RADICAL SHIT di JOGJA: Mengharapkan Yang Tak Terduga

oleh Michelle Chin

Jogjakarta merupakan simulasi pusat dari budaya tradisional Jawa dan seni kontemporer Indonesia. Musik Gamelan penciptaannya penuh dengan soundscapes dari masa lalu; pagelaran tari Jawa klasik sangat nampak keindahannya, pengendalian serta keseimbangannya; performances keep locals Wayang Kulit dan membuat pengunjung sangat terpesona.

Pada waktu bersamaan, seni rupa kontemporer tumbuh dalam lahan subur dari lingkungan Jogja yang sophisticated. Yogyakarta sendiri telah memberinya nama penting bagi sebuah pendidikan seni rupa modern dan kontemporer di Indonesia, dan, bahkan  banyak lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI Yogyakarta) yang sudah banyak memberikan kekayaan serta ketenaran dari berbagai event seni rupa di Indonesia dan internasional. Setiap melakukan perjalanan ke Jogja tentu saja membuat seseorang tertarik terhadap seni rupa kontemporer Indonesia. Ada beberapa galeri seni rupa, dan, mungkin kita akan membutuhkan beberapa hari untuk keluar-masuk dari semua tempat pameran. Di Jogja, diharapkan siap segala sesuatu yang tak terduga dengan pameran seperti wearable art, lukisan, patung, performance art dan instalasi seperti halnya inovasi yang tidak biasa memilih menggunakan media untuk karya seni dan sebuah pameran yang dapat berpindah dari rumah ke rumah.

Wearable Art
Wearable Art sering terlihat seolah-olah dirancang untuk catwalks di Paris atau Milan, Wearable Art-nya Mella Jaarsma menjadi sebuah pertunjukan fashion yang berbeda. Karya instalasi dan performance seperti yang terangkai dalam seri judul karyanya I Fry You 1 & 2, Eat You Eat Me and Hi Inlander (Hello Native) tercakup dibeberapa event seni rupa kontemporer di Indonesia dan internasional. Karyanya ini sudah banyak merangsang dialog yang panas, karena sebagian besar karya Mella menggunakan material dari kulit kodok, kulit ular, kulit tupai, kulit kambing, batang pohon pisang dan kepompong ulat sutra.

Wearable Art, instalasi Mella ini sering diwujudkan dalam bentuk jubah atau kerudung. Dalam karya I Am Ethnic 1 & 2,dia menggunakan kulit kambing utuh masing-masing untuk dua kerudung. Karyanya ini diilhami oleh ritual agama Islam di mana dua kambing dikorbankan untuk kelahiran bayi laki-laki dan satu kambing dikorbankan jika yang baru lahir seorang bayi perempuan (ritual ini disebut Akekah atau kekahan). Di sini Mella mempertanyakan peran yang berbeda, bahwa memainkan binatang dalam budaya manusia sebagai pengorbanan, sebagai tanda dan penilai.

Pelapis pakaian sering kelihatan pada bagian sebelah kiri, mengingat pakaian seperti ini sudah ada sejak awal peradaban manusia. Model yang berpakaian dan tidak berpakaian pada waktu yang sama, dan sebagian dari mereka nampak seperti terjerat dalam kulit second ini. Dalam beberapa kostum pria ada bagian yang terbuka di depan alat kelamin: dalam hal ini, model selalu menutup alat genital dengan tangannya.

Mella mengatakan, "Kita memakai kulit second setiap hari, mempertunjukkan keanggotaan ke kelompok yang spesifik dalam budaya kita, sosial dan lapisan agama. Memakai sebuah kerudung atau menutup badan dan muka dapat dilihat sebagai kode pakaian yang mempertunjukkan keanggotaan kelompok kita. Pada sisi lain, juga menyembunyikan identitas dengan cara yang sama memakai samaran. Dalam kasus keduanya tentang ciri khas dan kepribadian menyerahkan untuk sebuah kepentingan menjadi tak tersentuh dan tidak dapat didekati."

Sebuah jubah atau kerudung yang dikenakan oleh model kadang-kadang diminta untuk menanggalkan pakaian terlebih dahulu dan mengenakan 'kostum' di badan mereka, pada umumnya hanya mata dari model yang terlihat melalui sebuah ruang (lubang) dalam kerudung. Kadang-Kadang kaki dan tangan model kelihatan: menyampaikan dan memandang khususnya dalam interaksi sosial. Seniman menghadapi tantangan apabila penonton menyentuh dan melakukan kontak fisik. Seringkali pihak audiens diminta untuk mengintip ke dalam sebuah karya, atau saling berhubungan dengan model yang manapun untuk saling menyentuh, mendorong, menyodok atau sederhananya mengatakan sesuatu.

