tian mangzi: 16 apel
solo exhibition @ Emmitan Fine Art Gallery, Surabaya
17 dec - 7 jan 07

Sambutan Bapak Hendro Tan

Emmitan Fine Art Gallery
Siaran Pers (Bahasa Indonesia)
teks katalog (Bahasa Indonesia)
Apel / Planet Dalam Lukisan Tian Mangzi

oleh Michelle Chin
catalogue text (English)
Tian Mangzi's Apples / Planets
by Michelle Chin

IMAGE ARTWORK DETAILS
PRICE
   

Tian Mangzi
Blue and Green
2006
oil on canvas
170 x 170 cm w

tmz007

S$10,000

Kata Sambutan

Bergulirnya wacana seni rupa dalam medan sosial terus mengalir dari waktu ke waktu, terkait dengan berbagai tawaran bahasa visual maupun pemikirannya.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari upaya para pelaku seni rupa itu sendiri, atau event-event pameran diberbagai tempat dengan dukungan pola manajemen yang tertata serta termediasikan secara baik dalam rangka meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan karya seni (lukis) dewasa ini.

Minat masyarakat yang terus menguat, sudah tentu para pihak penyelenggara pameran (galeri) dituntut untuk menyajikan karya-karya yang lebih selektif. Sebagaimana dapat menyajikan karya-karya yang menarik dan tematik, saya selalu pro-aktif  mengikuti perkembangan karya-karya yang dihasilkan  para seniman.

Untuk memenuhi pemahaman saya semacam itu, secara sepintas saya mencoba mengamati dan mengkaji kecenderungan seni lukis  generasi muda di negeri Cina miliki potensi dalam perkembangan seni kontemporer dewasa ini, artinya kreativitas para seniman muda tidak lagi terkotak-kotak atau mengikuti kaedah-kaedah aliran maupun gaya tertentu yang berkembang dalam sejarah seni rupa barat. Akan tetapi justru para seniman muda sekarang berani ber-eksplorasi menjelajah berbagai kemungkinan bahasa visual dan wacana pemikiran.

Salah satunya, Tian Mangzi setelah sekian lama saya mengikuti perkembangan karya-karyanya yang “unik” baik mengenai teknis, bentuk, tema,  dan saya kira layak untuk di-mediasikan guna disimak dan dikaji perkembangannya.

Dengan melukis buah apel, Tian Mangzi berfilosofi seni rupa satu obyek dengan warna beda, adalah pembedaan paham seni yang logis. Dia takkan mengikuti aturan atau keharusan yang usang, karena itu dia menemukan seni untuk masa yang akan datang.

Oleh karena itulah Emmitan Fine Art Gallery sangat antusias untuk memamerkan karya-karya Tian Mangzi dalam bentuk pameran tunggal karya-karya seni lukisnya cat minyak pada kanvas yang dihasil tahun ini, agar bisa dipelajari dan diapresiasi oleh masyarakat seni secara lebih luas dan jauh.

Dengan begitu, secara umum saya berharap event pameran ini dapat memberikan sumbangsih untuk meningkatkan, memperluas dan merangsang pemahaman sebagai ruang proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan yang komprenhensif khususnya tentang karya seni lukis kontemporer generasi muda negeri Cina.

Selamat mengapresiasi dan menikmati.

Hendro Tan
EMMITAN Fine Art Gallery

Tian Mangzi’s Apples / Planets

by Michelle Chin

Born in Shenyang in 1968, Tian Mangzi began to paint when he was 12 or 13 years old. He studied ink and brush techniques under the guidance of Chinese masters who taught him to paint landscapes outdoors in nature. At the age of 18 he entered the Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts, graduating in 1990 with a Bachelor of Fine Arts degree. In 1992 he attended the classical Chinese paintings department of the Academy of Fine Arts of Xi’an and graduated with a Master’s degree in 1995. From 1999-2002 he taught painting at the Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts. Since 2002, he has worked as a full-time artist.

