Ugo Untoro Raih Phillip Morris Award
Yogya, Bernas [1998?]


Pelukis Ugo Untoro dari Yogyakarta memenangkan Lomba Lukis Nasional yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan promotor Phillip Morris. Karya Ugo yang berjudul Huruf-huruf Baru masuk dalam nominasi 5 besar bersama dengan pelukis lain, seperti Handiwirman Saputra, Rudi ST Darma, Irman A Rahman dan Isa Perkasa.

Menurut Ugo kepada Bernas di rumahnya, Kamis (22/10), dalam karya tersebut ia membagi secara rata gambar dengan kotak-kotak berisi berbagai barang simbol kehidupan baru. Ia juga menggunakan kertas rokok sebagai media menggambar.

"Lukisan yang diikutkan lomba itu saya anggap sebagai puncak karya untuk jenis corat-coret, sekaligus karya terakhir untuk karya corat-coret karena sudah banyak orang yang meniru gaya corat-coret ini," tandasnya.

Padahal, lanjutnya, gaya tersebut sudah ditekuninya beberapa tahun lamanya. Pertama kali mulai menggambar dengan gaya itu pad 1991 setelah masuk kuliah di Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta. Namun pada saat itu dosen maupun teman-temannya banyak yang menertawakan. "Namun saya tetap ngeyel dan akhirnya orang-orang mau yang menerima. Bahkan ada mulai mengikuti jejak saya," ungkapnya.

Selain banyak ditiru, sambungnya, misinya juga sudah dianggap selesai. Kalau ada orang lain mengikutinya tidak jadi masalah. Ia justru berterima kasih karena orang lain sudah mau menerima idenya.
Ugo juga tak mau nantinya dicap sebagai pelukis dekoratif yang hanya bisa satu macam gaya saja. Hanya saja, ia belum tahu akan melukis dengan gaya apa setelah gaya corat-coret ditinggalkannya. "Mungkin ingin mencoba menggambar lanskap atau pemandangan. Saya sudah jenuh dengan gaya lukisan modern," katanya.

Ugo juga mengemukakan, pada lomba itu kemungkinan yang dinilai adalah unsur politis yang mengarah pada reformasi, karena peserta seperti Isa Perkasa pun mengirimkan karya Indonesia Kini Sedang Luka yang juga mengambil tema macam itu. Sedangkan karyanya di antara 5 nomisasi itu paling berbeda, sehingga sempat mengundang pertanyaan seorang wartawan Jakarta Post.
Bagi Ugo tak perlu ada kata reformasi. Reformasi itu dari diri-sendiri. Reformasi berarti juga menggambar dengan bebas dan seenaknya. "Bukan menggambar demonstrasi saja. Tema reformasi mungkin saat ini lagi trend," ucapnya.

Menurut Ugo, memang ada kecenderungan peserta lain mengarah pada tema reformasi, sehingga tidak bisa dibedakan mana yang latah dan bukan. (ee)