KOMPAS
Sabtu, 23 Februari 2002

Wayang Kencing Ugo Untoro

TATA rambut dan bentuk bahunya menunjukkan ia bukan berasal dari kalangan kebanyakan. Dalam bahasa sebuah radio yang populer di Jakarta, sedikitnya ia seorang "eksekutif muda". Tapi, kok, orang pilihan bisa main kencing sembarangan? Memang untuk itu ia menyelinap dari keramaian, namun masih terlihat bagian-bagian tubuhnya tersebut.

Itulah yang tampil dari sebuah lukisan karya Ugo Untoro dalam pameran tunggalnya di Galeri Nadi, Jakarta Barat, 15-24 Februari 2002. Pameran ini menarik oleh caranya mengolah bahan-bahan dari warisan bersama, yaitu khazanah wayang, untuk pengucapan masa kini yang lebih mempribadi. Sang "eksekutif muda" itu setara dengan ksatria di dalam pengertian lama.

Mengapa wayang harus kencing?

Ternyata para tokoh ini tidak hanya buang air, tapi juga melakukan sejumlah kegiatan lain. Pada umumnya mereka terlalu sibuk membuat sejarah, dengan intrik istana, politik otonomi daerah, atau perang, baik untuk meluaskan jajahan atau mempertahankan wilayah.

Coba kita ingat, perang paling dahsyat di dalam epos Mahabharata adalah berebut hak memerintah antarsaudara satu klan. Di dalam kisah panjang Ramayana, ribuan nyawa juga melayang untuk berebut hak-ini lebih absurd-mendampingi seorang perempuan.

Di luar perang-perang besar itu selalu ada pertempuran-pertempuran kecil, yang juga penting untuk selalu mengingatkan betapa idealnya perdamaian. Tentu segala macam percaturan nilai ikut meramu wira cerita ini yang sudah ratusan tahun menjadi acuan masyarakat pendukungnya di Jawa, dan belakangan juga dikenal di berbagai pulau lain di Indonesia.

Betapa hebat para ksatria, senapati, pejabat istana, atau raja ini, dan Ugo Untoro mengubahnya menjadi manusia nyata yang berdarah daging, yang bisa kebelet buang hajat, menguap, mandi, bahkan (maaf) beronani. Para hero ia buat menginjak tanah.

"Saya tidak menampilkan mereka sebagai tokoh wayang. Tidak penting buat saya mereka itu siapa di dalam cerita, apa perannya, dan apa saja kehebatannya," tutur Ugo Untoro.

Ia juga tidak mempersoalkan "filsafat", seperti umum diduga kalau seseorang melakukan tafsir baru terhadap wayang. Katanya, "Saya memang tidak suka dan juga tidak ingin melakukannya."

Yang tampak di kanvas-kanvasnya adalah sosok-sosok yang segera kita kenali sebagai karakter wayang (kulit), oleh motif-motif bentuknya yang khas. Meski demikian, hampir tidak pernah ia menunjuk nama secara khusus.

Sifat dan motif hias yang khas wayang ia tampilkan misalnya dalam My Parents as a Shadow Puppet Come to My House (2001) di atas kanvas 80 cm x 100 cm. Namun, rincian hias ia gubah seperti dengan polkadot pada Scream (2001) atau ia sederhanakan seperti pada My Wife (2001).

Di luar gambar utama sosok-sosoknya, sisa bidang gambar di kanvas umumnya kosong, atau diisi sapuan warna, dan tak jarang ia sisipi dengan material bukan cat. My Parents... ia padu dengan tempelan kertas. My Wife ia pasangi sobekan kertas koran.

Beberapa lukisannya bergerak lebih jauh daripada sekadar penyederhanaan motif hias wayang. Nude (2001), Onani (2001), atau Onani Kertas Rokok (2001) malah ia gambarkan tanpa busana, kecuali hiasan rambut atau bentuk berombak rambut tokoh yang memanjang. Tubuh mereka putih, lengkap dengan penis. Pada Pregnant (2001) tokoh perempuan hamil ini bertubuh seluruhnya hitam, juga telanjang dengan perut membuncit dan tiga bulatan warna mawar di perut, sedang di dekat puting susunya ada bercak bulatan hijau.

