KOMPAS, 15 April 2007

Kepedihan Sang Koboi
oleh Wicaksono Adi

Semula kuda adalah alam, lalu dipungut anak oleh manusia, dijadikan kaki peradaban, alat yang hidup, bernapas, makan, minum, berlari, megah, licin, pelik, sederhana, maskulin, libidinal, efektif, lalu lapuk, tersungkur, mati, kadang terbantai dan dilupakan. Kuda dan sejarahnya bukan sesuatu yang ada begitu saja melainkan hasil ’ciptaan’ manusia, termasuk hikayat penghancurannya.

Itu semua terangkum gamblang dalam katalogus pameran bertajuk Poem of Blood karya seniman Ugo Untoro, 12-16 April 2007, di Galeri Nasional, Jakarta. Rangkuman serupa juga terdapat pada sebuah puisi yang dicoretkan si seniman pada karya berjudul This is It. Tapi jika Anda mendatangi pameran seni tersebut lebih dulu, jangan membaca katalogus dan puisi tersebut. Bacalah rumusan itu setelah Anda berada di rumah. Datanglah pada saat ruang pameran dalam sunyi, jumpailah para kuda yang tersungkur di tanah berbatu runcing yang mendecit oleh cambukan matahari dan waktu.

Kepala kuda hitam terbenam dalam batu atau beton atau bongkahan waktu. Lalu kuda hitam kemerahan adalah tanda, mungkin juga almanak, sebilah pisau, seutas tali, kaki dan leher terpotong, terayun-ayun di antara tubuh terpotong dan tubuh menyilang, menyuruk pada puing-puing, tempat kita pernah mengenal bayang-bayang maut.

Pasa sebuah kandang dan rumput kering dan bekas unggun mereka yang pernah berkemah di sana dan kembali sebelum senja, masih ada lingkaran ajal di pasir. Potongan kaki, tulang kepala, besi runcing, sepasang sayap, kawat jemuran, rumah jagal yang dipenuhi juntaian tali dan pisau yang berlelehan darah, almari berkarat, jerami dan sanggurdi, adalah kerabat maut yang suka bicara kepada para penakluk.

Tapi apakah dengan melupakan mereka kita akan terbebas dari bayang-bayang?

Barangkali dengan membuat galian baru kita akan memanggil arwah yang telah berangkat jauh bersama asap lalu saling berjanji untuk berjaga di garis depan ketika mereka kita tanam bersama fondasi dan talu mesin sehingga timbul gairah menghidupkan tangan, kaki, kepala, terayun seperti lonceng, berdiri tegak, menyusut lalu rontok sebelum mencapai gerbang. Selebihnya hanya kelam dan sunyi.

Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan pameran seni (instalasi, lukisan, video art) ihwal kuda karya Ugo Untoro. Kulit asli kuda yang mati disusun ulang menjadi seni kuda itu telah menjebloskan saya pada situasi mencekam sejarah penghancuran dari sesuatu yang hidup. Tapi tidak juga. Saya tidak sedang berada di rumah jagal tapi di sebuah galeri yang necis dan mengilap.

Saya menjumpai benda seni yang diambil dari benda-benda sehari-hari sebagaimana lazimnya karya seni rupa kontemporer hasil pilihan dan rakitan benda-benda semacam itu, lalu diberi sentuhan personal dalam kata ikatan estetik tertentu dan dinyatakan sebagai karya seni dalam kehadiran fisik dan sensous sehingga langsung dapat disentuh oleh ujung jari persepsi.
Seni di sini tidak sedang ’menangkap kuda’ dan menjinakkannya di kanvas tapi mengusung benda-benda itu secara badaniah. Ia tidak menaklukkan, merasuki, mendeformasi dan kemudian melampaui benda-benda melainkan menyodorkan benda-benda itu secara langsung.

Seni bukan menyatakan melainkan menghadirkannya, tidak merumuskan melainkan menampilkan sesuatu. Dan sesuatu yang hendak disodorkan di sini adalah sejarah kuda sebagai bagian sejarah peradaban manusia. Ini sungguh terdengar sangat ambisius.

Ambisi besar semacam itu memang banyak menjangkiti perupa kita dalam 20 tahun terakhir. Hasrat untuk menyingkap ’sejarah’ besar di balik benda-benda sehari-hari itu kadang membawa mereka pada sikap sembarangan dan asal jadi dalam menyusun tampilan benda-benda sebagai karya seni. Godaan untuk berbicara tentang banyak hal dalam sekali pukul sering menghasilkan tampilan yang riuh berdesakan dan kadang jadi nyinyir.

