Kesan & Pesan / Comments & Criticisms


Ruang per Ruang Project menunjukkan bahwa seni tidak mengenal batas.
- dr oei hong djien, magelang

Satu kecendrungan baru, exhibition dengan konsep merespon ruang sebagai sumber inspirasi karya, dimana ruang tersebut adalah rumah tinggal beserta dengan isinya, kesan pertama masih bingung mana karya2 yg merespon dan karya2 yang sudah ada sebelumnya (termasuk karya2 yang direspon). Mungkin ada sedikit rekayasa agar karya2 yang dipamerkan bisa lebih terasa menonjol, tapi diluar semua itu saya suka dengan pameran ini.
- chris dharmawan, galeri semarang

Banyak benda-benda dalam pameran ini sepertinya jatuh dari langit, seakan hanya ingin mengagetkan kita saja. Benda-benda itu cukup menimbulkan chaos dalam ruang yang memiliki atmosfir Jawa ini. Kehadiran mereka terasa terlalu mencolok. Saya merasa atmosfir Jawa di dalam ruang ini tidak cukup dihormati dengan cara itu. Kualitas "tersembunyi" dari dimensi spasial yang ditawarkan oleh pameran ini rupanya kurang tertangkap oleh kebanyakan peserta pameran ini.

Karya Arya Pandjalu membuat kita sadar berada/hadir di dalam ruang spesifik ini.

Selamat untuk pameran ini.
- hendro wiyanto, kurator dan penulis seni rupa, jakarta

Karya-karya yang sudah ada dalam ruang ini terlalu dominan sehingga secara kebetulan karya yang diperuntukkan khusus untuk merespon ruang kelihatan membaur. Itu suatu keberuntungan atau kerugian? Tak apalah! Saya sahut dengan semangat ank-anak ini.

Kebetulan pas sore ini (Magrib) banyak sekali laron-laron yang datang untuk merespon titik-titik lampu. Menarik! (untuk dibuat video)
- agus suwage, perupa, yogyakarta

Ruang per Ruang

Ruang
______ = 1
Ruang

Selamat!!

Perlu penjelasan tentang karya yang merupakan bagian dari ruang dan karya yang merespon ruang. Cukup melebar tidak hanya merespon ruang tetapi suasan dll.
- biantoro santoso, nadi galeri, jakarta

Ruang
______ = ?
Ruang

Apakah aku mirip penulis, sampai diminta untuk menulis. Aku yakin aku lebih mirip David Bowie. Oke, David Bowie nulis:

Secara konsep, Ruang per Ruang sebetulnya agak kuno, yaitu memamerkan karya dengan menghindari keangkeran gallery, kuno karena gejala ini tumbuh mulai tahun '98-an.

Walaupun konsep ini agak kuno, tapi ide-nya masih tetap relevan.

Kembali ke Ruang per Ruang, rumah kuno dengan arsitekturnya yang indah sungguh tepat sebagai pilihan, namun bila dilihat karyanya, ternyata masih "karya2 Gallery", dalam arti tidak "membaca" arsitektur rumah kuno secara maksimal dan kurang "ngawur", liar, sepertinya para senimannya terlalu tegang.

Mungkin memang begitu, memindahkan "karya gallery" ke rumah Michelle, akhirnya rumah ini kembali menjadi "Gallery".
- ugo untoro, perupa, yogyakarta

Ini sebuah pameran yang mencerminkan semangat pluralisme. Teruskan! Go on! Aku dengan senang hati mengoleksinya."
- deddy irianto, galeri langgeng, magelang

Percobaan ini berbeda dan memberi tawaran yang baik. Berbeda dalam arti seniman menghadirkan versi kuratorial mereka, yang terjadi lewat proses negosiasi-negosiasi. Negosiasi itu tidak hanya terjadi antar mereka (para perupa), tetapi juga dengan pemilik rumah (Michelle Chin) dan sekaligus situasi ruangan itu sendiri. Komentar saya, ketidakhadiran kurator dalam project ini justru memberi tawaran yang menarik, dimana seniman juga mulai dipertanyakan dan mempertanyakan posisinya dalam membentuk versi.
- rain rosidi,
kurator, pengajar & pengamat seni rupa dan , yogyakarta

Kegiatan semacam ini sangat menginspirasi dan bikin semangat berkarya. Juga mengajak saya lebih terbuka dan luas untuk memahami kembali pengertian alternatif terhadap konsepsi tentang tempat/ruang pameran maupun bentuk karya seni.

