CERMIN DIRI: Lukisan Karya I Ketut Budiana

by Michele Stephen

Lukisan karya pelukis Ketut Budiana selalu tampak lain daripada yang lain - terkadang tampak terkesan jenaka, menyeramkan, kreatif dan inventif atau bahkan eksotis. Namun demikian, tema yang digarapnya selalu berakar kuat dalam kebudayaan Bali baik dari segi filsafat, mitologi maupun agama. Karya-karya Budiana juga sangat kental dengan ajaran-ajaran esoteris yang terkandung dalam naskah-naskah kuno orang Bali yang ditulis dalam berbagai Lontar. Bentuk yang digunakan dalam lukisan karya Budiana bukanlah merupakan refleksi mimpi buruk akibat gangguan kejiwaan, seperti yang mungkin tampak sekilas. Akan tetapi, pelukis yang satu ini membuat referensi yang berasal dari lukisan-lukisan yang bernuansa magis dan diilhami oleh rerajahan (lukisan) yang dijumpai pada pustaka Lontar Bali. Memang telah banyak dibahas bahwa kebudayaan dan filsafat Bali selalu mengutamakan faktor keseimbangan, proliferasi yang tersembunyi, bentuk-bentuk yang menyerupai monster yang terdapat di pura dan seni tradisional Bali, sepertinya memang mencerminkan anggapan ini. Seperti halnya seni yang terdapat di pura-pura orang Bali, tema-tema lukisan Budiana didominasi oleh rupa-rupa yang sangat menyeramkan yang tersembunyi dan wajah-wajah menakutkan seperti monster dengan taring besar yang runcing, kuku-kuku panjang yang tampak hendak mencengkeram, mulut yang menganga, anggota badan yang terpisah dari tubuh, alat vital yang rusak, mata besar yang membelalak, bayangan rangda dan monster yang sedang menyantap korbannya. Tema-tema yang diangkat Budiana merupakan hal-hal yang sangat serius tetapi ia sering menampilkannya dengan sangat jenaka yang juga merupakan ciri khas seni tradisional Bali. Beberapa karya Budiana juga menampilkan lelucon-lelucon berbau porno seperti tampak pada gaya lukisan Kamasan yang menampilkan hukuman neraka menurut versi orang Bali. Apakah ini yang disebut “pergulatan antara kebaikan dengan kejahatan” seperti yang sering dikutip oleh para pemandu wisata di Pulau Bali untuk membantu wisatawan asing memahami konsep yang sangat abstrak ini? Pemahaman yang sederhana itu memang tidak cukup adil mengingat kompleksitas konsep filsafat dan kebudayaan Bali maupun kompleksitas karya-karya Budiana yang diilhami oleh konsep tersebut.

Kita mulai dengan kekuatan, transformasi, generasi dan penciptaan dalam skala kosmostis - kekayaan yang melimpah, reproduksi yang terus menerus dalam dunia nyata, penyatuan berbagai unsur yang terpisah untuk menciptakan suatu entitas dan kehidupan baru. Mulai dari kanvas berukuran besar sampai dengan kertas gambar kecil biasa, karya-karya Budiana sarat lekat dengan ledakan tenaga dan kekuatan fisik. Ada gumpalan awan, gelombang dan badai yang besar dan garang - semuanya merupakan bentuk perubahan alami yang mungkin merupakan transformasi dan penguraian yang sangat aneh dan tak terduga. Bentuk-bentuk yang menggambarkan penguapan, desis, pendidihan, adukan, semuanya menunjukkan fluiditas dan sifat kebebasan benda-benda fisik yang tidak mau terikat dan secara terus-menerus mengalami perubahan. Gerakan itu selalu maju dan ke atas seperti halnya ledakan tenaga dan kekuatan yang berada di tengah-tengah. Budiana lalu melukiskan kosmos yang merupakan tempat berbagai entitas untuk mengambil bentuk dan mengubah bentuk menjadi sesuatu yang baru. Melukiskan kegiatan lima unsur alam (Panca Mahabhuta) - tanah, air, api, angin, dan ether - merupakan kekuatan yang tidak kasat mata yang selalu menghancurkan bentuk yang telah ada dan menciptakan bentuk yang baru sama sekali. Kita tahu bahwa Budiana tidak sekedar menunjukkan kekacauan tanpa bentuk, melainkan ia menggali pengetahuan dan kebijakan yang berasal dari kaidah-kaidah yang melandasi siklus transformasi yang tak pernah berhenti tersebut.

