Traveling Bersama Seniman ke Northern Territory, Australia

edited oleh Michelle Chin

Pada waktu tahun 1990-an, seorang kolektor seni dan pemilik galeri di Singapura Marjorie Chu mengorganisir beberapa traveling untuk para seniman Bali, India dan China. Dalam tahun 1997, dia membawa sekelompok seniman ke Northern Territory,  Australia. Kita simak sebuah kutipan dari bukunya, Understanding Contemporary Southeast Asian Art.

Northern Territory, Australia 1997
Perjalanan pertamaku dengan para seniman ke Bali di tahun 1996 tergolong sangat sukses, hal itu mendukung rencana saya untuk melakukan perjalanan lain yang lebih eksotis tetapi berbeda. Saya selalu ingin mengunjungi Northern Territory, Australia untuk merasakan kebebasan ruang terbuka yang jauh dari lingkungan perkotaan. Saya mengetahui bahwasannya seniman akan share dengan saya bahwa inspirasi seni mesti datang dari alam dan hanya dapat menemukannya di luar Singapura. Saya memilih Northern Territoy pertimbangannya karena persoalan budget: relatifnya, uang kecil saya dapat terbang dengan para seniman ke Darwin, menyewa bus untuk membawa kita ke Katherine Gorge dan Kakadu, memberi keamanan dan menyediakan makanan. Wong Swee Yin dan saya memiliki rencana berangkat pagi-pagi hari dengan bus dan peralatan perkemahan. Hari berikutnya, kita membawa seniman yang baru tiba dengan barang bagasi mereka dan aksesoris lukisan.

Dari airport kita memandu melalui selatan shrub-lands daerah pinggiran Darwin langsung ke Katherine Gorge dan Kakadu. Kita mendirikan tenda dengan udara terbuka di Katherine Gorge. Langit terang dan bintang-bintang nampak semakin dekat dan menjadi lebih banyak. Penyatuan alam yang menggembirakan. Ini pertama kali saya mengalami kegelapan yang total. Kegelapan dari malam disorientating: seolah-olah saya nampak dalam black pudding, dan dengan bantuan cahaya remang-remang oborku menjadi tidak ada artinya sama sekali.

Saya benar-benar memilih Northern Territory sebab berhadapan dengan keindahan itu mustahil untuk membuat sebuah lukisan yang buruk. Sebagian dari para teman saya bertanya apakah kita pergi untuk melihat lukisan Aborigin atau kita hendak mengunjungi museum manapun. Mereka tidak memahami bahwa alasan saya mengajak ke sana diharapkan dapat dekat dengan alam. Saya mengetahui bahwa alam akan mengilhami seniman untuk menciptakan karya, memberi mereka sebuah pandangan dan atmosfir yang berbeda. Di kedua camp Kakadu dan Katherine Gorge kita sibuk mempelajari sebuah sungai yang sangat terkenal, shrub-lands, anthills dan tumbuh-tumbuhan yang mana belum pernah kita lihat sebelumnya.

Aspek yang berbeda dari Northern Territory telah memberi inspirasi berbeda kepada seniman. Chua Ek Kay cukup tanggap sepanjang perjalanan itu. Ia membuat sket pohon, semak belukar dan formasi bumi, unsur-unsur yang tidak ada hubunganya dengan dirinya sendiri dan menarik untuk didokumentasikan. Ia terpikat oleh tranquillas, ruang terbuka luas dan meneruskan ke daerah batuan karang yang sudah kuno. Ketika kembali ia mulai membuat karya seri lanscape dengan konsep minimalis, hanya memberi titik atau dengan bijaksana mengayunkannya di atas kertas putih, seperti Stone Island, suka merenung dan Zen-like. Bunyi kesunyian dari Northern Territory dan kadang-kadang seekor burung terbang pada malam hari membisikkan kepada kita sebuah cara untuk menyatakan kehampaan, sebagai isyarat cahaya terang telah berlalu dan seperti titik musim Vivaldi's seasons series.

Goh Beng Kwan segera bereaksi Northern Territory jelas-jelas nyata dan ia segera  membuat lukisan ketika sudah kembali. Penggunaan warna tembus cahaya pada lukisan lanscape When the River is Full merekoleksinya dengan Yellow Water, menempatkan di titik temu South Alligator River dan Jim Jim Creek di Kakadu.

Saya benar-benar belum pernah melukis lanscape sebelumnya tetapi Yellow Water telah mengilhami saya untuk membuat sebuah lukisan yang mengekspresikan keadaan lingkungan yang lembut. Yellow Water tak diduga kontras dengan landscape bebatuan kering yang khas dari Northern Territory. Saya berpikir bahwa Ubirr Rock itu karya terbaikku sebab semua gagasan dari tradisi Cina cara membuat efek sapuan kuas yang kasar seperti potongan-potongan kampak pada bagian batu karang dan ini membantu dalam membuat format yang tidak datar. Kemudian, selama waktu perjalanan saya menggunakan gaya yang sama seperti potongan-potongan kampak untuk merekam bagian lukisan gua kanguru Aborigin.

Sore itu yang paling mengesankan dari seluruh perjalanan ketika Jeremy Ramsey membuat coq auvin yang menggunakan ayam, bawang dan sup Campbell. Ia tidak menggunakan air sama sekali, hanya botol dan botol dari anggur putih. Semua orang menikmati diri mereka sendiri, dan kesimpulan sepenuhnya sangat sukses selama tinggal di Northern Territory.

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published in Garuda Inflight Magazine, May 2004