KOMPAS | Minggu, 11 September 2005

Cermin Retak di Sebuah Taman
oleh Mikke Susanto

Sebuah pameran atau proyek seni yang mengetengahkan seni lukis potret sebagai dasar kurasi sedang berlangsung. Selain jarang terjadi, peristiwa ini bisa dianggap sebagai manuver penting dalam seni rupa Indonesia. Publik disadarkan tentang egaliterisme seni lukis potret yang konon dianggap terlampau eksklusif (tidak untuk konsumsi umum dan hanya dipajang di rumah), serta biasa dipesan di studio pelukis. Hal penting lain, dalam pameran ini kita dapat melihat hubungan seni potret dan politik pasar galeri di Indonesia.

Ketika memperbincangkan seni potret, kita cenderung terpolarisasi oleh konsep ”keserupaan” dan ”identitas”. ”Keserupaan” dalam hal ini terlihat pada gambaran fisik sang obyek, sedangkan ”identitas” lebih terlihat sebagai gambaran esensial tentang karakter seseorang. Karya-karya potret cenderung beradu dan berada di antara keduanya, termasuk seni potret pesanan Anda yang ada di rumah. Namun, dikotomi ini pun sebenarnya bukanlah sebuah ambiguitas maupun konsep yang berseberangan.

Dalam perkembangan kerja kreatif (teknis dan ideologis) perupa, selanjutnya terjadi ulak-alik pemikiran. Ada perupa yang sekadar ”mencatat” (baca: sekadar melukis secara realistik hingga naturalistik), membumbui dengan berbagai cerita dan menjungkir balik realitas obyek yang ada di depannya, seperti yang terjadi dalam perkembangan seni kontemporer. Pergolakan terakhir inilah yang kemudian mengubah dasar pengertian dalam perkembangan seni potret lebih lanjut. Banyak di antara mereka (para perupa kontemporer) yang memakai tubuhnya (atau tubuh orang lain) hanya sebagai alat perantara. Mereka bisa mulai dari mencetak tubuhnya sendiri, mencemooh diri sendiri, menyakiti salah satu bagian tubuh, sampai membunuh dirinya sebagai bagian dari karya seni mereka. Inilah ”perlawanan” terhadap kemacetan wacana, lewat seni potret.

Polarisasi konsep

Pameran bertajuk the Broken Miror: Portrait of the Self yang dibuka oleh ratu kecantikan Artika Sari Dewi di Galeri Langgeng Magelang ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Secara umum, pameran yang berlangsung 1-30 September ini masih berkutat pada polarisasi konsep ”kerupaan” dan ”identitas” di atas. Pameran ini masih mengarah pada pengertian seni potret ”tradisional”: sebagai gambaran seseorang yang bermaksud untuk merepresentasikan kegairahan perupaan dan menyatakan sesuatu tentang karakter, status, profesi, atau peran sosial si subyek.

Dalam prosesnya, pameran yang pada malam pembukaannya ramai dikunjungi seratusan orang ini dimulai dengan diskusi yang dilakukan antara perupa S Teddy D dan Deddy Irianto (pemilik sekaligus berperan sebagai ”kurator” dan ”provokator” dalam pameran ini). Perbincangan ini semula lebih menukik pada persoalan kegairahan Teddy untuk merespons galeri. Namun akhirnya berkembang sebagai proyek ”dokumentasi wajah-wajah” alias workshop seni potret yang dilakukan secara simultan dan khusus di Galeri Langgeng selama beberapa waktu oleh Teddy (35), Bob ”Sick” Yudita (34), Ugo Untoro (35), Yustoni Volunteero (35), Nugroho (27), dan Wahudi (35). Secara berkala, kedatangan tamu-tamu (yang diundang atau tidak oleh Deddy) di Galeri Langgeng dilukis satu per satu, mulai dari figur terkenal, kolektor, pimpinan spiritual, art dealer, art consultant, wartawan, hingga orang biasa: WS Rendra, Garin Nugroho, Oei Hong Djien, Gus Yusuf, Agus Suwage, Joanna Lee, Made Wianta, Tanto Mendut, Melani Setiawan, Triyanto Triwikromo, Yunizar, Haris, Ming, dan lain-lain. Semuanya dilukis pada kanvas yang sama dengan cermin seukuran tubuh manusia.

Hasilnya tidak lebih dari pengertian seni potret yang diusung tadi. Rata-rata dengan visualisasi obyek yang kaku dengan tubuh terdeformasi, wajah tanpa ekspresi, dengan formasi gestur umum: berdiri/tidur/duduk, warna yang minimalis, dipadu dengan goresan dan blok warna yang kasar. Maklum saja, karena semua perupa yang terjun di sini senyatanya memang bukan pelukis potret. Kepentingan sebuah seni potret yang secara simbolis harus dituangkan pun minim, misalnya peran kostum, gestur dan pengambilan sudut pandang (yang dianggap mewakili peran sosial mereka) belum terasa seperti halnya dalam karya seni potret umumnya.

Workshop ini mungkin lebih baik disebut dengan kongko-kongko pelukis merespons tamu yang datang ke galeri yang berseberangan dengan taman dalam kota di Jalan Cempaka 8B, Magelang, itu. Sembari memaknai peran perupa sebagai ”cermin” (dalam wacana seni potret, seniman dianggap sebagai cerminan sang obyek, sekaligus pengertian bahwa cermin juga biasa dipakai oleh perupa potret dalam proses berkarya) yang mereka upayakan ”pecah” dalam pameran ini. ”Memecahkan” berbagai konvensi seni potret.

Namun, daya tarik proyek ini justru lebih mengemuka pada prosesnya. Sejak awal Deddy Irianto memang sudah mengangankan sesuatu pada Teddy, ”Bagaimana kalau melukis teman-temanku (kolekdol Magelang)… mungkin kalau suka nanti dibeli lho…”. Sampai pada taraf tertentu, Deddy juga mengagendakan lekuk liku karya yang dihasilkan, ”Aku pengin tahu apakah potret mereka, kalau mereka beli (oleh kolekdol dan kolektor), akan dijual lagi atau enggak ya? Atau apakah ini akan mendidik?”

Inilah politik pasar yang ditawarkan galeri yang mencoba meng-egaliter-kan seni potret di tengah silang-sengkarut masalah, ”bagaimana agar orang semakin gencar datang ke galeri (dan tentu saja membeli)?”

Mikke Susanto Pengajar ISI Yogyakarta

[source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/11/seni/2038727.htm]