Pulling out all the Stops in Singapore, Global City for the Arts

oleh Michelle Chin

Singapura mulai dijadikan sebagai Global City for the Arts. Ini merupakan sebuah kota yang akan mengisi ke dalam jaringan internasional di mana gagasan dan bakat dunia secara alamiah memusat dan multiply. Lokasinya secara strategis terletak di persimpangan jalur Asia dan Barat, Singapura dalam posisinya secara khusus menyajikan karya seni dunia bagi daerah dan sebagai daerah seni bagi dunia.

Singapura sebagai kota yang modern, kosmopolitan, bersemangat, penuh dengan keanekaragaman dan sinergi kreatif - yang mana semua pikiran subur jatuh untuk karya seni. Pertemuan budaya yang berbeda di Singapura menjadi perputaran kota sebagai salahsatu modal budaya terkemuka di abad 21.

Pulling out all the Stops gambaran lebih lanjut sebagai Global City for th Arts, bulan Oktober 2002 merupakan sebuah waktu penting bagi para pecinta seni untuk mengunjungi Singapura. Sotheby's Southeast Asian Paintings mengadakan lelang pada 6 Oktober; ARTSingapore - The Contemporary Asian Art Fair diselenggarakan mulai 11-15 Oktober; dan Esplanade - Theatres on the Bay sebagai pusat pertunjukan seni dalam grand opening 12 Oktober pada skala yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam sejarah seni rupa dan peristiwa budaya di Singapura.

Balai lelang Sotheby's Southeast Asian Paintings di Singapura banyak menarik para pecinta seni, kolektor, seniman dan art dealer dari berbagai daerah. Alasan ini karena, pada akhir pekan yang sama bagi setiap orang di Singapura dapat menghadiri pra pertunjukan Christie's Southeast Asian & 20th Century Indian Pictures dan lelangLarasati-Glerum's Pictures of Indonesia yang mana digelar bulan berkutnya di Hong Kong dan Jakarta.

Lelang Ang Kiu Kok Art terbuka bagi seluruh masyarakat dan gratis. Lelang menyediakan sebuah kesempatan sempurna untuk memandang seni yang mana tak terukur, yang tidak hanya bisa melihat di museum, galeri atau koleksi peribadi dari seluruh dunia. Di ke tiga lelang mengadakan pra pertunjukan pameran, total ada lima ratus lukisan atau lebih: seseorang dapat menyaksikan karya dari pelukis Indo-European; seperti Walter Spies, Le Mayeur, Rudolf Bonnet dan Willem Gerard Hofker, seperti halnya banyak seniman modern dan kontemporer dari semua negara Asia Tenggara. Lukisan seniman Indonesia seperti Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan, Popo Iskandar, Widayat, Djoko Pekik dan Srihadi Soedarsono yang sedang banyak diburu. Itu sangat menggairahkan untuk menyaksikan prosesinya, terutama ketika sebuah lukisan mencapai harga penjualan beberapa ratus ribu dolar, dan beberapa ada yang mencapai hingga satu juta dolar.

ARTSINGAPORE - The Contemporary Asian Art Fair digelar di Suntec City, Singapura dari 11-15 Oktober 2002. Sebagai satu-satunya seni kontemporer Asia di dunia, ARTSINGAPORE 2002 menyediakan 32 tempat yang telah terbukukan galeri-galeri dari New York, Australia, Jepang, China, Taiwan, India, Myanmar, Philipina, Malaysia, Indonesia, Thailand dan Singapura. ARTSINGAPORE menyediakan kita kesempatan khusus untuk melihat lukisan kontemporer Asia, drawing, patung, instalasi, tapestri dan fotografi dari 12 negara yang semuanya di bawah satu atap. Kebanyakan karya seni - apakah dari seniman-seniman yang sudah establis atau pendatang baru yang berbakat - adalah kehendak daftar museum dari seluruh dunia.

"Karena Art Fair ini diorganisir oleh seorang art dealer, kamu pasti dapat memilih mutu karya dengan baik, karya yang berkualitas tinggi," kata Marjorie Chu, sebagai Fair Organizer. "ARTSINGAPORE 2002 membawa bersama-sama para dealer ternama, kurator museum, kolektor dan pecinta seni. Sejak mencatat orang-orang ternama dari dunia seni yang datang ke Art Fair ini, merupakan sebuah kesempatan baik dapat melihat gaya seorang art dealer yang suka beraksi, lambat laun banyak menarik mereka dalam usahanya memikat kolektor untuk memperoleh karya," dia menambahkan.

Sebuah perkiraan konservatif oleh Art Galleries Association (Singapura) meletakkan harga untuk industri seni sekitar SIN$10 juta. Dalam 5 hari saja pada ARTSINGAPORE 2001, penjualan yang dihasilkan SIN$1 juta. Tahun ini, target organizer SIN$1.5 juta. Harga terbentang dari bawah SIN$1,000 hingga sepuluh ribu dolar untuk menandai karya seniman top Asia seperti Latiff Mohidin, Ang Kiu Kok dan Toko Shinoda.

