KOMPAS, 1 agustus 2004

Kuda Goyang Ugo Untoro

Malam gelap. Ke mana gerangan sang lelaki telanjang memacu kudanya?

Pertanyaan seperti itu mudah timbul atas lukisan Ugo Untoro yang berjudul Night Riders. Kuda itu ternyata kuda mainan. Lari kencang membuatnya bergoyang-goyang.

Coba simak, memacu kuda mainan: sebuah permainan hidup, sebuah kegilaan, sebuah angan yang jauh? Pertanyaan-pertanyaan akan susul-menyusul, ditunjang oleh suasana mimpi lukisan tersebut, yang tampil di dalam pamerannya "Silent Text", tanggal 28 Juli-8 Agustus 2004 di Edwin’s Gallery di Jakarta.

"Kuda itu hewan perkasa," tutur Ugo Untoro.

Beberapa lukisannya merangkum lambang keperkasaan dan juga kecepatan ini dengan karakter kursi goyang, sebuah paduan yang bisa menunjuk sekaligus ke berbagai arah. Itu bisa berarti dunia mainan dengan "kuda-kudaan", alat bermain yang biasanya meniru bentuk kuda yang bisa ditunggang dengan alas melengkung. Bisa juga ia merujuk pada pertemuan dua energi yang saling menafikan, antara keperkasaan dan kerentaan usia lanjut (yang biasanya membutuhkan kursi goyang), antara kecepatan dan keadaan menetap.

Kuda mainan Ugo bahkan mampu membaurkan lapis kenyataan dengan lapis khayal, seperti terlihat pada I am Falling in Horse II (2004). Dari sosoknya terlihat jelas bahwa ini kuda mainan, namun ia menggambarkannya seperti tengah berlari kencang dengan kemiringan 45 derajat ke arah depan. Gerak adalah pertanda kehidupan, namun gerak ternyata muncul dari benda mati seperti kuda mainan tersebut. Apakah Ugo tengah berbincang tentang dinamisme, tentang benda atau gejala rupa atau bunyi yang mempunyai sumber geraknya sendiri?

Pada Mau Menjadi Napoleon (2004) pertanyaan itu lebih mendesak karena perbauran antara yang nyata dan yang khayal tersebut lebih mencolok. Ia menggambarkannya secara realistik, benar-benar kuda dan bukan mainan dari kayu, namun dua kaki belakangnya bersambung dengan alasnya yang melengkung. Kuda itu tampak tengah mendongak dengan kedua kaki depannya di atas. Tapi, tunggu dulu. Siapa yang mau menjadi Napoleon? Kuda? Penunggangnya? Dan mengapa, untuk apa?

Lewat sejumlah lukisan kudanya, Ugo Untoro berhasil menimbulkan hasrat bertanya-sebuah ajakan untuk merenung, menyingkap sesuatu yang lebih dalam di balik yang terlihat. Hal serupa muncul dari berbagai lukisan terdahulu, seperti wayang-wayangnya yang khas di dalam pamerannya tahun 2002 di Nadi Gallery Jakarta, yang ia belejeti mitologinya, bahkan ia seret turun ke dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam hal kudanya, ia sulap mereka menjadi manusia, lewat cara (maaf) bersenggamanya. Pertanyaannya, mungkinkah wayang dan kuda itu mewakili salah satu sisi manusia senimannya sendiri?

Yang cukup jelas adalah cara kerja Ugo Untoro mengakrabi bahan-bahan gubahannya sedekat mungkin. Wayang yang merupakan mainannya sejak kecil (ayahnya seorang pembuat wayang kardus) ia rengkuh ke dalam kehidupan sehari-hari. Kuda ia perlakukan seperti sahabatnya. Di dalam buku pengantar pamerannya tampak beberapa foto lelaki ini tengah bersama kudanya. Di situ tertulis bahwa ia sangat mencintai dua ekor kudanya, yang ia beri nama panggilan kesayangan. Dikisahkan pula betapa ia rajin merawat hewan peliharaan itu.
Ugo Untoro juga sangat menyukai hujan, yang menjadi titik tolak sejumlah karyanya di dalam pameran ini. Katanya, "Sejak kecil saya sangat suka hujan." Menurut penuturannya, hujan itu "dramatis, menunjukkan siklus alam yang luar biasa".

