Budaya Visual Tandingan Lawan Arus Utama
oleh Arahmaiani

[KOMPAS, Minggu, 2 Juni 2002]

SUDAH cukup banyak tulisan, diskusi maupun komentar sekitar pasar lukisan dan dinamikanya dalam dua dekade ini dan menjadi meningkat intensitasnya dalam beberapa tahun terahir. Begitu pula pameran lukisan begitu sering diselenggarakan, baik di galeri-galeri maupun hotel dan kafe. Para pelukis begitu bergairah menekuni bidang dan kegiatan pameran. Terlintas pertanyaan di benak kita, apa sebetulnya yang dicari dan didapatkan oleh mereka? Menjadi terkenal dan kaya, siapa yang tidak mau? Atau istilahnya ABG, siapa takut?

Tersirat gambaran seakan dunia seni rupa kita adalah hanya melulu seni lukis dan "didominasi" oleh pasar lukisan, dan seniman begitu bersemangat ingin menjual karyanya saja, dan tidak bergairah untuk mencari terobosan-terobosan kreatif lagi!

Betulkah demikian? Betulkah dunia seni rupa identik dengan komersialisme saja?

Dalam kurun waktu beberapa tahun terahir juga beredar istilah pasar wacana, yaitu ungkapan untuk menjelaskan kiprah, lingkup dan ruang gerak "pasar" perupa kita di dunia internasional. Ia memang digerakkan oleh sistem pasar, namun tidak harus berarti komersial karena sifatnya sebagai budaya visual tandingan (visual counter culture) mengimbangi sistem "arus utama" (mainstream). Tradisi menandingi arus utama di arena seni rupa internasional memang sudah ajeg dan terus dijaga, di wilayah inilah para perupa kita yang memasuki arena internasional diakomodir. Lalu, apakah hal itu tidak terjadi di arena seni rupa lokal?

Kegiatan mereka tidak atau belum banyak diberitakan, kebanyakan dari para praktisi adalah seniman-seniman yang belum dikenal, bahkan sebagian masih terdaftar sebagai mahasiswa di akademi seni rupa, serta beberapa seniman yang sudah dikenal, namun memiliki semangat untuk "mencoba hal baru". Mereka bekerja baik secara individu maupun berkelompok tersebar di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogya.

Tengok saja kegiatan-kegiatan kawan-kawan seniman yang bergabung dengan Ruang Rupa di Jakarta. Sejak didirikan dua tahun yang lalu dengan Ade Darmawan sebagai direktur, institusi tidak resmi ini telah menyelenggarakan dan mengelola seabrek kegiatan, baik di ruang mereka sendiri (seperti kegiatan workshop satu bulan untuk para seniman, di mana seniman bisa bekerja dan sekaligus memamerkan karyanya) maupun di galeri atau ruang di luar. Orientasi mereka sama sekali tidak komersial.

Kelompok ini juga aktif membina hubungan dan jaringan dengan seniman-seniman di luar negeri, selain mengundang untuk berkarya dan berpameran di ruang mereka di antaranya seniman dari Afrika, Amerika Selatan maupun Eropa (Timur dan Barat). Kegiatan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat (minggu ini) adalah workshop dan presentasi seniman-seniman yang tergabung dalam Rijks Akademie International Network (RAIN). Ruang Rupa juga baru-baru ini telah mendapatkan penghargaan Unesco pada Biennal Kwangju di Korea Selatan.

Beralih ke Bandung, kita akan menemui Galeri Fabrik yang dikelola dan didirekturi oleh Asmujo Irianto, memperkenalkan konsep ruang yang lain lagi. Galeri ini, selain didedikasikan untuk pameran karya-karya "alternatif", juga dimaksudkan untuk bisa bergerak berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ide dasar: galeri yang "mendekati" publik, jadi bukan publik yang harus mendatangi galeri! Galeri ini juga tidak hanya memamerkan karya perupa "lokal" (seperti Syagini dan Gus Barlian), tapi menggabungkanya dengan seniman-seniman dari Jogya dan Jakarta (seperti S Teddy dan Handiwirman). Selain itu, juga direncanakan untuk menampung pameran seniman mancanegara.

