Sinar Harapan, 4 September 2004

Menilik Bingkai Seni Rupa Olimpiade
 
Oleh
Bambang Asrini Widjanarko

Citius, Altius, Fortius adalah slogan Olimpiade tahun 2004 yang berarti
lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Sudah lazim, apabila dalam adu
kekuatan, keliatan serta kebugaran fisik tubuh dalam berolahraga yang
terbaiklah yang lebih unggul. Hanya pemenanglah yang berhak menyebut dirinya
sang jawara sejati.

Yang menjadi menarik adalah penyelenggaraan pesta olahraga dunia dan telah
digelar di Yunani itu memasuki koridor seni rupa. Selama lebih dari sepuluh
hari sejak 20 Agustus sampai 2 September lalu. Galeri Nadi bekerja sama
dengan Residensi Pakubuwono menyemarakkan momen olahraga terpenting sejagad
ini melalui penyelenggaraan pameran seni rupa dengan tajuk Olympic Art
Exhibition di Jakarta.

Alasan utama mereka bukan latah ikut mencari pemenang nomor wahid dalam seni
rupa dengan konteks tema sport di Indonesia. Namun seperti yang dikatakan
Biantoro Tanjung dari pihak galeri, ”Beberapa perupa kita menyukai ajang
world cup, selain panitia Olimpiade sendiri merayakannya dengan pentas
kesenian, juga beberapa duta kesenian kita—Indonesia diwakili oleh penggiat
budaya Taufik Rahzen dan lain-lainnya—dikirim ke sana, maka kami mencoba
menawarkan benang merah yang menyambungkan event dunia tersebut dengan acara
seni rupa.”

Kerangka kuratorial yang disodorkan kepada para pencinta seni rupa, seperti
yang dikatakan Enin Suprianto, pada esensinya bagaimana karya seni rupa yang
dipamerkan ini mencoba mengambil jarak yang cukup jauh tak hanya persoalan
tubuh dan melulu soal olah raga. Dalam kata lain, ia menyeleksi karya yang
seharusnya mampu keluar dari kerangkeng objek atau pesan referensialnya yang
asli. Dengan metode itu, karya seni rupa tersebut tidak saja menunjukkan
kemampuan si seniman dalam mengolah daya pikir dan ciptanya, tetapi juga
berproses untuk mentransformasi objek dan peristiwa menjadi makna yang kaya,
melalui ambiguitas dengan simbol-simbol dan metafora.

Dalam gelar karya ini dihadirkan beberapa karya perupa yang sering
malang-melintang dalam peta seni rupa Indonesia dan memang bertipe plural
menyampaikan interprestasi secara individual, tanpa dibatasi tema yang
dipatok pihak panitia penyelenggara.

Taruhlah karya lukisan Ugo Untoro yang jelas-jelas kontradiktif dengan pesan
Olimpiade sendiri, yakni menolak kepatuhan terhadap kebugaran tubuh. Seakan
sedang menantang, secara sarkastis ia menampilkan figure orang yang sedang
merokok. Atau, Agus Suwage, dengan karyanya yang mengolok-olok secara
satiris ketakmampuan tim nasional kita, yang kali ini pun hanya Taufik
Hidayat saja sebagai peraih medali emas dalam cabang bulu tangkis Olimpiade
tahun 2004 dan menyamai prestasi Susi Susanti dan Alan Budikusuma kala
menyabet medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992 lalu. Sedangkan untuk
cabang lain, kita harus mesti mengurut dada, karena tampaknya sampai
berakhirnya event internasional ini tidak ada kabar yang patut dibanggakan.
Sedangkan perupa seperti Budi Kustarto terasa juga kesan sublime-nya dengan
menampilkan interpretasi yang mendalam dengan mengambil aspek penokohan
tentang capung sebagai gambaran sesuatu yang kecil divisualkan ribuan kali
lebih besar dan bertanding dengan manusia. Lain lagi dengan Entang Wiharso.
Ia memilih untuk menginterprestasi kegamangan kita sebagai bangsa yang suka
dipuji, dihadirkan dengan lukisan manusia telanjang yang kehilangan
jempolnya. Bukankah prestasi kita dalam bidang apa pun kini telah merosot
jauh? Samuel Indratma menampilkan metafora yang ada kemiripan dengan Entang,
dengan memberi simbol patung manusia dengan tulisan ”Kita Harus Menang”,
sebuah parodi tentang kita sejatinya. Ketakberdayaan menghadapi syndrome
kekalahan yang menyebabkan rasa rendah diri tak berkesudahan hingga
berbuntut tak cepat bangkit dalam kondisi yang kritis. Melupakan kekalahan
dan meraih kemenangan.