When Tian Mangzi began to paint still life he focussed on trying to understand the structure and character of the pear, orange, banana and other fruits and vegetables. He finally chose the apple as his favourite object for still life paintings because it has the same characteristics of simplicity and complexity, just like Planet Earth.

A turning point for Tian Mangzi was the Tiananmen Square massacre in 1989 which shattered all of the ideals that he and other students had believed in until that time. Although they wished to contribute to creating a better planet, the students realized that they cannot control the future of state and government. Mankind also cannot change the problems and pains of the world.

He says, “The world is not beautiful, and I even hate it a bit. Human society deviates from morality and ideals. Human history is full of political intrigues, tyranny, war and slaughter. Everywhere there are destitute and homeless people, beggars. On the one hand there are the helpless, poor, hard-working people and on the other hand there are the extravagant and miserly rich. Human are gradually destroying the environment, the planet is polluted, and all the rivers stink with garbage. I feel disappointed by all of this and I have no power to stop it.”

One year after he started to focus on painting apples, he suddenly realized the reason for doing so. It was “an impulse to overthrow the accursed world and then to create a new, beautiful, peaceful planet which belongs to everyone.” Tian Mangzi does not tire of painting apples because he says, “What I have painted is not apples but planets.”

Tian Mangzi explains, “Chinese attitude is to suggest a shape as a hint of the universe. Chinese philosophy is based on emotion rather than logic or rationality. My art has two functions: firstly, to construct an apple, and secondly to try to encourage the viewer to move into a second stage of realizing that the shape represents the universe.
The apples/planets are suspended in space, but “space” has been removed so that the dimensional effect remains.”

The various colours that Tian Mangzi uses represent the different types of people, character and environment. The colours are his attempt to achieve happiness.

Blue symbolizes the sky and, by extension, the gods. Blue represents mystical things and the wonders of the universe.  Tian Mangzi’s blue apples represent a blue planet of water and oceans most like the Planet Earth where we live.

Yellow represents gold and wealth, while red symbolizes fire, courage, anger, stormy emotions, love and power.

Pastel pink is like a youthful complexion, the skin of a young girl.

Purple and lilac represent mystery and the unknown things that we cannot understand. Imperial purple is chemically very closely related to indigo, and it can sometimes be very difficult to tell the two colours apart. It was indeed possible to get blue from purple by involving a photo-chemical reaction (sunlight) in such a way that it was like the world itself born out of light.

Purple has often been considered to be a symbol of power, greed and luxury. However, bluer shades of purple (with little sunlight mixed in) remind us not to forget the more mystical side of the universe.

Black can represent time, and white represents logical things. Mixing black and white together, we achieve the colour grey which is passive, silent and meditative, representing profound thoughts and those who love peace.

Green is the new planet, and the hope that this should be the ideal planet.

Through his paintings of apples, Tian Mangzi wants to create a perfect world. Maybe there is no possibility yet for Utopia. So at the moment, the dream is present only in his paintings.

Apel / Planet Dalam Lukisan Tian Mangzi
Oleh Michelle Chin

Tian Mangzi lahir di Shenyang tahun 1968, ia mulai melukis sejak berusia 12 atau 13 tahun. Ia belajar teknik tinta dan teknik kuas dengan menggunakan cat di bawah bimbingan para master Cina yang mengajar dia untuk melukis landscape outdoors secara alami. Pada umur 18 tahun ia masuk di Shenyang Lu Xun Academi of Fine Arts, lulus tahun 1990 meraih gelar Bachelor of Fine Arts (BFA). Pada tahun 1992 ia mempelajari lukisan Cina klasik di Academy of Fine Arts Xi'an dan lulus tahun 1995 dengan memperoleh gelar Master. Tahun 1999-2002 Tian Mangzi mengajar seni lukis di Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts. Sejak tahun 2002 itu, ia mulai menggunakan seluruh waktunya untuk berkarya sebagai seniman.