Untuk tujuan ini, Budiana selalu mempunyai nafsu yang menggebu - terhadap bentuk-bentuk erotik, bentuk ketamakan serta nafsu untuk menikmati. Nafsu yang menggebu untuk memakan, menguasai, dan melakukan sesuatu yang dirangkum oleh karya-karya Budiana berupa monster yang rakus dan rangda mungkin sangat menjijikkan dan sangat mengganggu selera. Namun, dengan mengembalikan segala ciptaan ke dalam bentuk aslinya (Panca Mahabhuta), semua unsur ini dapat dikombinasikan lagi untuk membentuk kehidupan baru. Dalam bahasa Bali dan Indonesia, proses seperti ini disebut “lebur”. Dewa Siwa diberi julukan sebagai Dewa Pelebur atas dunia fana, yang merupakan prinsip penguraian zat ke dalam unsur-unsur asli pembentuknya sehingga memungkinkan terbentuknya bentuk yang baru. Dalam pengertian positifnya, nafsu yang menggebu untuk menikmati sangat berhubungan dengan kekuatan yang mampu menyatukan berbagai unsur, muncul dalam kebutuhan untuk selalu bersatu dengan kebutuhan kasih sayang yang lain, baik rasa cinta terhadap sesama manusia maupun nafsu untuk mencapai moksa (menyatu dengan Tuhan).

Adanya ketegangan yang menyangkut nafsu erotis merupakan kekuatan yang tercermin dalam tema-tema lukisan Budiana. Beberapa karya Budiana memang tampak sangat erotik, ada juga yang menggambarkan pertemuan yang sangat aneh yang memerlukan pengkajian lebih mendalam untuk memahaminya. Misalnya, sebuah pertemuan - antar manusia, hewan, mahluk halus, atau dewa - semuanya menunjukkan karya yang sangat kreatif. Pertemuan antara seorang pria dan wanita, ayah dan ibu bukan semata pertemuan antara dua anak manusia yang berlainan jenis. Yang lebih penting adalah bahwa pertemuan seperti itu menghasilkan unsur ketiga, pembentukan benih kehidupan baru. Dalam ajaran Lontar, pertemuan antara pria dan wanita merupakan bersatunya antara api dan air. Manusia dan monster yang memiliki wajah dan sifat yang serupa merupakan hasil pertemuan kreatif yang sama. Dalam karya-karya Budiana, pertemuan semacam itu merupakan perwujudan, pertemuan itu tidak selalu merupakan bersatunya dua jenis kelamin yang berbeda, namun kedua kekuatan itu bisa saja muncul bersama pada berbagai tempat. Prinsip maskulin, yang diwujudkan dengan air, bergerak ke bawah untuk menyentuh api yang merupakan unsur feminin yang secara alami bergerak ke atas. Unsur ketiga, yang muncul akibat pertemuan tersebut, ditunjukkan dalam berbagai cara. Misalnya, dalam lukisan yang berjudul Rwa Bhineda atau Dua Kekuatan Yang Berlawanan (akrilik di atas kertas, 76 x 60 cm), wajah monster berwarna putih muncul di bawah dan tepat di tengah-tengah antara dua bentuk yang sangat seram yang melambangkan kelahiran kekuatan jahat atau bhutakala, hasil pertemuan antara Dewa Siwa dengan Dewi Uma dalam manifestasi mereka yang paling menyeramkan, Siwa Kala dan Durga.

Dari perkawinan yang sangat misterius antara api dan air lahirlah atma atau jiwa yang merupakan percikan sifat-sifat dewa di dalam tubuh semua manusia. Pria dan wanita juga melambangkan jiwa dan zat nyata; penciptaan kehidupan baru selalu melibatkan pertemuan antara jiwa dan zat nyata. Proses ini dilambangkan dalam pertemuan antara api dan air yang merupakan proses netralisasi keduanya. Dalam hal pemadaman api oleh air, ada unsur ketiga berupa uap atau embun yang muncul melambangkan zat nonmaterial sekaligus merupakan produk kejiwaan dari pertemuan tersebut. Sebaliknya, uap air ini akan berubah bentuk menjadi air dan kembali ke bumi seperti halnya jiwa manusia yang terus mengalami proses kelahiran ke dunia.

