Press Release

‘Poem of Blood’
Pameran seni visual karya Ugo Untoro

Galeri Nasional Indonesia
Jl Medan Merdeka Timur 14, Jakarta
12 -26 April 2007

Pembukaan:
Galeri Nasional Indonesia
Rabu, 11 April 2007, pk. 19.30 WIB
Oleh Larasati Gading

Kematian seekor kuda bernama ‘Badai Lembut’ rupa-rupanya telah memantik bahkan mengguncangkan secara mendalam perasaan seorang perupa bernama Ugo Untoro. Kesadaran kemanusiaan dan kesenimanannya tergugah. Refleksinya akan jutaan tahun perjalanan sejarah spesies bernama kuda bangkit. Memang, banyak peristiwa yang tampak sepele dan biasa-biasa saja di mata sebagian besar orang, dapat membongkar endapan tertentu di dasar jiwa seniman, menjadikan alasan pertamanya untuk menggubah karya.

‘Badai Lembut’, sang kuda kesayangan telah mati. Apakah itu sesungguhnya alasan utama Ugo Untoro untuk mengantar sejumlah kuda-kuda tua dan sakit ke batas akhir hidup mereka dan membawa bukti kematiannya ke tempat pameran?

Namun jelaslah, bahwa lapisan mendasar dari penciptaan karya pada ‘Poem of Blood’ adalah sebentuk sublimasi pengalaman. Sang seniman melangkah ke tahap lebih tinggi, mencari makna lebih dalam dari pengalaman kematian kuda kesayangan yang telah meninggalkan sebentuk luka di dalam jiwanya.

‘Poem of Blood’ adalah pameran karya-karya terbaru (2006-2007) Ugo Untoro berupa instalasi, obyek, seni video, fotografi sampai lukisan yang merefleksikan secara mendalam perjalanan adab manusia yang telah membawa kuda memasuki tahap tertentu seperti sekarang ini: binatang peliharaan pemuas hasrat sang maskulin.

Equus, telah berevolusi dari Eohippus, binatang seperti kancil berkuku empat puluhan juta tahun lalu, sejatinya telah mencipta mitos bersama fajar adab manusia di atas bumi. Melompat ke punggung kuda dan melompat di dataran bulan melahirkan suatu lompatan setara. Namun kuda juga penyaksi utama kebrutalan manusia, menyimpan sisi tragis kemanusiaan yang senyap. Kuda tersingkir ketika ciptaan baru terlahir: mesin-mesin perang. Setelah mengantarkan manusia menuju peradaban, kuda mati di jalanan berasap dan tempat penyembelihan, kata Ugo Untoro.

Pada ‘Poem of Blood’, Ugo Untoro, perupa yang selalu tertarik pada puisi seakan ingin menorehkan secara puitik sekaligus brutal sebuah perayaan akan tragedi. Ia menjumput tragika eksistensi kuda dalam perjalanan seiring tumbuh dan bangkrutnya adab kita. Pokok renungan ini sangatlah menggugah dan cukup mengherankan karena kedalaman yang ditunjukkan oleh ‘Poem of Blood’ lahir dari suasana seni rupa di Yogya yang cenderung anti-intelektual dan anti-bacaan.

Ugo Untoro lahir di Purbalingga, 28 Juni 1970. Belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia , Yogyakarta sampai selesai. Ia telah berpameran tunggal sejak 1995. Ugo Untoro juga menulis puluhan cerita pendek sekali (cerpenli) yang telah diterbitkan untuk kalangan terbatas (2006). Pameran tunggalnya di Art Forum, Singapura (2007), diilhami oleh cerpenli-nya, ‘Short-short Stories’. +++

Namun jika adat sketsa pada umumnya cuma berkembang melaju ke arah standar keterampilan untuk menguasai gaya coretan atau bertumpu semata pada kepekaan dan sensasi motorik, Ugo membelokkannya dengan tajam untuk bersua dengan berbagai tikungan dan peliknya problem kesadaran, membuat tabrakan yang bersifat personal di dalam ragam itu. Corat-coretnya bergulat dengan pesan dan makna, melampaui sekadar batas-batas dan standar penguasaan suatu anasir pokok yang ditabalkan demikian rupa dalam seni rupa. Di dalam lingkup adat atau khazanah yang tumpul akan tafsir dan renungan bermutu, ia melompat keluar dari gelombang manerisme, terdampar di suatu pulau tak dikenal dan mencuat sebagai jenis ‘tumbuhan’ baru yang ganjil atau sulit, boleh jadi tak sepenuhnya tampak dari kejauhan dan karena itu tak cukup disadari.