Saya harap kegiatan ini tidak berhenti sampai disini . . . . . Selamat berpameran
- eduard (edo pop), perupa, yogyakarta

Ruang per Ruang hanya cocok untuk judul acara tok . . . bukan sebuah konsep yang hanya akan menjadi kalkulasi: kata-kata yang sangat tendensius. Biarkan karyanya bicara sendiri . . . . lebih bebas . . . . .
- made toris, perupa, yogyakarta

Proyek Ruang Per Ruang ini belum cukup berhasil, artinya sebagai sebuah kolaborasi antara seniman, kemudian dengan ruang itu sendiri dan pemilik ruang itu sendiri terus kemudian dengan objek2 di dalam ruang itu sendiri. Saya kira mereka belum bisa merespon sebuah ruang atau isi ruang itu sendiri. Ada banyak karya yang berdiri sendiri, tidak ada respon ruang ini.

Ada beberapa karya aja yang berhasil. Yang cukup menarik bagi saya adalah karyanya Arya Pandjalu. Dia benar2 merespon bahwa harus dibedakan ini ruangan milik siapa dan isinya apa, ternyata ini ruangan seorang yang berkecimpung dalam dunia seni juga dan terpajang banyak koleksi2. Ini menarik bahwa Arya secara otomatis mempertajam kembali keadaan disini, apa yang ada di ruangan ini. Terus dia bisa mengganggu pandangan orang lain, dia terbayangi terus.

Karya Roni Wibowo, yang memanfaatkan patung2 batu cukup menarik karena dia merespon benda2 yang ada didalam ruangan itu dan diubah secara fungsi dan posisi.

Karya2 yang lain sebenarnya terbawa arus sebuah ruangan yang kosong. Karya2 itu berdiri sendiri, sebenarnya bukan merespon tapi mengisi. Menurut saya 75% daripada karya2 totalitasnya dan kreatifitasnya kurang dalam caranya dia memvisualisasikan dan merespon terhadap ruang ini atau memvisualkan idenya.

Seandainya proyek ini bekerjasama melibatkan pihak lain misalnya seorang kurator, akan makin menarik dalam menjalankan proses kreatif itu. Posisi kurator bisa sebagai mediator antara semua pihak yang terlibat dalam proyek ini: yaitu antara seniman dan seniman, kemudian antara seniman dan pemilik rumah, kemudian ada interaksi antara seniman dengan kurator, kemudian antara kurator dan pemilik rumah.
- a. anzieb, penulis seni rupa, yogyakarta

Baiklah, saya kira, ini saat yang tepat untuk mengutarakannya. Terus terang, pameran ini membikin saya semakin percaya perihal kemampuan para perupa Yogya dalam menyiasati ruang pameran yang terbatas di kota ini dengan menciptakan ruang alternatif untuk menggelar karya. Tentu ini bukan sesuatu yang baru untuk ukuran pencapain kreatifitas di Joga. Tapi, pada hemat saya, apa yang dilakukan oleh sejumlah perupa di rumah kontrakan Michelle Chin memiliki nilai unik karena mereka mampu mengalihubah fungsi rumah Michelle Chin sebagai tempat tinggal menjadi galeri, sekalipun ini hanya bersifat sementara. Sayangnya, kesementaraan itu membuat beberapa karya dalam pameran ini tampak terbata-bata menempatkan dirinya dengan tepat di ruang yang tersedia. Jadinya mereka terlihat canggung dan tak bisa memberikan arti baru bagi ruang yang mereka tempati. Selain itu, saya melihat penempatan sejumlah karya yang terlalu padat dan sesak sehingga mengesankan mereka berebutan ruang dan perhatian penonton. Demikianlah yang bisa saya komentari dari pameran ini.

Sedikit bombastis dan memelintir, memang. Tapi, saya kira, tetap pantas untuk memberi Selamat Berpameran!

Tabik,
- wahyudin,
penulis & kurator, yogyakarta (received via email, 10 des 2004)