Tak jarang Ugo Untoro secara terang-terangan menampilkan tokoh-tokohnya di dalam latar masa kini. Sebutlah itu misalnya Kamar No. 4 (2001), bergambar seorang perempuan hanya berbaju dalam dan di sampingnya dua bagian busananya tersampir di gantungan baju. Swimmer (2001) menggambarkan perempuan itu siap terjun di kolam renang.

Begitu tidak pentingnya tokoh "asli" dalam cerita wayang sehingga ia cukup menampilkan bagian-bagian dari tubuh mereka, seperti Kencing (2001) yang telah disebut di muka. Semakin pudar derajat ikatannya dengan wayang, lukisan-lukisannya membutuhkan kompensasi daya tarik dan menumbuhkan suasana aneh yang lebih kuat.

Beberapa di antara karyanya ini hanya memajang tubuh dari arah pinggang ke bawah. Dalam hal ini ia menggarap horizon, yang boleh jadi ia peroleh lewat garis batang pisang tempat menancapkan boneka wayang di dalam pertunjukan. Follow Me (2002) menggambarkan separuh tubuh lelaki (lengkap dengan penis) di tengah ribuan panah, berdiri pada bidang hitam dan di bawahnya bidang keabuan.

Tubuh kecoklatan (yang hanya separuh juga) di dalam bidang biru tua dengan tetesan air, berdiri di bidang berbentuk ubin biru putih dalam Shower (2002), sangat kuat menyemburkan ironi kekinian, yakni wayang itu benar-benar telah menjelma menjadi manusia, dengan suka duka zamannya, dan mandi di pancuran bukan hanya upacara harian, tapi juga sebuah cara menghentikan waktu sejenak.
Kadang ia hanya membutuhkan sepotong lengan, seperti Tatto (2001) dan Jangan (2001). Ada tanda-tanda wayang, namun hanya sekelebat yang membuat Jangan menjadi salah satu karyanya yang kuat. Bagian tangan yang lebih pendek ia pasang hanya di dalam secuil bidang di pojok atas, dan sebagian besar bidang gambar gelap, dalam Bung Ayo Bung (2002). Judulnya mengingatkan kita pada poster Affandi dengan sajak Chairil Anwar pada masa perjuangan.***TAMPAKNYA Ugo Untoro (kelahiran Purbalingga, 28 Juni 1970) yang terdidik di sekolah seni ISI Yogyakarta ini memang tidak sedang "menafsir" wayang. Ia hanya meminjam sosok-sosoknya atau motif bentuknya, yang ia akrabi sejak masa kanak-kanak. Ayahnya, Pujo Asmoro, seorang pendidik, adalah juga pembuat wayang dari kardus.

Untuk menghormati ayahnya, ia menjiplak karyanya dan membuatnya utuh lewat garis pinggir karakter Antareja dan Kresna dalam That's Mine (2002). Sosok utuh lainnya adalah pahlawan Anoman dalam Nyangkut (2001).

Selebihnya, dalam pameran berisi 38 karya ini, wayang benar-benar hanya bahan olahan, seperti ia mengolah sabut atau kain untuk membuat sejumlah boneka yang juga dipamerkan. Tangan terampil, energi tersedia, imajinasi liar, membuatnya selalu siap mencorat-coret, melubangi buku, atau membuat animasi buku atau kotak bioskop berjudul The Kiss yang juga ia tampilkan.

Ugo Untoro adalah keliaran yang terus-menerus mencari saluran kreatif, sebuah energi berharga di dunia seni rupa Indonesia yang tengah mencari keseimbangan antara dunia kreatif dan komersial. (efix)