Bali – Jogja, Ruang & Waktu

oleh Michelle Chin

Setelah tinggal di Bali kurang lebih hampir dua puluh tahun, saya melakukan perjalanan ke Jogja untuk survei ke beberapa galeri yang ada di sana, dan mengunjungi studio-studio seniman. Salah satu seniman yang pertama saya kunjungi adalah seorang teman dari Bali yang masih kuliah di ISI Yogyakarta. Apa yang telah saya pikirkan mengenai mereka adalah memiliki sebuah studio dan rumah tradisional Joglo-Jawa. Saya merasakan sangat terkesan dengan Joglo-nya. Kemudian, saya menyewanya buat tempat tinggal sendiri pada hari berikutnya!

Kemudian, setelah pindah ke Jogja, saya menyadari bahwa ada perbedaan konsep ruang dan waktu di Bali dan Jogja. Perbedaan dalam ruang fisik atau lingkungan jelas-jelas nampak nyata jika kita memperhatikan letak geografisnya, tetapi apa yang sesungguhnya saya temukan di mana para seniman-seniman dan mahasiswa lebih banyak menggunakan ruang yang sederhana untuk berkarya. Lain halnya dengan rekan-rekan mereka di Bali seringkali harus berkarya dalam kondisi ruang yang sangat berjejal, barangkali lebih beruntung jika mereka memiliki sebuah sudut atau ruangan yang berjejal di mana harus campur dengan keluarga mereka untuk berkarya. Di Jogja, kaitannya dengan harga sewa rumah pun jauh lebih murah, seorang seniman atau bahkan mahasiswa dapat mempunyai sebuah studio yang mungkin ukurannya beberapa ratus meter persegi yang sekaligus dapat digunakan untuk studio-studio mereka – sangat tidak memungkinkan untuk semua hal itu di Bali, kecuali bagi seniman yang memang benar-benar kaya.

Jika saya pertimbangkan dari aspek waktunya, dengan jelas kebanyakan para seniman Bali yang tinggal dan berkarya di Jogja tidak mempunyai tanggung-jawab dan memakan waktu banyak untuk keluarga dan kewajiban upacara, yang mana seniman dapat mengambil banyak waktu untuk aktif ketika mereka hidup di Bali, terutama setelah menikah. Kebanyakan dari mereka atau sebagian para seniman dan mahasiswa di Jogja benar-benar merasa enjoy dapat menggunakan semua kesempatan waktu mereka untuk tidak tidur yang spenuhnya untuk kesenian - apakah mereka memang tidak melakukannya atau karena ada persoalan lain. Selagi banyak seniman di Bali yang banyak menggunakan waktunya untuk cockfights (seperti halnya keluarga mereka dan adat dan tugas-tugas banjar), hiburan yang paling umum bagi seniman Bali yang tinggal di Jogja sepertinya hanya sekedar saling mengunjungi para teman mereka atau bermain kartu ceki - yang mana, bagaimanapun juga salahsatu dari mereka boleh mengabdikan menjadi pemain, mungkin tidak dapat menghabiskan banyak waktu ketika semua aktivitas tersebut di atas bagi para seniman Bali.

Secara umum, saya berpikir bahwa seniman-seniman Bali di Jogja bebas menikmati kemewahan dalam menggunakan ruang dan waktu dibandingkan dengan seniman-seniman di Bali, dan boleh jadi ini untuk membedakan mereka dan gaya yang ditemukan dalam karya seniman Bali - baik yang berkarya di  Bali maupun di Jogja.

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published in exhibition catalogue: Danu, Arnata, Santiyasa – Dari Dalam Diri, exhibition held at Art Centre, Bali in August 2003