Kritik perihal kesenjangan antara konsep dan bentuk ini sudah sering muncul dalam berbagai diskusi dan forum seni rupa kontemporer kita. Untunglah Ugo Untoro cukup lihai menyiasati bahaya mendal alias tidak tembus apa-apa itu. Ia punya modal: keterampilan menggambar dan wawasan cukup plus keberanian bertindak edan.

Di kalangan orang seni kadang beredar omongan bahwa seniman A sebenarnya enggak pintar nggambar, seniman B lumayan bisa nggambar meski pas-pasan, si C nggambar-nya bagus, si D nol, dan seterusnya. Yang enggak pintar nggambar malah ngetop dan lihai berwacana sementara yang pintar malah terpuruk. Yang enggak pintar nggambar sekaligus otaknya kosong jadi frustrasi dan stres, bahkan ada yang weng alias jadi tidak waras.

Piawai
Ugo Untoro termasuk seniman yang lumayan pintar nggambar sekaligus suka baca buku. Kadang ia juga menulis puisi. Ia piawai membuat lukisan yang mengandung ironi, humor dan satir tapi juga bisa membuat lukisan indah dan tidak murahan guna mendapatkan uang. Ia terampil menggunakan kepekaan artistiknya berdasarkan tujuan-tujuan yang terukur pula. Dan dalam pamerannya kali ini ia tidak membawa humor, satir dan warna ringan karena dunia kudanya adalah ihwal yang serius dan gawat, suatu prosesi sublim aroma darah sejarah peradaban.
Bagi saya inilah pameran Ugo Untoro yang paling berhasil: kekuatan bentuk dan gagasannya seimbang dan sama-sama kuat. Ia berhasil mengawinkan badan kuda dengan konstelasi makna yang dikandung oleh bentuk tersebut sekaligus kemungkinan performatifnya yang luas dalam mendedahkan berbagai makna di balik sejarah manusia ’pencipta’ kuda itu sendiri pada titik pijak proses sublimasi yang timbul akibat bangkit dan hancurnya sejarah tersebut.

Saya kian senang dengan pameran ini karena bentuk-bentuk yang diciptakan ulang sangat sederhana sehingga menimbulkan daya cekam yang membawa saya pada secebis sublimasi pribadi: dalam hidup beberapa kali secara sengaja atau tidak saya mungkin pernah menyakiti orang-orang yang saya kenal maupun tidak saya kenal, dan setiap kali mengingat peristiwa itu saya memalingkan muka sebagaimana saya tidak sanggup menatap kuda-kuda yang tersungkur tanpa kepala itu. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang pernah berada dalam sejarah yang penuh luka tak terperi dan saling menghancurkan itu? Bagaimana menyeberangi kekelaman semacam itu? Apa makna sejarah di situ?

Naik kuda
Di sini Ugo telah menyodorkan sebuah puisi yang sederhana yang mudah dicerna. Tapi rupanya ia tak mau berhenti di sini. Ia membubuhkan hal-hal lain, tertera pada judul beberapa karya seperti seri Artificial Identity, Ephoslutio, Civilization, Menjemur Sejarah, Identity is Yours.

Ia hendak memperluas dan mempertegas puisinya dengan ’wacana’ tertentu yang berkaitan dengan perumusan sejarah sosial sebagaimana yang diungkai oleh wacana humaniora sehingga puisi tersebut jadi agak serebral. Darah, ngilu, nyeri dan perih yang terpancar perlahan melingkar menuju nalar, sensasi langsung dari bentuk terkurangi oleh rumusan impersonal.

Mungkin ini akibat pengenalan saya terhadap Ugo sebagai orang desa dari Purbalingga yang memiliki ketajaman artistik petualang di dasar malam di jalan-jalan kota Yogyakarta ketimbang seorang pewacana resmi serta tingkah yang kadang rada konyol. Sejak punya kuda ia sering bertandang ke teman-temannya dengan naik kuda lengkap dengan dandanan koboi melayu termasuk topi lakennya.

Sang koboi pernah nampang di depan gerbang sebuah SMU di kota Yogyakarta untuk tebar pesona di depan cewek-cewek ABG, membusungkan dada mengekang tali kuda senyum-senyum genit, tapi sialnya ia terpeleset jatuh dari kudanya diiringi tawa riuh anak-anak ABG itu. Jadi ketika membaca judul-judul yang canggih (dalam bahasa Inggris) itu saya merasa seperti anak-anak ABG di gerbang sekolah tersebut.

Wicaksono Adi, Kritikus Seni Rupa