Baru saja Mella menggelar pameran karyanya di Singapura, penonton diminta untuk saling berhubungan dengan model yang mengenakan kostum Shameless Gold yang diciptakan dari kepompong bulu cricula trifenestrata helf ulat yang tinggal di buah alpokat dan pohon Jambu Monyet, pohon kacang-kacangan. Mella berkomentar, "Karya saya tentang Shameless Gold merupakan gambaran tentang elit sosial. Itu sekitar tentang biaya hidup sosial dan hasrat (desire) untuk sebuah kekayaan. Tentu saja tema ini berhubungan erat dengan situasi saya tinggal di Indonesia di mana adanya gap antara miskin dan kaya. Orang-Orang kaya tanpa rasa malu memamerkan mobil dan emas mereka, dan pada sisi lain, orang-orang miskin juga suka memakai beberapa emas. Di sini masih umum untuk menanam modal dalam bentuk emas bukannya menyimpan uang di bank."

Mella mengakui, bahwa semua orang memandang karyanya memiliki alur perbedaan latar belakang dan budaya, berhadapan dengan ketabuan highly personal, sehingga pengalaman karyanya seperti berada di jalan yang berbeda. Mella ingin karyanya berhubungan dengan audiens ini, berhadapan secara spesifik dengan ketabuan mereka dalam sebuah cara yang sensitif dan dia mencoba untuk membuka sebuah dialog bukannya dalam cara karya yang konfrontasional. Dia mengatakan, "Banyak seniman, termasuk saya sendiri, berada dalam bahaya turut berbaris dalam sebuah perangkap: bagaimana cara manusia dan secara sosial dipertautkan sebagai seniman tanpa menjadi dogmatis dan moralistik? Seni tidak bisa merubah dunia. Atau, hingga kini ada tidaknya mendapat tanda itu. Oleh karena, seni perlu menjelmakan dirinya sebagai gerakan sosial? Menjadi seniman untuk menawarkan bantuan? Atau di sana untuk menyenangkan (hati) dan menggelitik?"

Metallic Shit
S. Teddy D. baru-baru ini menggelar pameran yang bertema Methallic Shit di Rumah Seni Cemeti. Dalam karya seninya, ia mengarah dalam penafsiran subjektif hubungannya dengan isu sosial menggunakan bahasa yang khas budaya anak muda; sebuah kecenderungan yang kasar, bahkan ungkapan yang vulgar; sikap sinistik terhadap institusi formal dari status yang dominan, terutama yang mendukung ketika kekuasaan Suharto semasa Orde Baru dan meningkat tak pernah mengindahkan hiasan benda-benda estetik.

Metalik sebuah statemen tentang jarak. Hanya berpikir tentang kacamata hitam metalik, yang terakhir tentang aksesori sosial: ketika seseorang yang bertemu dengan sedang memakai kacamata hitam ini kita tidak punya kontak mata, semua yang kita lihat adalah sebuah cerminan diri kita. Kita seolah-olah sedang mempelajari sebuah cermin bukannya menikmati sebuah dialog dengan orang lain. Atau memasuki sebuah ultra-modern, semuanya-metal Fisher & Paykel dapur dan kamu mungkin memiliki persoalan ketika hendak memecahkan masalah membuka pintu lemari es.

Dingin, warna metal sekilas tidak memancarkan keramahan, keintiman dan keakraban. Cahaya dari manapun berasal atau keramahan warna metal datang dari sumber yang lain, bukan dari warna itu sendiri. Metal itu tidak punya warna, bukan warna lain, bukan putih maupun hitamnya "warna" hanya dapat datang dari luar dirinya juga, mencerminkan dari objek lainnya yang melingkupi. Metal menyiratkan tentang jarak, kesejukan, tidak pucat, kepribadiannya bergeser dan berubah menurut lingkungannya.

