KOMPAS Minggu, 24 Juli 2005 (Seni & Budaya)

"Jendela", Air yang Merembes di Balik Tembok
Oleh: Putu Fajar Arcana

Karya-karya para perupa yang tergabung dalam Kelompok Jendela tak ada yang istimewa. Setidaknya pameran mereka, 20 Juli-1 Agustus 2005 di Nadi Gallery Jakarta, mengabarkan tentang pencarian mereka yang masih bersikutat seputar alam dan benda; sebuah pelajaran di masa-masa awal kepelukisan seseorang yang memilih jalan akademis.

Mengapa tiba-tiba kelompok yang dibentuk oleh para mahasiswa seni berdarah Minang di Yogyakarta pada awal tahun 1990-an ini menjadi cukup signifikan untuk dicatat?

Kehadiran mereka pertama-tama boleh kita analogkan sebagai air yang merembes dari balik tembok. Ketika kancah seni rupa kontemporer Yogyakarta dikuasai oleh karya-karya bercorak realisme dan surealisme dengan fokus pendekatan yang bercirikan kritik sosial, karya para perupa ini seperti tak bergeming. Mereka perlahan merembes sampai akhirnya ”membasahi” sebagian perhatian para kritikus, dan terutama para kolektor.

Dalam pameran bertajuk Biasa itu, ya memang biasa-biasa saja. Namun, ada pengamat yang menyebut ”kebiasaan” pameran ini sebenarnya bisa dikategorikan sebagai antitesis dari situasi perupaan kontemporer di Tanah Air. Di tengah gairah seni abstrak misalnya, Handiwirman Saputra malah sibuk dengan seri karya bidang dan bayangan. Enam dari delapan karya yang ia pamerkan berkisar seputar peneguhan perspektif, permainan bidang, dan pencahayaan. Bahkan, dalam pikiran yang berbau artifisial, Handiwirman menerjemahkan pencahayaan itu sebagai lampu neon dalam karya Cahaya dan Bayangan (2005). Tidak istimewa, bukan?

Relasi volume
Seri karya Handiwirman lainnya mengambil kertas sebagai subject matter untuk mengenali volume benda. Tampaknya ia ingin mencari relasi antara volume dan bentuk-bentuk lipatan, yang kemudian diharapkan mengonstruksi unsur-unsur perupaan.

Kecenderungan yang sama juga dilakukan oleh Jumaldi Alfi lewat seri karya benda-benda padat menyerupai sebuah batu. Pada Alfi bahkan kepadatan volume dalam benda diposisikan dalam keluasan ruang. Dan di ruang itu, ia mencoba memberi kode-kode sebagai semacam upaya ”pemadatan”. Dengan demikian karya-karya seri ini jauh dari kesan surealistik.

Sebagai mahasiswa patung yang akrab dengan volume, tetapi tiba-tiba ”harus” melukis, Yusra Martunus tampak kehilangan orientasi. Oleh sebab itu secara malu-malu ia memamerkan seri karya ”belum ada lukisan” dalam balutan dua warna hijau dan kuning muda. Lipatan-lipatan yang guratkan hadir dalam kerangka pemahaman terhadap benda-benda yang flat.

Pencarian relasi volume dalam dimensi ruang tampak lebih meyakinkan ditampakkan Yunizar dalam seri abstrak. Pada karya Besi (2005) ia meneropong tingkat abstraksi yang mampu ditunjukkan oleh benda jenis logam bernama besi. Dengan mengguratkan garis secara berputar dan berulang untuk memenuhi seluruh bidang gambar, pelukis ini sedang mengeksplorasi secara gigih peranan volume. Maka sangat terasa gambar menjadi padat, kendati ”hanya” dikonstruksi oleh celah-celah garis.

Begitu pun ketika ia melukiskan Angin dan Tanah (2004). Karya ini tidak jatuh menjadi representasi dari realitas angin dan tanah. Keduanya dihadirkan secara diametral, untuk semakin menegaskan kepadatan masing-masing.

Barangkali yang agak berbeda ditunjukkan Rudi Mantofani. Ia hadir dengan karya-karya hijau-raya, yang barangkali berasal dari memori-memori masa kanaknya di ranah Minang. Sejenak dalam karya Pagar Bumi (2005) ia berupaya menghadirkan hijau-raya sebagai simbolisasi terhadap diskursus pentingnya pelestarian alam. Sejenak kemudian dalam Celah Lembah (2005), ia hanya memberi berhenti pada penuturan yang datar. Dua bukit, di mana terdapat jalan mulus di celahnya, tidak hadir sebagai bahasa tanda.

Meski begitu tidak berarti karya Rudi gagal sebagai bentuk-bentuk pemaknaan terhadap alam dan benda. Setidaknya ia memberi angin sejuk di tengah gegap gempita warna-warni seni rupa kontemporer kita. Dan kelima perupa di Nadi Gallery itu justru sedang ”berupaya” mengembalikan carut-marut seni rupa yang bergerak liar sejak era jlebred art itu. Upaya mereka adalah air yang merembes dari balik tembok....