Ada juga Galeri Barak yang dimotori Arief Yudi (yang kini sedang tidak aktif karena harus pindah dari tempat lama: sebuah ruang di barak tentara di Jl Setiabudi). Patut dicatat, kegiatan-kegiatan yang telah mereka selenggarakan memamerkan karya-karya "alternatif" dan menyelenggarakan festival-festival seni rupa pertunjukan (performance art).

Di Yogya-tempat yang paling banyak kegiatan maupun praktisinya-selain Rumah Seni Cemeti yang sudah mapan dan beberapa waktu lalu baru saja menyelenggarakan kegiatan workshop dan pameran (gabungan seniman Yogya dan Belgia) menggarap bahan bambu di ruang terbuka di Desa Nitiprayan serta pameran Asmujo yang mengkritisi pasar lukisan kita di Rumah Seni Cemeti. Kita juga akan menemui beberapa kegiatan yang tak kalah menariknya, baik di ruang yang sudah dikenal maupun ruang baru yang diciptakan/dibuat untuk keperluan kegiatan kreatif.

Sekelompok seniman muda telah menyelenggarakan sebuah "proyek" pameran di Desa Soboman (sebut saja kelompok Soboman). Yang menarik dan luar biasa dari pameran ini adalah konsep pendekatan ruangnya. Kenapa disebut sebagai sebuah proyek karena pendekatan mereka terhadap ruang sama sekali berbeda dari yang biasa dilakukan dalam sebuah pameran. Seniman diundang untuk berhadapan langsung dengan ruang yang dipilihnya dan dinegosiasikan dengan peserta lain, lalu berkarya di sana "merespons" ruang tersebut. Ada banyak ragam karya yang lahir dari cara pendekatan ini, misalnya, karya di bak mandi yang dipenuhi imaji mata (karya Angki Purbandono) ataupun imaji abstrak pada kain yang dipasang di atap rumah (karya Narpati Awangga), juga karya audio anjing menggonggong ketika melewati gang dalam rumah (karya Arif Wicaksono) dan karya video dengan monitor televisi di bawah meja makan kaca (karya F Tejo Baskoro).

Meminjam rumah salah seorang peserta dan juga salah satu motor dari kelompok ini, I Made Aswino Aji, kelompok ini bekerja, berdiskusi tentang konsep mereka selama kurang lebih tiga bulan. Rencananya akan terus menggarap gagasan ini dan kemungkinan-kemungkinannya serta merespons ruang-ruang lain, maka itu disebut sebagai sebuah proyek.


Selain itu, juga ada Gelaran Budaya yang beberapa waktu lalu menyelenggarakan pameran yang menarik dengan tajuk: "Seni Konsep". Ini juga segar karena menampilkan karya-karya "yang tidak biasa" dan yang mengejutkan pesertanya ternyata banyak! Mulai dari yang belum dikenal namanya sampai yang sudah terkenal macam Moelyono dan Samuel Indratma. Seperti kita ketahui, seni konsep biasanya sifatnya bergulat dengan pemikiran (cerebral), jadi ternyata masih banyak seniman yang ingin mengolah pikirannya selain "rasa"-nya (dan "kantong"-nya). Dan, apabila menilik karya-karyanya begitu kaya pemikiran akan hal-hal seputar kehidupan dan imajinasi yang muncul dari para seniman tersebut juga begitu beragam. Terasa ada kebebasan untuk berkreasi sekalipun mungkin masih dalam tahap awal.

Galeri lain yang juga sedang menggarap kegiatan menarik lainnya adalah Galeri Benda (yang didirekturi oleh Satya Bramantya) yang akan menyelenggarakan pameran bersama seniman Yogya dan Singapura. Ini proyek yang prosesnya sudah berjalan dan gagasannya sedang digodok dan diolah, di mana pendekatan ruang juga menjadi hal penting selain kerja sama serta respons antarkelompok (Yogya atau Singapura) yang kemudian dibagi lagi atas kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka harus berkarya di dalam ruang yang sudah ditentukan di mana masing-masing kelompok akan mendapat giliran untuk "merespons" karya dari kelompok terdahulu. Karya ini akan direalisasikan dan dipamerkan pada bulan Januari mendatang.

