pilihan serupa. Dr. Oei mengatakan, "Widayat juga sangat sederhana dalam caranya menilai sebuah lukisan. Ia berkata, 'Jika kamu menyaksikan lukisan - ia menggunakan istilah greng - seperti goncangan elektris. Affandi dan Widayat mengajarkan cara yang sama pada saya dalam menilai sebuah lukisan, sesuatu yang sungguh-sungguh harus menggunakan hati pikiran." Ia menambahkan bahwa, "Sekarang ini agak berbeda, (seniman) lebih berat meletakkan konsepnya atau cerita di belakang lukisan tetapi jika secara visual tidak bisa menyentuh emosi atau hati kamu, kemudian itu untuk apa? sebaiknya kamu menulis sebuah cerita saja!"

Dr Oei secara luas mengkoleksi banyak karya-karyanya Widayat, dan ia sedikit tertekan untuk menyebut beberapa karya yang disenangi, tetapi ini akan meliputi lukisan dari cetakan kayu (woodcut print), The Bull (1982) dan Birds in the Trees (1989). Saya mencurigai bahwa kesenangan yang absolute mengenai lukisan abstrak yang menggantung dalam rumahnya yang mana tidak dimasukkan dalam buku: ia harus mencintai lukisan ini karena akan mengurangi bila ia hendak berbagi dengan orang lain melalui buku itu.

Kapan Dr Oei yang mulai mengkoleksi, ketika Sudjojono masih tinggal di Jakarta dan Hendra Gunawan dalam penjara. Setelah Hendra Gunawan bebas dari penjara tinggal di Bali dan Bandung, dan Dr. Oei tidak pernah berjumpa dengan dia lagi. Ia menyukai lukisan Hendra Gunawan yang dibuat dalam tahun 1940-an dan 1950-an. Tiga karyanya yang menjadi favoritnya adalah Market Scene in Yogyakarta (1947), Batik Sellers (1954), dan periode berikutnya ketika Hendra Gunawan dalam penjara, terutama sekali lukisan yang paling disenangi yang berjudul, Me, Dasa Muka / Ten-Headed (1968). Ia mengatakan, "Lukisan ini dikerjakan ketika Hendra Gunawan dipenjarakan yang pertama - menjadi sangat kuat - ketika ia masih memberontak dan tidak bisa menerima ketidakadilan yang diperlakukan kepadanya, ia sangat marah dan penuh dengan emosi. Kamu dapat saksikan figur bersenjata dengan berbagai senjata, ia merasa sedang diserang dari berbagai sisi. Ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kepadanya. Perasaannya sangat agresif."

Salah satu lukisan Sudjojono yang menjadi favorit Dr. Oei adalah, Perusing a Poster (1956). Ia mengatakan, "Tanpa tandatangan tetapi menjadi sangat unik. Saya memperolehnya dari kolektor Surabaya seorang yang ahli dalam karya seni: ia pergi ke isterinya yang pertama - Sudjojono telah memberi tanggal pada isteri yang kedua - dan isteri yang pertama berkata bahwa waktu itu belum ditandatangani, maka ia menjawab dengan nada ketus, 'Tidak apa-apa - jika itu ditandatangani dan Sudjojono menjualnya kepada saya, barangkali kamu tidak akan mendapatkan uang, isteri yang kedua lah yang akan mendapatkan uang.' Sehingga isteri yang pertama akhirnya menyetujui menjual kepadanya, dan segera saya memperolehnya dari dia."

Dr Oei melanjutkan, mengenai karya Sudjojono Me and Three Venuses (1974) juga  sangat baik - itu menjadi filosofi Sudjojono - ia selalu memperdulikan lebih banyak tentang kehidupan orang-orang dibanding lukisannya. Jika ia sedang membuat sebuah lukisan dan ada orang lain yang sedang memerlukan bantuannya, maka ia akan meninggalkan pekerjaannya dan memberikan bantuan terlebih dulu. Lukisan ini sangat penting sebab melukisnya waktu di tahun 1960-an ketika ia harus lebih dulu membuat sebuah pilihan dan ia memilih isterinya. Dia selamatkan itu dari penjara, sebab ia harus lebih dulu membuat sebuah pilihan antara LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan Rose, isteri keduanya. Jika ia memilih LEKRA ia akan berakhir dalam penjara suka Hendra Gunawan. Ia meninggalkan LEKRA baru saja di keben aran] saat/momen. Saya mendengar dari seorang kolektor tua bahwa Sudjojono berkata 'LEKRA akan masih tersisa dalam 10 tahun, tetapi Rose akan tua.' Maka ia harus lebih dulu membuat sebuah pilihan. Lukisan ini sangat baik. Sudjojono itu favorit saya."

Mengenai generasi seniman yang lebih muda, tiga seniman yang menjadi favoritnya asal Jogja lulusan ISI Yogyakarta: Nasirun (1965), Entang Wiharso (1967) dan Rudi Mantovani (1973). Ia mempertimbangkan bahwa, "Nasirun sangat berbakat dan ia juga sangat cerdas. Ia memiliki pengetahuan luas tentang cerita Wayang Jawa dan ia juga bisa menciptakan format lukisan yang ukurannya besar dengan kesenangan yang besar. Menciptakan karya dalam ukuran besar tidaklah gampang - tidak seperti memperbesar ukuran gambar kecil menjadi sebuah gambar yang besar - kamu harus mampu mengisi ruang itu. Nasirun mempunyai kemampuan itu - ia mempunyai kemampuan teknis, imajinasi, dan kesabaran membuat komposisi yang sangat detail."

Dr. Oei menganggap lukisan Entang Wiharso juga sangat kuat dan konsisten dalam menjaga kualitas, tetapi hanya karena subject matter-nya "menakutkan" itu bukanlah tuntutan yang demikian hebat di Indonesia. Terutama sekali ia sangat menggemari karya dari pematung muda Rudi Mantofani, bahwa, "Ia masih sangat muda, tetapi ia sangat kreatif, tidak ada dua karya yang menjadi sama. Ia selalu mencapai pada sesuatu yang mengejutkan. Karyanya dapat diletakkan di mana saja – indoors maupun outdoors, sebelah Timur atau Barat." Dr. Oei dengan jelas melihat karya Nasirun, Entang dan Rudi Mantovani akan memberi daya tarik dunia internasional, dan tiga seniman ini bisa disebut sebagian dari ramalannya calon seniman untuk masa depan. Tetapi, ia juga mengatakan, ketika memperhatikan karya seni gunakanlah mata dan hati, bukan hanya otak kamu (brain): Collect what appeals to you?, apa yang greng – karya-karya yang dapat memberimu sebuah serpihan di tulang belakangmu dan membuat rambutmu berdiri di atas kepalamu.

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published in Garuda Inflight Magazine, June 2004