KOMPAS Minggu, 30 Januari 2005

Patung-patung yang Bertiwikrama

KOMPOR, wajan, boneka, dan sejumlah mainan lain itu berserakan di lantai. Pemiliknya, boneka seorang gadis cilik, tampak duduk di kursi di dekatnya. Kepalanya tertunduk sehingga rambut menutup seluruh wajahnya.

SEMUA itu menampilkan tragedi yang diwakilinya: seorang anak kecil yang bunuh diri-judul karya seni ini memang adalah Suicide Kid. Itulah dunia anak yang cerah tak bernoda, namun hadir bersama anasir gelap dan destruktif. Sebuah lambang kehidupan dan pertumbuhan ternyata mengandung daya kematian.

Karya Bunga Jeruk ini tampil di dalam pameran bersama bertajuk "Sculputer Expanded" yang berlangsung di galeri CP Artspace, Jakarta, tanggal 12-31 Januari 2005. Pameran ini diikuti delapan seniman, yang menampilkan patung di dalam pengertiannya yang cukup longgar, serta "obyek" yang di dalam beberapa tahun terakhir menjadi mainan baru para perupa.

Tidak semua peserta pameran adalah pematung. Bunga Jeruk misalnya, lebih dikenal sebagai pelukis. Bekerja dengan benda-benda tiga dimensi telah meluaskan cakupan pengaruh dari kanvas-kanvasnya. Ia menggunakan benda-benda hasil produksi pabrik seperti boneka dan mainan yang telah disebut di muka, yang ia padu di dalam sebuah kesatuan dan tentu saja konteks baru, meski terkadang terkesan sangat personal, sebutlah itu seperti karyanya Married to the Rabbit.

S Teddy juga seorang pelukis, yang karya-karya "patung"nya tak kalah menonjol. Tampaknya ia tidak ingin menekuni bahan tertentu, mengingat beragamnya material yang ia gunakan. Di dalam pameran ini ia menggunakan sepon untuk mengisi bentukan "patung dada" seorang tokoh anonim yang dibuat dengan kerangka logam dan terbungkus vinyl. Di tempatkan di tentang pintu masuk galeri, Pawn yang berukuran 100 x 60 x 150 cm ini menyita perhatian. Tak kalah menggelitik adalah Odd Direction yang ia letakkan di sampingnya, berupa papan sempit penunjuk arah yang ditaruh di tiang pancang. Itulah sebuah isyarat tentang dunia ganjil yang ingin ia tunjukkan.

Pelukis lain yang ikut pameran ini adalah Ugo Untoro, yang senang mengutak-utik barang temuan apa saja. Tak jarang di tengah pameran lukisan ia menyertakan hasil utak-utiknya berupa boneka kertas atau mainan lain. Kali ini ia memajang barang mainan dari pabrik berupa truk pemadam kebakaran. Kendaraan yang butuh kecepatan tinggi ini segera memancing ironi ketika ditaruh di papan kayu yang ibarat jalan raya, yang dipenuhi dengan penghalang jalan atau "polisi tidur" dari kertas hasil utak-utiknya. Karya seni "obyek" yang berjudul Budaya ini menyikut ke beberapa arah termasuk sikap warga masyarakat atas "keberadaban".

Karyanya yang lain, And the Wold Becomes Cheerful, tampaknya bertali dengan lukisan-lukisannya yang bertema kuda dan muncul di dalam kuda mainan dengan alas-goyangnya. Ujudnya sebuah meja lengkap dengan laci dengan alas goyang: humor khas Ugo.

Humor yang subtil muncul dari dua karya Handiwirman. Ia pernah membuat rangkaian lukisan sofa di dalam ukuran sebenarnya, yang satu dua di antaranya juga berpotensi jenaka. Di dalam pameran ini ia menyuguhkan bentuk melingkar sempurna berdiameter 120 cm dari vinyl dan plywood yang menempel di dinding. Warna permukaan yang coklat susu muda merata. Mata penglihat akan berhenti di pusat lingkaran, untuk mengikuti bentuk sebuah jari yang tiba-tiba muncul lengkap dengan kerutan yang ditimbulkannya. Pada lingkaran dengan jari besar ia beri judul Fat, sedang yang kecil Slim.