Dari sekian perempuan perupa yang berpartisipasi, kita bisa menemukan karya
Astari Rasjid yang mengambil local idiom dengan ratu adil berwujud manusia
pada era Hindu di Jawa yang berkelamin perempuan digambarkan menjadi wasit.
Napas feminitas tampak sengaja dikedepankan, bagaimana makhluk lemah ini
mempermainkan sosok dua petinju. Sang penguasa Amerika dan negara yang
lainnya sedang dalam penungguan keputusan final. Menang atau kalah!
Perempuan perupa lain, Bunga Jeruk secara manis menggugah sisi humanisme
kita, bagaimana pemenang berhak atas segalanya tanpa kecuali. Dengan
divisualisasikan di kanvas seorang anak perempuan berkalung medali dan
ditumpuki sekelilingnya taman yang ditimbuni bejibun hadiah. Inilah yang
mengetuk nurani kita, bukankah meski kalah pun sebenarnya meminta perjuangan
dan totalitas semangat bertanding yang tak kalah dengan sang pemenang?
Adilkah posisi itu?

Bagaimana karya perupa lainnya? Mitologi Yunani dan sejarah olimpiade dicoba
disandingkan dengan kontekstualitas kekinian. Seperti perupa Andy Dipo
dengan lukisannya tentang pelempar cakram letoy yang terantuk – antuk batu
dikepung berita – berita bursa saham. Penggambaran ini sesungguhnya
mengungkapkan hegemoni yang paling real dalam dunia yang makin kapitalistik.
Seluruh kekuatan hidup berasal dari kekuatan ekonomi, yakni pasar modal
bukan sportivitas lagi, bahkan dalam dunia olah raga pun. Sebuah paradoks
yang mengenaskan. Sedangkan pematung senior kita, G Sidharta tetap dengan
idiom-idiom totemnya yang mengantar aura ”kejayaan dan kemenangan” dalam dua
buah patungnya. Ia kembali sibuk mengolah unsur-unsur local contains, yakni
tradisi milik kita.

Berbicara tentang pembingkaian kuratorial pameran, ada aspek yang mungkin
lepas dari pengamatan sang kurator. Terutama sekali, dengan secara sengaja
meninggalkan prinsip instrumentalisme dalam kajian kritik seni rupa. Sebuah
karya boleh saja menawarkan metafora, ambiguitas dan multi-abstraksi dalam
muatan estetika karyanya dari sisi bingkai formalnya. Secara fisik atau
pikturialnya, kita bisa mendeteksinya secara langsung.

Sedangkan sisi psikis, yakni representasi emosi dan intuisi sang seniman
dengan ungkapan-ungkapan pribadinya, yang familiar dengan sebutan pendekatan
ekspresivisme telah terwakili juga dalam pameran ini. Seperti yang
disebutkan oleh Enin, sampai dua kali ia bersentuhan langsung dengan para
perupanya untuk memberikan penawaran tema kuratorial untuk ditafsirkan
secara bebas dan personal. Hanya pendekatan historis, atau instrumentalitas,
meminjam istilah Edmun Burke Felman dalam konteks ini, yaitu muatan
”historis” lokalitas yang berelasi dengan elemen olah raga tidak menampakkan
jalinan naratifnya sama sekali.

Taruhlah dalam kosmologi Jawa, kita mengenal filosofis mengalahkan lawan
dengan sportivitas yang tinggi dengan idiom ” Nglurug Tanpa Bolo, Menang
Tanpo Ngasorake ”. Kesan inilah yang mengganggu sejenak dengan tema
kuratorial olah kanuragan yang ” terputus ” dalam pandangan ”seniman kita”
di eksibisi ini. Sebagai kreator, tentulah seniman akan peka terhadap akar
tradisi yang lahir dari rahim masyarakatnya sendiri. Sebuah warisan tak
ternilai yang layak untuk dijadikan sumber inspirasi maupun ilham dalam
berkarya.

Hanya beberapa karya perupa semacam Ugo Untoro, Tjandra Alim, Heri Dono
serta Astari Rasjid atau pematung senior kita, G Sidharta yang secara
selintas saja masih menunjukkan keintiman mereka sebagai perupa yang intens
mengeksplorasi nilai-nilai lokal. Namun, sebagai sebuah pameran yang mencoba
mengusung dan merayakan pesta olah raga dengan konvensi universal, tampaknya
telah cukup layak dipertontonkan.***

Penulis adalah Pekerja Seni dalam komunitas pengembangan seni rupa Balai
Perupa.