KOMPAS
Sabtu, 24 November 2001

Catatan Kaki Tiga Seniman Yogyakarta
(Pameran Ugo, Teddy, Yani Halim)


APAKAH karya seni memerlukan catatan kaki? Akan sangat sulit untuk menikmati karya Ugo Untoro berjudul Suara, kalau hanya mencarinya lewat apa yang terlihat. Pada dinding terpajang sebuah lukisan 102 cm x 82 cm yang berisi sapuan-sapuan lebar cat minyak berwarna kecoklatan dekil. Di bawahnya tersusun rapi 35 lembar foto berukuran kartu pos.

Lukisan itu praktis bisu. Petunjuk muncul dari foto-foto tersebut, yang ternyata merupakan dokumentasi dari karya-karya yang sebelumnya "menempati" kanvas yang sama. Lukisan pertama ia timpa dengan lukisan kedua, disusul lukisan ketiga, keempat, dan seterusnya. Lukisan yang terpampang itu adalah lukisan ke-36.

Dengan "catatan kaki" seperti itu Suara muncul sebagai pernyataan seni Ugo di dalam pameran bersama dua rekannya, S Teddy D dan Yani Halim, di Galeri Nadi, Jakarta Barat, 7-25 November 2001. Itulah pernyataan bahwa proses berkesenian sangat penting, dan hasil akhir surut menjadi semacam terminal. Sebuah perjalanan bisa berakhir di sana, namun mungkin bakal berlanjut dari sana. Kita tidak tahu apakah selepas pameran, Ugo masih akan melabur lukisan yang ia selesaikan tahun 2001 itu untuk sebuah lukisan baru lagi.

Lelaki kelahiran Purbalingga 28 Juni 1970 ini melukis dengan kesadaran Sisiphus: setiap kali melakukannya ia sadar lukisannya akan musnah. Membuat dokumentasi foto setiap tahapan karya adalah sebentuk kesadaran tentang penghancuran tersebut. Orang bisa melihatnya sebagai sebuah kesia-siaan, namun juga optimisme karena sebuah pertumbuhan akan datang dari kehancuran tersebut dengan munculnya sebuah lukisan baru.

Namun, kedelapan lukisannya yang lain adalah karya-karya lazim. Isinya yang tidak nyaman. Potret dirinya muncul di dalam warna lembut kebiruan berupa kumpulan serabut bertotol (Self Portrait as a Ghost, 2001). Ia juga menggambarkan diri sebagi manusia berkepala anjing atau serigala (I am the Rain, 2001). Sosok manusia anjing itu dalam warna biru mencumbu seorang perempuan (Under My Moon, 2001).

Pandangannya tentang hubungan antarmanusia, teristimewa antara ibu dan anak, muncul dengan aneh dalam Ibu dan Anak, 2001. Ia melukiskannya dengan cara yang sangat jarang dilakukan orang. Keduanya berpose telanjang menghadap penonton.

Kekuatan seni dwimatra dalam pameran ini muncul lewat karya-karya S Teddy D, kelahiran Padang 25 Agustus 1970. Ia memunculkan sensibilitas yang tinggi dalam Si Gambir (2001). Karya cat minyak di kanvas 32 cm x 32 cm ini menokohkan seekor burung di dalam warna biru keputihan di sisi kiri, gambar rumah (atau rumah-rumahan) berupa goresan garis-garis ringkas di tengah, dengan baluran warna-warni kebiruan gelap di sekujur bidang.

Penggayaan dan deformasi sosok-sosoknya amat menopang ekspresi karya-karyanya, seperti misalnya di dalam Conversation (2001). Berukuran 40 cm x 40 cm, ia mengungkapkannya lewat gambar kepala lelaki berjidat lebar dan kepala botak dengan kacamata baca, dengan tulisan di atasnya "professor of art". Di sampingnya dengan tulisan "student of art" berdiri seorang lelaki dengan leher dan kepala yang meninggi menandingi ketinggian jidat profesor. Para mahasiswa tampaknya merasa sudah setara guru-guru mereka.

