KOMPAS 17 April 2007

Ugo Untoro dan Eksplorasi Seni Kuda

oleh ILHAM KHOIRI

Berawal dari kesedihan akibat kuda kesayangan mati, Ugo Untoro (37) melahirkan berbagai karya seni rupa yang menyodorkan tragedi kuda. Totalitas, kekuatan gagasan, dan daya ungkap dalam karya-karya itu menempatkannya sebagai salah satu seniman yang menonjol di Indonesia.

Eksplorasi Ugo tentang dunia kuda itu dipamerkan dengan tajuk Poem of Blood di Galeri Nasional, Jakarta, 11-26 April. Memasuki ruang pameran, pengunjung disambut berbagai lukisan, instalasi, video, animasi, fotografi, atau obyek yang mengguncang. Maklum, semua karya tahun 2006-2007 itu memaparkan semacam biografi visual kuda yang tragis.

Karya berjudul The Last Race, misalnya, berupa seekor kuda tanpa kepala yang tersungkur mengenaskan di tengah landasan pacu. Karya lain, Trojan, berupa tubuh kuda yang mengisut sehingga tinggal kulit yang terhampar di lantai. Meski begitu, kaki kuda yang kempes dan lunglai itu masih terikat erat pada empat roda.

Pada The End of Badai, Ugo menyajikan kotak besar berisi pasir dengan beberapa tapal kaki kuda. Salah satu tapal itu terciprati darah kuda yang tewas. Poem of Blood berwujud 10 kulit kuda tanpa kepala yang digantung. Bagian punggung kulit kuda itu dicap berbagai kata, seperti sword (pedang), fire (api), soul (jiwa), atau tears (air mata).

Ditampilkan juga video penjagalan kuda, perangkat besi untuk mencap kulit, potongan kulit, kuda yang diawetkan, dan kerangka kepala kuda. Ada juga animasi sosok kuda serta rekaman suara derap dan ringkikan yang bisa didengarkan dalam lorong gelap.

Obyek-obyek yang tampak horor itu menggumamkan paradoks nasib kuda. Binatang itu setia melayani, bahkan mengantarkan manusia membangun peradaban selama berabad-abad. Namun, saat mesin industri makin canggih, kuda disingkirkan. Kuda yang cacat atau tua dibiarkan mati, atau berakhir di penjagalan.

Proyek Poem of Blood merangsang refleksi, betapa manusia yang terpasung nafsu berkuasa menjadi telengas terhadap makhluk yang setia melayaninya. Nasib tragis kuda adalah saksi bisu atas pengkhianatan manusia yang mengklaim diri sebagai modern dan rasional.

Totalitas

Poem of Blood menunjukkan totalitas berkesenian Ugo. Memelihara kuda sejak tahun 2003, dia kemudian kehilangan kuda kesayangannya, Badai Lembut. Saat mencari kuda baru di Pleret, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dia justru menemukan tempat penjagalan kuda yang tragis.

Ugo lantas melakukan studi mendalam tentang sejarah kuda. Dia bermain dengan pernah- pernik kuda, mulai dari kulit, tulang, cap besi, arena pacuan, jerami, arang, suara ringik kuda, penjagalan, sampai roda gerobak. Material itu diolah menjadi lukisan, fotografi, instalasi, video, animasi, atau ditata sebagai obyek yang utuh.

Tak terjebak dalam kegenitan estetis, semua material yang berhubungan dengan kuda justru hadir sebagai saksi, mengisahkan kejujuran yang mengagetkan. Pada titik ini, Ugo piawai meramu bahasa visual yang cukup segar dan meyakinkan.

Sebenarnya seniman asal Inggris, Damien Hirts, pernah mengejutkan dunia seni tahun 1990-an dengan membuat karya potongan tubuh kuda yang diawetkan dalam kaca. Namun, Ugo—berangkat dari pengalaman pribadi—tetap memiliki daya ungkap yang unik dan sedikit romantis.

Bergulat

Ugo terus bergulat mengeksplorasi gagasan dan visual seni rupa kontemporer. Dia tak larut dalam jebakan berbagai "isme" atau gaya, apalagi berkutat pada satu pendekatan visual demi mempertahankan cap identitas pribadi. Bagi dia, kualitas karya seni tak terletak pada media, teknik, atau bahan, melainkan bertumpu pada kekuatan gagasan.

"Seni lahir di ruang hampa. Ketika masuk dan berhadapan dengan material dan gagasan, saya seperti kesurupan. Saya bergulat dan bermain dengan melibatkan pikiran, jiwa, dan badan, tanpa tahu persis bagaimana hasil akhirnya," katanya.

Perjalanan kreatif Ugo tercermin dalam 11 kali pameran tunggal. Pameran di Bentara Budaya dan Galeri Cemeti, Yogyakarta, tahun 1995 dan 1996, contohnya, mengungkap corat-coret atau grafiti di jalanan secara unik. Pada pameran di Surabaya tahun 2001, dia membuat boneka dan catatan harian untuk anaknya yang menderita sindroma down. Dia melawan dominasi sejarah orang besar dengan merangkai tokoh wayang rakyat jelata yang tak dikenal dalam pameran di Nadi Gallery, Jakarta (2002).

Ugo kerap mengejutkan dengan loncatan eksperimen. Dia menulis cerpen pendek sekali (cerpenli) yang terdiri atas 3-4 paragraf. Temanya bermacam- macam, termasuk pengalaman pribadi. Dalam salah satu cerpenli, dia menulis dengan tengil: "Kukira, dulu, Muhammad Ali itu orang Indonesia."

"Saya suka berbagi cerita, tetapi tidak tahan menulis panjang. Kenapa tidak membuat cerpen yang pendek sekali?" katanya. Kumpulan cerpenli semacam itu dipajang Ugo dalam pameran Short-short Stories di Kuala Lumpur dan Singapura.

Menurut pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, keberanian Ugo bereksplorasi sangat berharga di tengah banyaknya seniman yang merasa aman di comfort zone (zona nyaman) masing-masing sehingga hanya mengulang penciptaan karya lama.

Ugo tinggal di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul, bersama istri, Trisni Rahayu (46), dan anaknya, Tanah Liat (9). Keluarga itu memelihara beberapa kuda yang jadi inspirasi seni. Begitu hormatnya pada kuda, bahkan pameran Ugo bertajuk My Lonely Riot di Bali (2006) dibuka seekor kuda bernama Si Putih.

"Saya naik Si Putih masuk ke ruang pameran. Kuda itu lalu saya tuntun untuk mendengarkan penjelasan tentang lukisan-lukisan yang dipajang," ujar Ugo.