Penguasaan atas kekriyaan Handiwirman di dalam sejumlah karyanya menonjol, demikian juga dengan patung Ichwan Noor di dalam pameran ini. Yang cukup menggelitik adalah gagasannya untuk menambah kesan alur melingkar pada batang trumpet. Ia melakukannya dengan kawat logam dengan mengikuti secara sempurna pola-pola melingkar itu, yang memberi kesan bermuara pada beberapa mulut alat tiup tersebut. Judulnya, Jazz, menambahkan asosiasi pada suara-suara alam dan kehidupan yang memerlukan mulut atau penyampai untuk bisa dterima oleh mereka yang membutuhkan.

Pada beberapa karya lamanya Rudi Mantofani memadukan dua atau lebih bahan yang menghasilkan tubrukan seperti sifat gampang pecah dari kaca dengan kekerasan batu. Ia juga kerap bersoal dengan pengkategorian karya seni, semisal mengaduk antara kenyataan barang trimatra dengan lukisan dwimatra. Kini ia hadir dengan tipuan mata berupa rumput hijau dari plastik, yang memenuhi papan berbingkai baja tahan karat seluas 160 x 160 cm dan tebal 4 cm di kedua sisi. Karyanya Hijau I ini-sebuah versinya pernah tampil di dalam pameran "Spacious Territory" tahun lalu di Jakarta-selain punya daya tarik visual juga menyodokkan perenungan tentang, alam lingkungan yang semu, alam buatan, atau kehidupan yang menipu.

Pameran ini juga menyediakan karya-karya yang bisa dimainkan, yang mengundang inisiatif pengunjungnya untuk berinteraksi dengan isi pameran, lewat karya-karya Hedi Hariyanto. Tangan kita bakal gatal kalau tidak menggoyang bulatan kayu atau benda kubus mungil yang tergantung di tiga papan yang menempel di dinding, untuk karyanya Equilibrium. Orang juga sulit menahan diri untuk tidak menekan atau menggoyang salah satu papan jungkit di dalam karyanya Menimbang-nimbang. Karya-karya semacam ini gampang menyemarakkan sebuah perhelatan seni, dan rupanya menjadi salah satu kecenderungan di dalam bekerja, seperti diperlihatkan misalnya oleh perupa Aditya Novali ketika berpameran tunggal tahun lalu di galeri ini.

Yuli Prayitno juga cenderung mengajak audiensnya untuk tidak berkerut kening ketika memasuki ruang pamer. Ia memasang dua lembaran kaca tembus pandang yang digantung berhadapan dalam jarak sekitar dua meter. Pada bidang tembus pandang itu ia menempel jajaran separuh cabe seukuran jempol orang dewasa, yang dicat berwarna-warni. Potongan-potongan pangkal lengkap dengan gagang di lembar kiri, sedang potongan paruhannya di lembar sebelah kanan. Berada di ruang tengah antar lembaran tembus pandang itu orang merasa menjadi bagian dari karya, dan boleh merasa "kepedasan" seperti judul karya ini Sweet Hot Hirst. Namun lebih menarik Anda berada agak jauh, untuk merasakan sensasi ruang nyata yang dipadu dengan ilusi barang tembus pandang tersebut.

Dalam jarak tertentu yang juga akan segera tampak adalah sebentuk urinoir warna jambon yang menempel di dinding di sebelahnya. Itulah Toilet VIP yang terbuat dari polyester dan vinyl berukuran seperti asli, namun pada dinding-dindingnya tertempel sejumlah kupu-kupu yang sudah dikeringkan di dalam berbagai jenis.

Sudah tentu Anda tak diperkenankan kencing di situ, tetapi boleh beranggapan bahwa barang-barang readymades-nya Marcel Duchamp telah sah menjadi bagian dari kerja seni, juga di Indonesia saat ini. Seni patung kita memang telah bertiwikrama menjadi "patung plus". "Sculpture Expanded", seperti kata kurator pameran ini, pematung Anusapati. (EFIX)