S. Teddy D. menjelaskan, "Dalam budaya urban, kita mulai merasakan sebuah kecenderungan menganut faham elit metalik. Saya berpesan dalam kemewahan sebuah mobil dan mesin elektronik seperti VCD player dan telepon genggam. Saya melihatnya di cafe, bar, aksesoris pakaian. Genapnya mengambil alih daerah pinggiran kota dengan semua gerbang dan pagar metal orang-orang sudah mulai menerapkan di depan rumah mereka. Itu mengingatkan saya pada demokrasi Indonesia." Terutama sekali itu mengingatkan pada kuningisasi ('yellowing') yang mana selama ini terjadi pada Pemerintah Order Baru. Kuning pada waktu itu sebuah warna yang penuh arti dan gemar bertengkar, karena menandakan partai politik GOLKAR yang kekuasaannya dikendalikan oleh Presiden Suharto. Pada waktu itu proses 'kuningisasi' dibawa ke tempat beberapa daerah. Sebagai contoh Gubernur Jawa Tengah, secara tidak langsung diperintah bahwa semua dinding kota, toko, bangunan dan bak sampah harus dicat kuning, sampai pada perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah di mana sebuah batu karang hitam juga dicat kuning!

Ketika proses kuningisasi sekarang ini berlebihan, S.Teddy D. melihat sebuah peristiwa ‘metalisasi baru' mengambil alih Indonesia. Ia mengatakan, "Peradaban manusia melalui berbagai sejarah jaman, seperti jaman Batu, jaman Perunggu dan seterusnya. Barangkali kita sekarang ini berada dalam jaman Methalic Shit. Tetapi akan lebih sesuai hubungannya itu 'shit metal-plated' sebab tidak saja 100% metal, hanya metal pada permukaannya saja."

A Plate of Indonesia
Gelaran Budaya "Laporan dari Jogja" membuat format dari sebuah pameran yang bertema Sepiring Indonesia (A Plat of Indonesia). "Untuk mendapatkan lebar/luas yang sama mungkin seperti keikutsertaannya, kita bekerja dengan sembilan seniman jaringannya bisa dengan berbagai kelompok asal Jogja: Apotik Komik, Taring Padi, lulusan ISI Yogyakarta dan para mahasiswa, dan generasi seniman muda Jogja," kata Rain Rosidi.

Kondisi keikutsertaan dalam pameran ini didasarkan pada umur seniman dan medium yang digunakan untuk karya seni itu. Semua seniman diharapkan lahir pada masa post-Orde Baru, setelah 1966, dan prinsip medium karya seni diharapkan dari sebuah plat. Mengapa sebuah plat? Rain menjelaskan, "Dalam pembatasan umur, kita ingin menghadirkan peserta ketika memungkinkan segmennya komunitas seni Jogja. Pertimbangan masalah ukuran terkait dari ruang pameran kita, akan mustahil untuk memamerkan lebih dari 30 atau ukuran medium lukisan di atas kanvas di Gelaran Budaya. Setidaknya kita tidak ingin membedakan: kita ingin memilih sebuah medium yang semuanya mampu dan tidak membatasi peserta terhadap satu gaya, sebagai contoh, lukisan. Sebab sebuah plat merupakan perkakas sehari-hari, itu tantangan bagi setiap seniman untuk mengubah bentuk obyek ke dalam sebuah karya seni." Juga, plat sebagai sebuah kekuatan lambang: terutama semata itu bisa membuat orang berpikir tentang kesejahteraan/kesehatan dan makanan, tetapi kesimpulannya dapat juga menyiratkan sebuah planet atau dunia atau negara. Plat bisa menyatakan harapan, mimpi dan gagasan seniman dan penyelidikan mereka untuk mengungkapkan kebebasan. Maka, dibuat tema 'A Plate of Indonesia'.

Kekaguman terhadap Gelaran Budaya, bahwa tema mereka menarik banyak yang interes diantara seniman muda Jogja. Setelah mengundang 300 seniman untuk ikut berpartisipasi, harapan mereka barangkali 40 atau 50 seniman yang mungkin mengirim karya seni. Secepatnya, mereka total menerima 144 karya seni, yang mana harapan dari cara mereka di atas dan sesungguhnya buat mereka harus memikirkan kembali gagasan asli mereka untuk mengadakan pameran keliling, Jakarta, Bandung, Bali dan Kalimantan. Jika mereka menghadapi permasalahan dalam penganggaran biaya dengan 40-50 karya seni, mereka diliputi kecemasan untuk transportasi 144 karya seni ke tiga daerah tempat pameran lainnya, dan biaya-biaya dalam memproduksi katalog pun akan dengan cepat berlipat-tiga.