Selain ruang-ruang dan perupa-perupa yang mengolah kemungkinan-kemungkinan kreatif ini yang tidak boleh kita lupakan adalah para praktisi seni rupa pertunjukan (performer), yang begitu bersemangat sekalipun karyanya tidak ada pasarnya! Komunitas seni jenis ini tersebar diberbagai kota dan daerah, sebut saja Jakarta, Bandung, Bali, Yogya, Medan, Padang, dan Makassar.

Seniman-seniman ini lewat bahasa "pertunjukannya" menggarap tema dan isu, mulai dari yang personal-psikologikal hingga masalah sosial-politik, ekonomi, teknologi dan jender. Dari yang kental, dengan elemen dan suasana teatrikal, sampai yang sulit dibedakan antara karya dan kehidupan sehari-hari yang nyata.

Bisa tampil sebagai individu: Mimi Fadmi, Yoyo Yogasmana, Deden Sambas, Christiawan, Isa Perkasa, Iwan Wijono, Venzha, Jompet, Kachung, Firman Jamil maupun Tisna Sanjaya dan Nyoman Erawan. Ataupun kelompok-dari Yogya: Geber Modus Operandi yang banyak mengolah elemen dan efek-efek visual dalam karyanya, baik dengan menerapkan teknologi canggih maupun sederhana (hi tech dan low tech) dan Marzuki bersama Performance Fucktory-nya juga menerapkan teknologi dikombinasikan dengan ujian "ketahanan" tubuh ataupun, Perek, kelompok seniman perempuan yang kerap mengangkat masalah-masalah perempuan dalam karyanya, dan Kelompok Taring Padi yang sering mengangkat isu politik lokal maupun global. Dari Bandung ada Gakenk dan Ganiati yang menerapkan salah satu metodologi berkarya yang bersifat provokatif, antirutinitas, perilaku sableng, perilaku ekstrem yang melawan arus secara sosial maupun psikologikal.

Yang patut dicatat di sini adalah para performer ini bisa tampil di mana saja, mulai dari gedung pertunjukan, galeri, rumah, sampai ruang-ruang publik yang terbuka bagi siapa saja. Jelas, bagi para seniman ini konsep ruang sudah menjadi sangat terbuka, dan mereka mendekatinya dengan sangat bebas.

Dengan mengemukakan sekian banyak (itu pun belum seluruhnya tersebutkan) bukti kegiatan "tandingan" atas kegiatan yang lebih mapan bisa disimpulkan bahwa masih ada banyak seniman kita yang aktif berkarya secara kreatif mengolah kemungkinan-kemungkinan estetik dan selalu berusaha "menemukan" kembali seninya. Walaupun dihadapkan pada tuntutan kehidupan konkret sehari-hari yang harus dipenuhi (dan dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang sudah bisa dipastikan sulitnya keadaan yang harus dihadapi), ternyata tidak semua berpikir dan membuat karya untuk laku di pasaran, bahkan dalam beberapa kasus sepertinya para seniman ini tidak ambil pusing soal mencari nafkah lewat penjualan karya, dan lalu mencarinya lewat sumber dan cara lain.

Selain itu, yang sangat penting untuk digarisbawahi di sini adalah kenyataan bahwa dengan berbagai kemungkinan metodologi dan pendekatan ruang yang "tidak biasa"-di mana ternyata perhatian menjadi lebih ditujukan pada proses dan bukan pada produk akhir. Hal ini menyebabkan laku dan sikap yang sangat berbeda dalam memandang dan memperlakukan seni maupun kehidupan.

Semoga keadaan ini bisa terus dikembangkan dan terjaga.

* Arahmaiani, Perupa