Karya-karya Budiana merupakan eksplorasi yang sangat kreatif dari prinsip-prinsip feminisme, ibu. Budiana berfokus pada sosok ibu sebagai media, dan melalui ibu berbagai unsur yang terpisah digabungkan kembali. Sosok leyak (perwujudan ilmu hitam Bali) yang memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan bentuk, merupakan penyebar wabah penyakit, kematian, dan penghuni wilayah kuburan yang selalu lapar untuk mencari mayat-mayat yang sedang membusuk, sekaligus melambangkan kekuatan seorang ibu. Dalam aspek yang sangat menakutkan ini, ibu sebagai pemakan bangkai, melebur zat yang telah mati di dalam perutnya sehingga zat tersebut dapat dikembalikan ke dalam bentuk asalnya, seperti terjadinya manifestasi yang sangat halus di mana seorang ibu menggabungkan unsur-unsur asli sehingga terjadi kelahiran. Kuburan dan rahim merupakan dua proses dalam satu aspek.

Kekuatan magis (kesaktian) sangat erat kaitannya dengan kekuatan ibu untuk memberikan bentuk pada keberadaan zat untuk menciptakan entitas baru ke dunia. Aspek feminin dari kekuatan dewa disebut sakti; sementara aspek maskulin merupakan jiwa yang murni yang tidak terikat dengan dunia nyata. Hanya dengan kesaktiannya, atau kekuatan feminin, dewa ditarik untuk terlibat dengan dunia nyata. Dengan demikian, bukanlah Dewa Siwa yang menciptakan dunia, melainkan saktinya, Dewi Uma, yang dalam proses yoga berhasil menciptakan semua aspek perubahan dalam di dunia. Kekuatan sakti melibatkan pemanfaatan energi suci untuk menimbulkan perubahan yang dikehendaki dan manusia bisa memperoleh kekuatan sakti dengan memuja Dewi Durga yang merupakan perwujudan Dewi Uma dalam bentuknya yang sangat menakutkan. Ini berarti bahwa kekuatan magis berasal dari ibu, dan karenanya sekaligus merupakan kekuatan ibu, dan bagi mereka yang menginginkan kekuatan tersebut, ia harus terlibat dengan ibu dengan wajahnya yang paling menyeramkan. Bentuk-bentuk monster yang ditampilkan Budiana merupakan wajah-wajah kekuatan - nafsu yang kuat, kekuatan perusak, energi, kekuatan - namun nafsu dan kekuatan perusak memang diperlukan dalam dunia nyata, sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Mereka bukan merupakan bagian dari dunia nyata, seperti yang dikatakan oleh Budiana, “Jika sesuatu itu benar jahat, lalu mengapa Tuhan menciptakannya? Pasti ada tujuan atas penciptaannya itu.” Yang menjadi masalah adalah bagaimana manusia menerapkan atau menggunakan kekuatan itu yang akan membedakannya dengan kejahatan atau kebaikan. Leyak itu bukan kekuatan jahat jika ia berfungsi untuk mengembalikan mayat-mayat di kuburan ke unsur-unsur pembentuknya.

