KOMPAS, Minggu, 21 Maret 2004

Seni Petai dan Ember Butut: Pameran Seni Rupa "Object(ify)"

Apa yang nyata di dunia ini? Apakah itu sesuatu yang kasatmata saja? Bagaimana kalau yang kasatmata itu berada di ruang atau di dalam situasi yang tidak semestinya?

Berbagai pertanyaan itu segera menyembul ketika menonton pameran "Object(ify)" karya 14 seniman di Nadi Gallery Jakarta, 16-28 Maret 2004. Temanya adalah alam benda.

Ada 26 karya yang disuguhkan, sebagian berupa lukisan, sebagian lain menggunakan media campuran. Yusra Martunus umpamanya dalam "0422" (Ruang Terawang Series) memasang pegangan pintu "betulan" di tengah lukisan awan dan langit. Lampu sorot menimbulkan bayangan benda tempel itu ke bidang gambar.

Paduan antara ilusi dan kenyataan itu mengundang rasa ingin tahu. Pintu apa yang ada di angkasa, ruang apa, siapa penghuni, kehidupan seperti apa yang tengah berlangsung di sana?

Rekannya, S Teddy D, menggunakan sejumlah paku yang ditempel di kanvas dan diwarna, memberi citra cangkir berisi paku, berikut tulisan "BOM" di bawahnya. Pada kanvas sebelahnya ia memasang seutas rantai yang juga dilumuri warna. Karyanya, Segelas Paku dan Rantai Air Mata (2004) ini, mengungkit unsur kekerasan dan penderitaan di dalam garap yang rapi dan teduh oleh pilihan warna yang lunak. Karyanya yang lain, The Lost Toy & Oryza Sativa, indah sekaligus mencekam oleh tempelan boneka beruang (teddy bear) kesayangan anak-anak di ruang luas, berdamping dengan tempelan batang-batang lalang, semua di dalam warna merah darah.

Rudi Mantofani memainkan kesan dua dan tiga dimensi. Ia menggambar secara realistis buah apel terbelah, dan bidang irisannya ia lukisi pemandangan laut, gunung, dan langit. Apel itu terletak di tengah kanvas berwarna gelap. Itulah lukisannya Luas dan Terbatas yang ia garap tahun 2003.

Di dalam karya berjudul Luas dan Terbatas, yang ia garap tahun 2004, ia juga membuat patung fiberglass berbentuk apel terpotong, namun warna kulitnya abu logam. Pada permukaan potongan ia juga lukiskan pemandangan gunung, langit, serta dataran hijau. Kedua karya itu dipasang berdempet, yang memungkinkan orang menikmatinya secara bersamaan.

KARYA-karya dari 11 peserta pameran lainnya praktis dikerjakan secara dwimatra di atas kanvas. Tampak jelas mereka menggunakan "jurus" alam benda ini untuk mengungkap perkara-perkara yang sering tidak kasatmata, yang berkait dengan nilai. Hal itu sering ditekankan lewat pemilihan judulnya, yang di dalam pergaulan seni masa kini lumrah dianggap bagian sah dari karya seni.
Lihatlah lukisan akrilik campur pensil dari Febri Antoni. Lukisan berjudul RSS itu menggiring ingatan akan ketegangan antara jumlah penduduk dan keterbatasan lahan. Ia menjajarkan berbagai model rumah lebah atau serangga. Timbul pertanyaan, apa beda antara makhluk-makhluk mungil itu dengan manusia di Jakarta?

Eddi Prabandono membuat Waiting (2004) yang berisi gambar kebiruan patung kepala Buddha dan sebuah pesawat telepon dengan kabel yang terpotong. Ia mendorong kita merenung tentang kemodernan yang bisa jadi telah menghalangi kita untuk mencapai ketenteraman atau kesadaran tertinggi.

Pada karya F Sigit Santoso, Tapak (2004), pertanyaannya boleh seputar peradaban, atau bahkan kehidupan, yang selalu terancam. Ia melukiskan secara realistis tapak sebuah sepatu, dan di sana tergambar sesosok manusia dewasa bergelung mirip bayi. Tapak sepatu itu-langkah evolutif spesies manusia?-dikelilingi butiran-butiran mirip planet yang beberapa di antaranya berbentuk paku payung yang runcing.

Sementara itu, Handiwirman menyuruk ke balik watak benda sambil mengais maknanya. Painting of The Art Work Series (2004) merupakan karyanya yang melukiskan sebidang bundar kumpulan puntung rokok yang memberi sensasi optik. Ia mengajak bertanya, berapa jumlah gram racun nikotin yang sudah menempel di sudut paru pengisapnya, berapa rupiah sudah dibakar, namun juga berapa mulut dihidupi oleh buruh yang melintingnya? Memang tidak ada yang mutlak benar atau mutlak salah.

Masuk sedekat mungkin ke alam benda banyak dilakukan para seniman muda. Dewa NGK Ardana misalnya (tidak ikut pameran) menggambar sangat rinci sebutir bawang sehingga ukurannya yang besar membuat kesadaran berbeda. Di dalam pameran ini, Kokok Purwandhi Sancoko menggambar beberapa papan petai (Seni Petai, 2004) dan cabai (Hot Stuff, 2004) secara close-up. Ia membuatnya indah bak bunga mekar, dan dengan itu memelesetkan maknanya. Sasya Tranggono setia dengan makna bunga-bunga yang dilukisnya dengan cat air secara sangat dekat dalam Long and Lasting Love (2004) dan The Joy of Love (2004).

Bagi Dewi Aditya, alam benda lebih merupakan sumber berbagai gejala bentuk dan warna, yang bisa ia pilih, reka, dan tata sesuka hati. Karya-karyanya menjadi hangat dan akrab seperti Stiffness Sugary Red Jelly Water (2004) maupun Not Everyday Candy (2004).

Lagak para seniman ini memang khas. Yunizar memanfaatkan pemandangan melankolis sebuah sepeda di tengah padang berlatar pegunungan (Menjelang Malam, 2003), namun juga kerasnya hidup lewat sebuah ember butut (Benda, 2004). Ia menampakkan goresan dan sapuan yang kuat.

Erizal AS menggabungkan kekuatan garis dengan pewarnaan memikat dalam membentuk sejumlah besar buah apel (Apel Harapanku, 2004). Feri Eka Chandra menekuni serabut garis-garis yang bergelombang, yang seakan tumbuh sendiri menemukan berbagai bentuk seperti segerombolan anjing (Competition dan Di Pikiran Ibuku Tak Ada Anjing).

Dengan teknik gambarnya yang kuat Dikdik Sayadikumullah memadukan dua lukisan, yang menggambarkan sudut kehidupan berbeda. Pada Moslem Still Life ia memajang sarung di gantungan dan topi haji di bawah. Pada Guard Still Life posisi-posisi itu diisi peralatan khas dan tengkorak manusia.

Pameran ini ikut menegaskan satu hal: tidak harus tema yang hebat dan serba gempar untuk membuat kesenian yang baik. Petai, bunga, dan ember pun bisa berharga. (EFIX)