Dalam arti itu, Ugo menjadi ‘pinggiran’ dalam seni rupa dengan caranya sendiri yang sangat personal. Melukis, dia pernah berkata, serupa dengan harapan yang mengisi kekosongan dan keluasan hati, bercampur dengan harap-harap cemas dan galau pikiran para pemancing. Mereka semua sebenarnya tak pernah tahu secara persis apa jenis dan perolehan yang akan meloncat keluar dari tiap lubuk pemancingan, ataukah lubuk itu besar atau cuma secuil. Para pemancing niscaya mengharapkan suatu kejutan dengan perolehan yang heboh atau besar, tapi Ugo adalah pemancing yang selalu bernafsu membuat kejutan baru bagi dirinya sendiri, sesuatu yang mungkin saja sepele atau kecil tapi menusuk lubuk hati dan galau pikirannya di hadapan misteri upaya seniman memancing.

Ugo mengembangkan ide dan pesan dalam seni rupanya dalam lubuk semacam itu, bahkan terjun menyelam lebih dalam – juga dengan keragu-raguan- untuk menemukan bentuk huru-hara dalam kesepian dan kenyerian sendiri, suatu gelombang yang tak selalu tampak di permukaan, jauh dari riak. Tapi itulah gaya dan kecenderungan yang dikembangkan terus hingga hari ini.

Seniman ini tertarik pada larik-larik puisi. Ketertarikan itu telah mendorongnya menampilkan ragam tulisan pada gubahan visualnya yang sekaligus seringkali merupakan judul-judul karyanya. Dari segi asal-usul, tulisan atau teks-teks itu bisa berasal atau terinspirasi dari puisi karya penyair yang dikagumi tapi lebih banyak dari itu adalah judul, tulisan maupun teks-teks konotatif yang dicari dan diciptakannya sendiri.

Kelancaran aliran coretannya menunjukkan kemiripan dengan caranya menuliskan kembali teks-teks judul yang puitis. Kesan yang muncul dari hal itu adalah kemiripan atau kesejajaran watak yang diandaikan antara aliran visual dan tulisan: tulisan melahirkan imaji atau gambar dan gambar dapat dibaca sebagai tulisan justru karena keduanya mengandung benih puisi. Ut pictura poesis.

Jika kita menyimak paradigma coretannya, kita menyaksikan kecenderungannya untuk tidak membuat bentuk yang selesai atau yang utuh. Bentuk tak utuh itu menyarankan, menyediakan dan upaya berbagi ruang yang selalu masih ada untuk kita membuat atau melengkapkan tafsir atau cerita kita sendiri terhadapnya. Jika kita percaya tak ada gambar yang dapat diselesaikan oleh fungsi pemaparan suatu tulisan jenis apapun, maka itulah cara Ugo memberikan sesuatu kepada kita secara paradoksal: seakan-akan hubungan antara teks-teks visual maupun tulisannya bersifat denotatif dan dapat diterangkan makna dasarnya satu dengan yang lain.

Citra pada lukisannya selalu tampak sebagai potongan, penggalan atau episode tertentu yang dipilih sebagai paling menggugah atau menyentuh. Citra-citra sudut dan horison yang kosong, begitu hampa terasa pada lukisan dan gambar cat airnya. Kesepian pada horison-horisonnya perih dan menakutkan karena ada sosok terpiuh, terpencil dan rawan nun di sana , senantiasa menguatirkan, mengoyak khayal kita akan sesuatu yang sudah kita kenal. Citra sudut berasal dari seri sudut lukisannya yang terkenal, yang dibuatnya selama beberapa lama pada dekade yang lalu. Namun harus diakui, seri semacam itu terasa masih meninggalkan gaung panjang pada semua jenis karya Ugo.

Melihat karya Ugo Untoro adalah menyaksikan bagaimana suatu rasa kesepian melahirkan huru-hara yang menguak berbagai lapis kesadaran kita sebagai manusia. Dengan karyanya, Ugo telah memaknai huru-hara itu dengan kapasitas dan pandangan antropomorphismenya yang khas dan muram. +++

Press release ini dipublikasikan oleh panitia pameran ‘Poem of Blood’
Contact person:
Enin Supriyanto +62 855 1106 209
Heri Pemad +62 81 2156 1659