Ketika Tian Mangzi mulai melukis tentang still life dia fokuskan pada usahanya untuk memahami struktur dan karakter buah, jeruk, pisang, sayur-sayuran serta jenis buah-buahan lain. Dan, akhirnya Tian Mangzi memilih buah apel sebagai yang disenanginya untuk objek lukisan still life, sebab buah itu mempunyai karakteristik kesederhanaan dan kompleksitas yang sama dengan Planet Bumi (Planet Earth).

Kilas balik Tian Mangzi adalah tentang peristiwa pembunuhan besar-besaran Tiananmen Square tahun 1989 yang telah menghancurkan semua ideal yang dipercaya oleh dia sendiri dan para siswa lain. Walaupun mereka semua ingin berperan untuk menciptakan planet lain yang lebih baik, para siswa menyadari bahwa mereka tidak bisa mengontrol masa depan negeri Cina atau pemerintahnya. Umat manusia juga tidak bisa merubah permasalahan dan sakitnya dunia.

Ia mengatakan, "Dunia ini tidak indah, dan saya merasa kecewa. Masyarakat (human society) banyak yang menyimpang dari moral dan yang ideal. Sejarah manusia penuh dengan intrik politis, kekejaman, pembantaian dan peperangan. Di mana-mana ada orang tunawisma dan orang miskin, pengemis. Pada satu sisi ada orang-orang lemah/miskin yang bekerja keras dan selalu merasa tidak berdaya, dan pada sisi lain ada yang kaya namun pelit dan boros. Manusia secara berangsur-angsur telah menghancurkan lingkungannya sendiri, planet dikotori, bahkan semua sungai berbau busuk oleh karena sampah. Saya merasa kecewa dengan semua ini dan saya tidak punya kekuasaan untuk menghentikan semua itu."

Setahun setelah ia memfokuskan pada lukisan buah apel, tiba-tiba ia menyadari bahwa alasannya untuk membuatnya ialah "dorongan hati untuk merobohkan dunia yang sudah terkutuk, dan, kemudian menciptakan sebuah planet baru, yang indah dan tenang yang dimiliki semua orang." Tian Mangzi tidak bosan melukis buah apel, dan ia mengatakan, "Apa yang sudah saya lukis sebenarnya bukan buah Apel tetapi Planet."

Selanjutnya Tian Mangzi menjelaskan, "Sikap orang-orang Cina menyarankan suatu bentuk sebagai nilai filosofis alam semesta itu. Filsafat Cina didasarkan pada emosi bukannya pada logika atau rasionalitas. Seni-ku mempunyai dua fungsi: pertama, untuk mengkonstruk (menggambar) buah apel, dan kedua mencoba untuk mendorong penonton supaya merubah langkahnya, menyadari realisasi bentuk yang merepresentasikan alam semesta. Apel/Planet melayang dalam ruang (space), tetapi "ruang" yang telah dialihkan sedemikian rupa sehingga masih meninggalkan efek dimensionalnya."

Berbagai warna yang Tian Mangzi gunakan mewakili jenis-jenis orang yang berbeda, karakter dan lingkungannya. Warna merupakan usahanya untuk mencapai kebahagiaan.

Warna Biru menandakan langit dan para dewa. Biru menghadirkan hal-hal kebatinan dan ke-universalan alam semesta. Buah apel Tian Mangzi yang biru adalah sebuah simbol daripada suatu planet dengan samudra air yang paling mirip dengan Planet Bumi yang kita tinggali.

Warna Kuning menyimbolkan kekayaan dan emas, sedangkan warna merah menandakan api, keberanian, kemarahan, emosi yang berhembus keras, cinta dan kekuasaan.

Warna pink pastel seperti sebuah kulit yang nampak masih muda, laiknya kulit seorang perempuan muda.

Warna ungu dan lilac menghadirkan misteri dan hal-hal yang tak dikenal atau yang tidak bisa kita pahami. Ungu Imperial (imperial purple) secara kimiawi sangat erat berhubungan dengan warna/tanaman nila, dan kadang-kadang terasa sulit untuk membedakan kedua warna itu. Memang kami bisa mendapatkan warna biru dari warna ungu dengan menyertakan sebuah reaksi photo-chemical (cahaya matahari) yang sedemikian rupa sehingga seperti lahirnya dunia sendiri dari cahaya.

