Impressionisme Indonesia

oleh Michelle Chin

Lukisan Mario Blanco, Paul Husner dan Pupuk Daru Purnomo mengambil pesta visual pada sebuah perjalanannya di Indonesia, Perancis dan AS. Seniman Bali Mario Blanco melukiskan dunia khayalan yang ditemukan di studionya Campuhan; Pelukis Swiss Paul Husner memberi kita kesan ke-Indonesia-annya; dan seniman Jawa Pupuk Daru Purnomo melukiskan kesan Yogyakarta-nya, Solo, Paris dan New York.

Sedangkan subject-matter mengenai tiga seniman ini  bervariasi, meskipun demikian tiga  pelukis ini  sudah secara umum bisa dikatakan, sesuatu yang sama. Adalah sebuah perasaan yang hidup dari  kota besar dan desa/kampung, setasiun kereta, kuil, istana dan museum, pasar ikan dan sudut jalan, studio seniman dan ikut serta strip-tease, dapat menjadi suatu visi kemajuan dunia dan kumpulan bunga, memproyeksikan sebuah perasaan utuh tak gelisah. Lukisan mereka melukiskan kegembiraan dunia dan cahaya: mungkin orang memperhatikan dunia ini dengan ironi, tetapi tidak pernah dengan mata keputusasaan.

"Pandangan" mereka menghadirkan satu hal pada saat ditentukan, sebuah efek cahaya dan mewarnai itu dengan sesaat dan cepat berlalu: sistem pengaturan menjadi keakutan dari mata seniman dan efisiensi yang perasanya brush-strokes, merajut pola teladan mereka dengan cepat ke seberang kain kanvas. Subject matter mereka adalah kesenangan dan pandangan yang hampir semua orang dapat melihat dan pengalaman dalam hidup sehari-hari dan di sekitar kota besar: kesederhanaan dan kecantikan belaka dari dunia yang terlihat.

Tiga seniman sedang melakukan diri mereka sebuah bidang eksperimen yang tak ada akhirnya khususnya permasalahan melukis. Lukisan obyek atau obyek yang sama berulang-ulang kali, subject matter mereka bukanlah pandangan hanyalah tindakan mengingat bahwa pandangan - proses pikiran, terbentang secara subyektif, tidak pernah tetap, selalu menjadi. Mereka sedang melakukan diri mereka dengan infinitif variasi cahaya dapat mempengaruhi gambar dari sebuah motif pada jam berbeda hari, dalam cuaca berbeda, dalam pencahayaan berbeda. Masing-Masing motif yang berulang - sebuah bangunan, pemandangan jalan, cuaca langit mendung, jambangan, ikan, buah, bunga, guci gelas, cangkir teh - dapat dilihat ketika sesuatu hal yang biasa dan tak ada akhirnya, mengundang semua diskriminasi dan dapat membawa sebuah pemeriksaan mata manusia.

Mario Blanco, Paul Husner dan Pupuk Daru Purnomo menikmati tantangan yang diperkenalkan dengan jalan mana cahaya dicerminkan dan rusak diberbagai permukaan. Mereka belajar keselarasan dan kontras dan tenunan warna, pengaturan subject-matter perihal lukisan mereka dalam keselarasan bentuk dan warna. Mereka membuat kita sadar akan permainan cahaya pada awan dan langit, pemandangan berkenaan dengan kota atau bagian luar dan bagian dalam bangunan. Dalam lukisan still life mereka mencoba mencapai kesungguhan baru keselarasan antara kacamata wine-filled, sekilas seperti keramik Cina, buah dengan hebat diwarnai dan semiran batang-batang rel. Mereka membuat kita melihat kecantikan, ketenangan sebuah landscape yang sederhana dengan segar memandang dan memberi kita suatu gagasan, untuk apa seniman merasa ketika ia melihat cahaya yang menggenangi melalui jendela studionya, mempertinggi warna berciri konsisten buah atau mencerminkan permukaan bangku atau meja yang berkilauan. Tentu saja, boleh jadi ini obyek yang kita dapat memeriksanya setiap hari dengan teliti, tetapi hanya seniman yang dapat membuat kita menyadari pada kecantikan tentang kesenangan sehari-hari. Seniman mengijinkan kita untuk menyaksikan "keabadian dalam sebuah butir pasir, dan langit dalam sebuah bunga."

[translated by A. Anzieb]

* the original text in English was published as the Foreword for exhibition catalogue, The Impressionists, organbised by Garisart, Jakarta, 2003