Respon seniman yang menggunakan plat memiliki berbagai jalan, berkisar antara lukisan konvensional (sekalipun hanya pada plat) karya tiga dimensi dan instalasi. Karya yang komplit dari konsep tidak aneh dan karya nostalgia. Beberapa penuh warna, beberapa ada yang rasa sinis, sophisticated, dan dengan disengaja. Beberapa karya lainnya penuh dengan orang pinggiran, kekecewaan dan kekecewaan dengan harapan serta humor. Gambaran yang menyeberang spektrum pengalaman manusia: cinta, kelahiran, relationship, keluarga, kuasa, harapan, keberanian, ketekunan, kekerasan, kematian dan kesucian, memancarkan berbagai kedalaman dan ungkapan visi yang mana menantang mereka pada kemurnian plat. Semua jenis plat yang surfaced dalam pameran - kertas, enamel, porselin, kayu, metal, round, plastik, oval, segi-empat, baru, tua, menghancurkan sama sekali, membelit, merekah, menghancurkan. Sebagian dari karya multimedia menyatukan sebuah array object yang mengejutkan serbet bersih, dan satu contoh ekstrim tinja manusia ditutup dengan resin: yang dibungkus dengan sebuah pita dan plat, judul karya "Birokrasi Indonesia". Dalam kaitannya dengan bau yang tak enak, harus segera dipindahkan dari tempat pameran setelah acara pembukaan. Yang menarik, kritik dari banyak penonton justru dianggap sebagai hal yang terlalu sederhana - dianggap terlalu jelas dalam kritiknya dan kurang metafor.

Sepiring Indonesia bukan hanya tentang peserta seniman, semua Indonesia. Karya seni yang mengilhami sebuah dialog dan cerminan pada status Indonesia. Pameran ini menyajikan sebuah platform, kesempatan berbicara dan perhatian seniman muda, semua dari yang dilahirkan selama satu periode di mana kebebasan untuk mengungkapkan kejujuran berdialog dan melewati batas ketidakmungkinan. Sekarang suara mereka dapat terdengar jelas-jelas bersih dan nyaring, dan tersedia sebuah plat untuk semua yang ingin ikut serta dalam pesta ini.

Proyek Ruang Per Ruang
Sebagai solusi terhadap pencarian mereka untuk sebuah ruang alternatif, 13 seniman muda Jogja- Gusde, Angki, Aji, Georgia, Angga, Roni W, Tejo, Dalbo, Ucok, Rangga, Arya, Samuel dan Nuning - yang nyata untuk membuat pameran dalam sebuah rumah pribadi. Mereka merencanakan untuk terus melanjutkan proyek pameran dari rumah ke rumah di masa datang, setiap kali merespon rumah tertentu dan membuat taman dari instalasi, lukisan, lukisan atau apapun. Ruang pribadi seperti bedrooms yang mana perlu digunakan rumah tinggal dapat diakses oleh penduduk, tetapi terlepas dari jumlahnya seniman pantas mempunyai pertimbangan mengenai kebebasan dalam penggunaan ruang rumah. Betapapun, mereka ingin menikmati kebebasan yang komplit berekspresi, dan di mana lebih baik daripada di rumah?

Selama proses perencanaan, salah satu dari seniman mempunyai gagasan untuk membungkus rumah dalam sebuah instalasi Christo-Style, tetapi gagasannya itu ditolak oleh seniman lain perlu menyadari dalam kasus karya mereka sendiri itu tidak akan dilihat, sebab tidak ada orang lain yang akan mampu masuk atau meninggalkan rumah untuk sebulan. Tidak ada gunanya menambahkan itu, bukankah penduduk juga terlalu tertarik akan gagasan itu.

Mereka memproduksi katalog untuk proyek pameran ini, pertama dengan pintar memberi judul "Jangan Mencoba Ini di rumah", yang mana nampak seperti sebuah peringatan bahwa jika kamu disiapkan untuk biarkan 13 seniman mengambil alih mu memondokkan dan menciptakan artworks di mana saja, seperti di dalam rumah mereka, disiapkan untuk apapun! Tetapi apakah mereka bermaksud dengan sebutan katalog berhubungan dengan disadari mereka yang menciptakan instalasi site-specific tidaklah sangat mudah mungkin nampak. Tantangannya adalah karya yang diciptakan sesuai dengan suasana, suasana hati dan lifestyle rumah, serta lingkungan penduduknya.

[translated by A. Anzieb]