Hujan, yang bersifat sangat sehari-hari, yang kebanyakan orang menganggapnya sepele, menjadi sesuatu yang berharga di matanya. Ugo punya modal dasar untuk dengan sendiri merenungkan apa saja yang mengusik perhatiannya.

Di tangannya, hujan muncul di dalam berbagai tampilan. Beberapa lukisannya mengeksploitasi butir-butir air yang turun susul-menyusul sehingga memunculkan garis-garis pendek berturutan ke bawah di kanvas.

Kadang ia menempatkan satu sosok manusia tertimpa oleh gerojokan garis-garis vertikal keputihan sampai separuh tubuh, dan tubuh selebihnya berwarna kebiruan di dalam latar basuhan kuning kecoklatan (Hujan Setengah Badan, 2004). Kadang tidak ada kesan garis atau butiran air, namun ada manusia dan anjing yang sosoknya saling timpa, serta segumpal bidang tak beraturan yang mengisyaratkan awan, di dalam pewarnaan tunggal nada abu keputihan (Hujan, 2004).

Sebuah lukisannya, Hujan Tunggal (2004), memikat mata. Pada bidang vertikal yang berlabur hijau toska ia goreskan warna putih dari tengah puncaknya lurus yang melebar ke bawah. Tanpa informasi apa pun tentang "hujan", lukisan ini menantang keterlibatan aktif apresiannya.

Lukisan memikat lainnya berjudul Tidak Jadi Hujan (2004). Di sini curahan air yang muncul di dalam berkas besar garis-garis pendek putih seperti menyimpang dari hukum gravitasi. Keluar dari sebuah bidang gelap di kanan atas, berkas garis itu melengkung kembali ke atas. Akal-akalan dengan, atau mengakali, alam ini berlatar sabetan kuas berwarna kehijauan pucat yang melingkar-lingkar seluas "langit". Di dalam latar lebih gelap, berkas air itu ia simpulkan di dalam satu garis yang berjalan berpusing seperti kabel yang menjuntai ke bawah (Rain, 2004).

Pokok perhatian Ugo Untoro lainnya adalah soal perspektif, yang muncul di dalam sejumlah lukisannya. Sambil menyebut nama pemikir seperti Nietzsche dan Derida ia menuturkan keinginannya untuk mempertanyakan konvensi, aturan, kebiasaan, pandangan, atau nilai-nilai yang dianut. "Katakanlah, kita lakukan dekonstruksi terhadap semua itu," tutur lelaki kelahiran Purbalingga tanggal 28 Juni 1970 ini.

Dalam lukisannya seperti Penyeberang, Menunggu, atau Station, ia menilai ulang anggapan lazim, bahwa benda yang jauh terlihat samar dan yang dekat lebih jelas dan rinci. Ia menyodorkan alternatifnya: semakin jauh para penyeberang jauh dari mata kita ia gambarkan lebih besar. Demikian juga dengan orang-orang di stasiun, atau orang yang tengah menunggu di pinggir jalan.

Apakah dengan itu lukisan bisa menjadi lebih menarik? Tampaknya Ugo, seperti terkesan dari sepak terjangnya selama ini, tidak memasalahkan hal itu.

Dengan ringan misalnya ia juga menampilkan sejumlah lukisan di luar ketiga pokok karyanya, seperti tampil di dalam serangkaian lukisan bertajuk "bonsai". Ia juga menampilkan "diorama", obyek-obyek berbentuk boneka dan sikat gigi, yang melengkapi sosok kesenimannya.

"Saya perhatikan iklan di televisi itu, macam-macam bentuk sikat, ya lalu saya bikin sendiri. Iseng saja," katanya sambil tertawa.

Keisengannya membawa orang untuk mempertanyakan cengkeraman televisi yang mendikte orang untuk memilih sikat gigi, selera makan, selera berbusana, dan kelak mungkin juga selera di dalam bercinta.... (EFIX)