Hal serupa tampil lewat Halaman Buku (2000), yang terbagi dua bagian halaman bergaris. Sebelah kanan dengan latar kehitaman ada tulisan "Bom di Jakarta Bung!". Bagian kiri gambar setengah badan seseorang menghadap penonton dengan rambut berwarna merah menjulang. Kekerasan, begitu kiranya, sudah menjadi bagian dari buku pelajaran.

Lukisannya memberi daya kejut oleh caranya menata hubungan antarunsur-unsurnya. Lihatlah Merah (2001) yang tampil di dalam warna dominan hijau, dengan sesosok lengan yang muncul dari ruang kosong memegang sebuah kepala manusia. Pose lazim di dalam lukisan model dengan seorang wanita duduk di kursi, mendapat makna baru karena ia memangku sebuah kepala (She Save My Head, 2000).

Kebutuhan akan narasi muncul di dalam karya-karyanya yang disimpul dalam sejumlah panel, seperti Maaf Pak Tukang Pijit (2001). Lebih menarik adalah Journey (2001), dengan gambar seorang pria cenderung realistik dan seorang lain hanya sosoknya serta perbenturan warna latar yang menyolok. Dua seri Gambar Sari sembilan dan 10 panelnya mampu menunjukkan ungkapan yang kompleks oleh saling kait antarpanelnya.

Kadang Teddy juga bermain dengan cerita yang jauh dari khalayak, misalnya, menyangkut seorang tokoh Gereja Katolik dalam Tangan St Jerome (2000). Tokoh asketik dari abad ke-4 ini tampak hanya lengan kirinya saja yang memegang sosok bangunan mirip gereja, yang muncul begitu saja dari ruang berwarna merah. ***WARNA-warni cerah Yani Halim adalah kenyataan piktorial yang gampang menjebak. Umumnya ia bekerja dengan akrilik, dan memberi kesan "selesai" dan tertib pada bentuk-bentuk yang disusunnya. Ia menyisakan bidang-bidang kosong, yang di dalam banyak karyanya terbukti berperan besar di dalam menyangatkan sebuah daya ungkap. Sebutlah contoh seperti The Rolling Rabbit (2001), sesosok makhluk berkepala manusia dengan dua telinga panjang namun beroda, muncul di dalam bidang mirip lubang kunci.

Makhluk-makhluk bertelinga panjang muncul dalam sejumlah lukisannya, umumnya berukuran kecil sekitar 30 cm x 40 cm. Dengan sejumlah karya berjudul sama, Untitled (1999), makhluk-makhluk itu ada yang matanya lepas sebelah dan menggantung, terbit sungut dari arah mulutnya, dipanjat manusia bersayap, dan seterusnya. Mereka ditemani lalat-lalat yang terkesan transparan.
Adegan-adegan yang menjadi ganjil, digarap dengan rapi dan warna cerah ini, dengan ajaib bisa menerbitkan rasa humor. Beberapa karyanya memang mencapai tahap ironi seperti Untitled (1999) yang menampilkan sosok kepala manusia, dengan sesosok manusia lain muncul dari arah otak siap memukul lalat di kepala.***DAYA tarik pameran ini juga datang dari boneka garapan Ugo Untoro. Ia menampilkan tujuh boneka yang menunjukkan energi kreatif seniman peminum ini. Sailing menampilkan boneka kayu dipatok di sebuah kayu segitiga, Boneka berbahan kertas dengan kaki dan lengan sangat panjang yang terkesan lentur, Dancer dilengkapi dengan semacam sarung tangan di baliknya agar pengunjung bisa memainkan, Stroke berupa tangga berundak dan boneka manusia yang terguling tak berdaya di tangga terbawah.

Ketiga seniman lepasan ISI Yogyakarta ini, yang berteman baik, merupakan wajah seni kontemporer yang terus tumbuh dan bergerak. (efix)