"Seni di Asia melebihi semua batasan-batasan. Seni kontemporer Asia sedang menarik banyak perhatian dan tumbuh dalam popularitasnya secara internasional," kata Chua Soo Bin, Presiden Art Galleries Association yang mengarahkan untuk meletakkan Singapura dalam peta dunia dengan art fair kelas internasional.

 "Para kolektor seni yang membeli di lelang juga membeli di ARTSINGAPORE. Secara luas karya seni yang dipamerkan lebih bervariasi pada fair ini, dari nama-nama yang establish dan pendatang baru yang setiap waktu menjadi favorit", kata Seah Tzi-Yan, mitra Art-2 Gallery dan seorang exhibitor. Dia menambahkan, "Banyak dari klien ku membeli karya dari art fair dan mereka menjual kembali di lelang setahun kemudian untuk menggandakan investasi mereka."

Toko Shinoda
Dua galeri dari Indonesia yang akan berpartisipasi pada ARTSINGAPORE 2002, Galeri 678 Jakarta menampilkan karya Rudolf G. Usman dan Yogi Setiawan. Lahir di Padang, Sumatra Barat 1953, Usman salah satu seniman yang ikut berpartisipasi dalam pameran The Beauty of Watercolours di Mercantile Club, Jakarta 1995. Rumah Seni Cemeti Yogyakarta menampilkan karya seniman kontemporer muda, antara lain Agung Kurniawan, Asmudjo Jono Irianto, Agus Suwage, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Eddie Hara, Eko Nugroho, Handiwirman Saputra, Hanura Hosea, Popok Tri Wahyudi, S. Teddy D., dan Yamyuli Dwi Iman.

Tidak ada yang kurang dari karya para seniman Indonesia dalam ARTSINGAPORE ini. Beberapa galeri Singapura juga telah memilih untuk menonjolkan karya seniman Indonesia. Jasmine Fine Art menampilkan seniman asal surabaya Bilaningsih; Gajah Gallery menampilkan karya Made Djirna, Nyoman Sukari, Pupuk Daru Purnomo dan Yunizar; dan Atelier Frank & Lee akan memasukkan karya Agus Suwage dan Popok Tri Wahyudi. Valentine Willie Fine Art Kuala Lumpur dan Bali akan memasukkan karya Agus Suwage, Anusapati dan Popok Tri Wahyudi.

Yang lainnya not-to-be-missed event is the official grand opening of Singapore's national pusat pertunjukan seni Esplanade Theatres on the Bay pada 12 Oktober 2002 yang mana pembukaan festival mulai dari 13 Oktober  - 3 November 2002. Ini merupakan sebuah event terbaik untuk seni di Asia dan Barat dari seniman terbaik lokal dan internasional. Dalam 23 hari, lebih 1,300 seniman dari 22 negara datang bersama-sama untuk mind-boggling 70 tiket pertunjukan dan lebih 600 masyarakat di luar event. Mr. Benson Puah, Chief Executive Officer of The Esplanade Co. Ltd mengatakan, "The Grand Opening Festival menginginkan program spektrum pameran lebih luas dari kesuksesan nilai komersilnya hingga yang klasik, the abstract to family-oriented entertainment, sehingga pengalaman kita memberi tawaran pada masyarakat luas di luar para pecinta seni."

Para audiens diharapkan dapat menyaksikan sajian yang terbaik dari masing-masing gaya dalam pertunjukan seni. Menyaksikan penampilan konser dari The London Philharmonic, New York Philharmonic and the Lincoln Centre Jazz Orchestra, seperti halnya tiga karya commissioned yang akan tampil perdana di Esplanada, yang mana salah satunya Singapore Dance Theatre's sensual Reminiscing the Moon yang koreografernya dari Indonesia Boi Sakti.

Dalam pembukaan festival juga diadakan artist-talk, meet-the-artists sessions, workshop dari seniman lokal dan internasional, dan konferensi internasional tentang teater kontemporer Asia. Esplanada tidak hanya dijadikan sebagai pusat untuk pertunjukan seni. Untuk tiga bulan, ruang khusus digunakan sebagai pusat area pameran yang menggelar lebih 100 karya visual yang diciptakan oleh seniman kontemporer Asia berdasar pada tema pertunjukan dan ritual.
Benson Puah ketika ia mengatakan, "Kita berharap Esplanada menjadi inspirasi untuk masyarakat, untuk menyentuh hidup dan dapat merangsang bakatnya; bahwa itu merupakan sebuah tempat di mana orang-orang dapat bertemu, untuk didukung dalam mengejar kecenderungan artistiknya dan di mana mereka dapat memeluk seni sebagai sesuatu yang hakiki bagian dari hidup mereka."

[translated by A. Anzieb]