KOMPAS Minggu 3 Oktober 2004

Seni dan Budaya

Menimbang Paradoks Kriya Kontemporer
oleh Anusapati

APA yang bisa dikatakan ketika kita temui barang-barang keramik yang
kehilangan fungsi praktisnya, sebaliknya dimanfaatkan untuk mengangkat
isu-isu feminisme? Bagaimana menilai selembar tekstil yang sama sekali bukan
lagi bahan sandang, tetapi adalah hasil dari sebuah proses eksplorasi
perpaduan motif-motif? Reaksi inilah yang mungkin akan muncul ketika
berhadapan dengan karya-karya kriya kontemporer.

DI tengah hiruk pikuknya perdebatan wacana seni rupa kontemporer dewasa ini,
keberadaan karya-karya kriya beserta dinamika penciptaannya terasa luput
dari perhatian. Aktivitas pameran yang memang masih sangat jarang
menyebabkan perkembangan yang sedang berlangsung terabaikan, padahal, gejala
perubahan yang muncul pada karya-karya seniman kriya kita saat ini
sebenarnya sangat menarik untuk diamati.

Dari istilah "kriya kontemporer" dapat diduga bahwa perkembangan juga sedang
berlangsung di wilayah wacana. Tampaknya pengaruh pemikiran postmodern juga
memberikan imbasnya hingga pada wilayah praksis penciptaan karya-karya
mereka.

Pengertian "kriya" sendiri, tidak dapat dimungkiri, masih sering kali
diartikan oleh masyarakat sebagai "benda-benda kerajinan", yang identik
dengan cinderamata, produk massal, barang pakai. Secara fisik pun ia selalu
dikaitkan dengan sifat-sifatnya yang dekoratif, ornamentik, etnik. Tentu
saja bidang ini kemudian lebih dekat dikaitkan dengan bidang industri (dan
pariwisata), sedangkan persentuhannya dengan wilayah seni lebih dilihat
secara ginealogis, sebagai salah satu cabang dari induk seni rupa yang lebih
bernilai pragmatik, fungsional.

Sebutan "kriya kontemporer" (yang merupakan padan kata dari contemporary
craft) sendiri sebenarnya mengandung paradoks karena di satu sisi ia
menempatkan dirinya pada suatu kategori "kriya" (craft) yang
berseberangan-atau setidaknya terpisah-dari "seni" (art). Namun, di sisi
lain, sebutan kontemporer seolah mengacu pada paradigma seni masa kini, yang
dilandasi pandangan postmodernisme, di mana pembedaan kategori dianggap
tidak berlaku lagi.

Di dalam pandangan modernis, polarisasi antara craft-art ini demikian tegas
dan dipertentangkan berdasar watak dasarnya, yaitu natural-kultural,
intuitif-rasional, naluriah-intelektual, primitif-beradab, bahkan dalam
perspektif jender: perempuan-laki-laki. Sedangkan di dalam wacana
kontemporer, pembedaan berdasar kategori sudah tidak penting lagi. Media
adalah sebuah pilihan sebagai moda ekspresi gagasan seniman, apa pun ujud
dan materialnya. Bisa lukisan di atas kanvas, patung, keramik, kayu, logam,
gelas dan sebagainya, selama ia merupakan representasi simbolis dari
berbagai pemikiran dan pandangan tentang lingkungannya dan situasi masa
kini.

Persoalan ini terasa muncul di dalam pameran kriya kontemporer bertajuk
"Objecthood" yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta, 27 September hingga 7
Oktober 2004. Menampilkan sejumlah karya dari 40 seniman yang berdomisili di
Yogyakarta, pameran ini merupakan pameran kriya pertama yang menggunakan
sistem kuratorial.

Oleh Sujud Dartanto, salah seorang kuratornya, "Objecthood" ini disebut
sebagai "rekoleksi dan reuni obyek-obyek", yang menyatukan karya-karya tiga
dimensional kreasi para perupa dari berbagai disiplin media. Tidak heran
kalau selain hasil karya para seniman kriya dijumpai juga karya-karya
beberapa seniman yang selama ini lebih dikenal sebagai pelukis dan pematung,
seperti Ugo Untoro, Bunga Jeruk, Yuli Prayitno, Komroden Haro, dan beberapa
yang lain.

Satu hal yang dapat dilihat sebagai kesamaan di antara karya-karya yang
dipamerkan adalah terdapatnya nilai kekriyaan (craftsmanship) yang
dihasilkan lewat pengetahuan kriya (craft knowledge). Dengan itu, selain
pada aspek ide, karya-karya ini menunjukkan kekuatan dan intensitas pada
aspek penguasaan teknik, keterampilan, dan penghayatan terhadap material
pilihannya.

Lihat saja karya Endang Lestari. Di dalam kotak-kotak kayu serupa rak yang
disusun di dinding, diletakkan sembilan buah figur keramik dalam bentuk
boneka perempuan dengan tubuh dibungkus kain sebatas leher. Kain yang
membungkus sembilan figur perempuan ini masing-masing berbeda, yaitu dengan
motif kain tradisional Cina, Jepang, India, dan Jawa. Karya ini menyuguhkan
persoalan kesetaraan jender, dengan mengambil contoh pada beberapa
masyarakat yang memiliki konstruksi sosial yang sangat patriarkhal, di mana
kaum wanita berada pada posisi subordinat, bahkan tertindas. Menggunakan
idiom perupaan yang sangat kuat, perupa ini tetap memilih medium keramik
yang tentu secara teknis sangat rumit, dengan penggarapan yang cermat,
sehingga secara visual karya ini tetap cantik.

Seperti pada umumnya karya-karya seni kontemporer, persoalan-persoalan
aktual sekitar sosial, politik, dan ekologi menjadi perhatian beberapa
perupa dalam pameran ini. Edi Eskak memanfaatkan potongan-potongan kecil
kayu, bahkan Bagus Endrayana menggunakan serpihan sisa kayu sebagai material
karyanya. Pada kondisi ketika material kayu menjadi barang langka, oleh
karena eksploitasi berlebihan terhadap hutan, maka pemanfaatan limbah kayu
menjadi sangat relevan.

Selain karya-karya yang menunjukkan kecenderungan naratif-simbolik, banyak
di antaranya yang sangat kuat menunjukkan intensitas pada eksplorasi media,
seperti pada karya keramik Noor Sudiyati, karya logam Bagus TY, karya kayu
dan gelas Meko Mana, karya tekstil Nia-Ismoyo dan Carolin Rika, serta karya
gelas Tita Rubi adalah beberapa contoh.

Dari pameran ini dapat kita saksikan bahwa kriya seni merupakan suatu media
yang sebenarnya memiliki kemungkinan untuk digunakan sebagai sarana
pengungkapan berbagai gagasan serta berbagai kecenderungan estetik. Pilihan
media tertentu, yang tentunya memiliki batasan-batasan teknis bukan berarti
hambatan untuk mengakomodasikan ide-ide kontemporer. Perdebatan pada tataran
wacana mungkin masih diperlukan untuk mendapatkan platform yang lebih
mantap, selain tentu kesempatan untuk menampilkan karya-karya kriya melalui
pameran sehingga karya kriya lebih dikenal oleh masyarakat.
Penulis adalah Perupa, Staf Pengajar pada FSR-ISI Yogyakarta