Warna ungu sering dianggap sebagai simbol kekuasaan, kemewahan dan ketamakan. Bagaimanapun juga, warna ungu kebiru-biruan memberi keteduhan warna ungu (dengan sedikit cahaya campuran) mengingatkan kita pada sisi kebatinan terhadap alam semesta.

Warna hitam merepresentasikan tentang waktu, dan putih menghadirkan hal-hal yang logis. Dengan pencampuran hitam dan putih, kita akan memperoleh warna abu-abu yang pasif, suka berdiam dan merenung, mewakili ‘pemikiran dalam’ dan mereka yang mencintai kedamaian.

Buat Tian Mangzi, warna hijau merupakan jenis planet yang baru, dan harapannya ini merupakan planet yang ideal.

Melalui lukisan buah apel-nya itu, Tian Mangzi ingin menciptakan sebuah dunia yang sempurna. Barangkali utopia tidak mungkin tercapai. Jadi, pada saat ini, hanya mimpinya yang hadir dalam lukisannya.

[translated by A. Anzieb]


SIARAN PERS

Contact: Andhi / Tommy
tel: 031-5466611, 5477711
email: artemmitan@yahoo.com

Untuk disiarkan segera

Pameran Tunggal Lukisan TIAN MANGZI
"16 APEL"

Emmitan Fine Art Gallery, Surabaya
17 Desember 2006 – 7 Januari 2007

 

Pameran tunggal lukisan Tian Mangzi akan dibuka oleh Ketua ASPI (Asosiasi Pecinta Seni Indonesia) Bapak Hauw Ming pada tanggal 17 Desember 2006 di Emmitan Fine Art Gallery, Jalan Walikota Mustajab 76, Surabaya pukul 19.00. Pameran ini akan berlangsung sampai tanggal 7 Januari 2007.

Tian Mangzi lahir di Shenyang tahun 1968, ia mulai melukis sejak berusia 12 atau 13 tahun. Ia belajar teknik tinta dan teknik kuas dengan menggunakan cat di bawah bimbingan para master Cina yang mengajar dia untuk melukis landscape outdoors secara alami. Pada umur 18 tahun ia masuk di Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts, lulus tahun 1990 meraih gelar Bachelor of Fine Arts (BFA). Pada tahun 1992 ia mempelajari lukisan Cina klasik di Academy of Fine Arts Xi'an dan lulus tahun 1995 dengan memperoleh gelar Master. Tahun 1999-2002 Tian Mangzi mengajar seni lukis di Shenyang Lu Xun Academy of Fine Arts. Sejak tahun 2002, ia mulai menggunakan seluruh waktunya untuk berkarya sebagai seniman.

Menurut Hendro Tan, pemilik Emmitan Fine Art Gallery, "Dengan melukis buah apel, Tian Mangzi berfilosofi seni rupa satu obyek dengan warna beda, adalah pembedaan paham seni yang logis. Dia takkan mengikuti aturan atau keharusan yang usang, karena itu dia menemukan seni untuk masa yang akan datang.

Oleh karena itulah Emmitan Fine Art Gallery sangat antusias untuk memamerkan karya-karya Tian Mangzi dalam bentuk pameran tunggal karya-karya seni lukisnya cat minyak pada kanvas, agar bisa dipelajari dan diapresiasi oleh masyarakat seni secara lebih luas dan jauh."

Sebuah katalogus diterbitkan sekaligus pada kesempatan pameran tunggal ini. Di dalam katalogus ada sebuah esei/tulisan yang berjudul “Apel / Planet Dalam Lukisan Tian Mangzi” oleh penulis Michelle Chin [terlampir]

Siaran pers ini sekaligus merupakan undangan. Oleh karena itu pelukis dan pihak penyelenggara dengan hormat mengundang Anda untuk ikut mengapresiasi suguhan lukisan sejumlah 16 karya.