SINAR HARAPAN, 15 MARET 2007

“Poem of Blood” ~ Kuda-kuda Ugo yang Teronggok dan Teraniaya
oleh Yuyuk Sugarman

Yogyakarta–Sadis, jauh dari sisi keindahan dan justru mengarah ke persepsi sebuah hasil pembantaian. Begitulah kesan yang terlintas di benak ketika melongok pameran “Poem of Blood” Ugo Untoro yang kini tengah digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) hingga 17 Maret mendatang. Betapa tidak, kuda-kuda yang telah mati di penjagalan itu dihadirkan, dipertontonkan – tentu saja setelah diawetkan.

“Pameran yang saya gelar kali ini mencoba fokus pada kekejaman manusia terhadap kuda,” kata Ugo Untoro, seniman yang pernah mendapat award Philip Morris tahun 1994 dan 1998.
Sebuah instalasi yang menunjukkan seekor kuda tengah tersungkur mati di atas pasir di sebuah jalanan dan diberi judul “The Last Race”, merupakan salah satu contoh – dalam pandangan Ugo - dari sebuah “kekejaman” manusia terhadap kuda. Demikian pula dengan onggokan-onggokan sebagian tubuh kuda yang digantung, atau sebuah kepala kuda yang matanya terlihat bolong tergeletak begitu saja memperkuat keinginan Ugo untuk menunjukkan ketidakperikehewanan.
Ugo memang sengaja menghadirkan kuda-kuda yang “teraniaya” tersebut. Ini penting, karena, menurut Ugo, kuda mempunyai peran penting dalam perkembangan sejarah peradaban manusia. Dengan keringat serta darahnya ia menghantarkan manusia mengenal sudut-sudut bumi yang lain—ketika alat transportasi modern belum diciptakan. Dengan menunggang kuda manusia melakukan ekspansi, berperang dan menaklukkan bangsa asing, mengusung barang atau sebagai alat transportasi. Sementara di sisi lain, kuda juga dijadikan simbol keperkasaan laki-laki ataupun kecantikan seorang perempuan.

Namun, menurut Ugo, kuda-kuda yang mempunyai peran besar itu segera tersingkirkan, terbuang ketika ciptaan baru terlahir (mobil, tank, pesawat). Setelah mengantar manusia menuju peradaban, kuda mati di jalanan aspal berasap dan tempat penyembelihan. “Bisa dibilang kuda adalah paradoks yang tragis dari budaya modern,” tutur Ugo.

Untuk itulah Ugo mencoba menggugah siapa pun bahwa eksistensi kuda tak bisa dihapuskan, diabaikan begitu saja. Dengan kata lain, ia mengatakan, kuda menyimpan sisi tragis kemanusiaan dan menyimpan brutalitas sejarah kemanusiaan. Sementara, lanjut Ugo, tak bosan-bosan manusia mencederainya, membantainya. “Manusia takut kuda ‘berbicara’ memberi kesaksian,” tegasnya lagi.

Kecintaan pada Kuda

Apa yang ditampilkan Ugo dalam pameran kali ini harus diakui sebagai perwujudannya dalam menggemari serta kecintaannya pada kuda yang dimulai sejak tiga tahun lalu. Bahkan, kini ia memiliki beberapa ekor kuda yang dipelihara dengan saksama serta dimanusiakan. Meski ia juga mengaku pernah sekali makan sate kuda, “enak, katanya.”

Maka ketika dirinya mendapatkan kuda-kuda yang tercampakkan dan tak punya hak untuk hidup lagi - meski hanya menderita cacat yang didapat, misalnya, dalam sebuah lomba – dan harus berakhir hidupnya di rumah jagal, hati Ugo menjadi galau. Kegalauan ini lantas diejawantahkan dalam karya seni yang tengah dipamerkan di TBY dan menurut rencana pada Mei mendatang akan digelar di Bentara Budaya Jakarta.

Dalam pandangan Jim Supangkat yang bertindak sebagai salah satu kurator pada pameran “Poem of Blood” ini, pengalaman Ugo di dunia kuda membuat ia membayangkan kuda-kuda tidak berguna di penjagalan itu seperti tumpukan mobil-mobil bekas yang menggunung di negara-negara maju yang lantas dijadikan bahan baku industri baja. Personifikasi kuda, kata Jim, membuat Ugo membayangkan death row terpidana mati yang menantikan hukum tembak. “Ia bahkan berpikir, bagaimana bila nasib kuda-kuda yang tidak berguna ini menimpa pula orang-orang cacat dan orang-orang yang mengidap penyakit kronis,” tutur Jim.

Perasaan bercampur dan terguncang yang membangkitkan kontemplasi semacam itu, menurut Jim, merupakan dasar ekspresi Ugo. Ekspresi ini punya jarak dengan pertimbangan rasional. Ugo tidak terlihat indikasi ingin mencari makna dengan merasionalkan ekspresinya. Ekspresinya tidak bisa dibaca secara gampangan, ingin membela hak-hak asasi kuda dengan membangkitkan kesadaran ketidakadilan yang dialami kuda.

Ekspresi yang tampil melalui berbagai media dan memperlihatkan pula pengembangan berbagai idiom, kata Jim, mencerminkan persepsi Ugo tentang pengkhianatan manusia pada bakti kuda. Persepsi yang bersifat personal ini merupakan renungan terbuka yang tidak menuntut pembenaran. “Inilah persepsi yang memperlihatkan proses sofistifikasi citra keindahan kuda. Ugo melihat ekspresi ini sebagai puisi tentang darah,” tegas Jim.

Sementara itu, Suwarno Wisetrotomo, pengamat seni yang juga bertindak sebagai kurator, menilai pameran yang ditampilkan Ugo adalah “biografi visual tentang kehidupan yang nyeri dan ngilu melalui kisah senjakala sang kuda hingga berada di titik akhir guna. “Bagi saya, melalui melodrama kuda yang menggetarkan itu terpancar aura pencerahan yang hangat, menelusup dan menyusuri pori-pori kesadaran. Bagi saya, inilah pengalaman untuk merasakan keindahan yang menggugah,” katanya.