SUARA MERDEKA

Sabtu, 03 September 2005 NASIONAL

Cermin Retak di Mata Artika

SAKSIKAN PAMERAN: Artika ''Sinta'' Sari Devi bersama Deddy Irianto tengah menyaksikan sejumlah lukisan yang dipamerkan dalam The Broken Mirror: Potrait of the Self di Galeri Langgeng, Magelang (57)

TAK lazim sebuah pemeran lukisan dibuka oleh perempuan yang berdandan sebagai Sinta. Lebih tak lazim lagi karena istri Rama itu ditandu oleh para penari warok dan rodat dari menuju ke lokasi pameran bertajuk The Broken Mirror: Potrait of the Self yang diselenggarakan di Galeri Langgeng, Jalan Cempaka 8B, Magelang, Kamis (1/9).

Rupa-rupanya sebelum didaulat membuka pameran, perempuan cantik ''jelmaan'' Artika Sari Devi -Putri Indonesia 2004- itu harus menjalankan ritual ''Andha Sinta'' terlebih dulu. Dan sesuai syarat dari pepundhen, dia tak boleh melepaskan kostum hingga acara selesai. Karena itu, tak perlu heran jika saat berpidato, membuka, dan menonton pameran dia tetap berperan sebagai Sinta.

Meskipun tak berasal dari etnik Jawa, Artika tampak luwes memerankan tokoh yang diculik oleh Rahwana itu. Bahkan, ketika berkeliling menatap berbagai lukisan, sedikit pun dia tak canggung melakoni peran unik itu.

''Ya, anggap saja ini latihan untuk berperan sebagai Sinta,'' jelas gadis manis yang pernah berlaga dalam perebutan Miss Universe di Thailand itu.

Bagaimana Artika memandang lukisan-lukisan yang antara lain menggambarkan teaterawan Rendra, sutradara Garin Nugroho, dan pelukis Agus Suwage dalam situasi santai itu? ''Saya senang melihat karya-karya ini. Para pelukis menggambar tokoh yang tidak harus dikenal luas oleh publik. Ini sangat menarik.''

Ini komentar tak berlebihan. Pasalnya Deddy Irianto, penggagas pameran itu, memang mengajak Bob ''Sick'' Yudhita, Nugroho, S Teddy D, Ugo Untoro, dan Wahudi untuk tak hanya melukis tokoh terkenal. Karena itu, jangan heran jika Anda mendapatkan penjual ikan nilam, jurnalis, pemborong, atau pedagang tembakau menjadi model dalam pameran tersebut.

''Namun yang jelas memandang lukisan ini kita seperti melihat wajah kita yang kadang-kadang tak kita kenali. Tiba-tiba menjadi lain. Tiba-tiba tak seperti yang berada di dalam cermin,'' kata Artika.

Tentu perempuan yang dalam waktu dekat akan membintangi film Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho itu tak sedang sok berfilsafat. Sebab pada saat dia dilukis oleh Bob, Teddy, dan Wahudi, dia merasa mendapatkan sosok diri yang lain. ''Wah, kalau begini, saya ingin dilukis lagi. Bisa melihat diri saya dipandang oleh orang lain.''

Apakah ini identik dengan ketakmungkinan seseorang mendapatkan ''diri asli'' di dalam cermin? Apakah cermin selalu retak ketika hendak digunakan mencari jatidiri?

Agak sulit menjawab pertanyaan itu. Di mata Artika -juga pengunjung lain- lukisan tentang Rendra, Garin, atau Made Wianta memang tak tampak sebagai tiruan sang tokoh. Ada persepsi dan subversi ''pikiran'' pelukis yang mendominasi bidang. Ada ruh lain yang ingin dicuatkan. (Triyanto Triwikromo, Doddy Ardjono-34)

+ Suara Merdeka website URL is http://www.suaramerdeka.com