Misteri selanjutnya adalah bahwa semua zat yang mengambang ini merupakan bentuk konflik kosmostis - mereka bersifat kreatif dan sekaligus destruktif. Ajaran Bali tentang makrokosmos dan mikrokosmos menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di atas sana harus dijumpai di dalam tubuh kita sendiri, oleh karena itu, untuk memahami dunia lain, kita harus memahami dunia kita. Pemahaman terhadap diri sendiri secara mendalam merupakan cara bagi sumber kekuatan dan bagi mereka yang mencari kekuatan sakti tersebut, yang merupakan cara yang telah dilakukan oleh para spiritualis dalam menyatukan jiwanya dengan Tuhan. Dalam pandangan Budiana, hanya dengan memahami bagian yang paling gelap kita mampu memahami diri kita sendiri dan memperoleh kekuatan yang paling tinggi. Manusia dan mahluk lain terdiri dari unsur-unsur alam, pikiran, tindakan, dan nafsu tidak lepas dari pengaruh unsur-unsur alam seperti bhutakala. Oleh karena itu, terlebih dahulu manusia harus mengalahkan unsur gelap itu untuk mencapai kesucian rohani dan bersatu dengan Tuhan.
Warna gelap yang digunakan Budiana menunjukkan misteri kosmos. Di samping warna hitam dan putih, satu-satunya warna lain yang tampak adalah bintik-bintik merah dan kuning. Secara bersama keempat warna tersebut (hitam, putih, merah, dan kuning) mewakili empat arah mata angin yang utama dan empat saudara yang menyertai kelahiran manusia, Kanda Empat, yang menghubungkan manusia dengan dunia tak nyata. Sebagai manusia, kita hanya mampu melihat bentuk dan kekuatan misterius di sekeliling kita; karena bentuk muncul dari kegelapan dan tempat yang sangat rahasia, kita lalu berusaha untuk memahaminya. Mereka yang mencari kekuatan sakti harus mampu melakukan visualisasi, melakukan kekuatan penciptaan bentuk dan bayangan atas nafsunya (seperti kata Lontar bahwa dunia diciptakan melalui kegiatan yoga yang dilakukan oleh para dewa). Mereka saling membagi dengan ibu, para dewa - dan dengan seniman - dengan kemampuannya untuk menciptakan bentuk dari entitas tanpa bentuk.

Di sini lalu muncul lagi misteri yang lain. Dalam ajaran Lontar Bali seperti yang digambarkan Budiana kepada kita, bhutakala dan dewa bukan merupakan kekuatan yang saling bertentangan, tetapi mereka melambangkan bentuk atau rasa yang berbeda dari kekuatan yang sama. Dewa bisa mengambil bentuk raksasa, demikian sebaliknya dengan bhutakala yang mengambil bentuk dewa. Lontar Siwagama mengisahkan bagaimana Dewa Siwa ketika marah berubah menjadi Bhatara Kala yang sangat menyeramkan dan sakti Beliau, Dewi Uma, berubah menjadi Durga yang sangat menakutkan. Dalam bentuk yang sangat menakutkan tersebut, kedua dewa itu bertemu dan terciptalah bhutakala yang merupakan kekuatan jahat dan perusak yang anak-anak mereka senang memangsa manusia dan merusak dunia. Ketika disuguhi dengan sesajen yang tepat, Siwa Kala, Durga, dan bhutakala akan berubah ke bentuk mereka yang baik dan kembali ke Nirwana. Transformasi seperti ini juga dimungkinkan terjadi pada manusia karena pada dasarnya mengandung unsur-unsur dan potensi yang sama. Bagi Budiana eksplorasi terhadap keberadaan kita sebagai manusia yang lahir dari prinsip feminisme kosmik - Uma dalam mitologi Bali merupakan langkah pertama untuk mengetahui diri kita sendiri secara mendalam. Ia mulai dengan menampilkan bentuk-bentuk yang seram dan menakutkan yang merupakan kekuatan ibu - Dewi Uma sebagai Durga, ibu sebagai leyak, sebagai dewi bumi (Ibu Pertiwi) sumber dari segala kekuatan jahat. Namun demikian, ibu, dalam tingkatan apa pun, selalu berfungsi untuk melahirkan dan memelihara kita.

Lukisan karya Budiana penuh dengan bayang-bayangan imajiner yang sangat menakutkan sekaligus merupakan representasi sosok ibu yang sangat menyeramkan, ada yang seperti ulat atau cacing raksasa, ada juga yang ditampilkan dengan payudara raksasa dengan tubuh menyerupai sapi, namun semuanya tampak menyusui bayi monster dengan lembut. Ada juga potret ibu yang sedang bersedih, dengan beban yang maha berat sambil menyusui anaknya yang begitu banyak semuanya menempel di tubuhnya ibarat lintah pada sebuah pohon. Walaupun terkesan tidak adil jika dilihat dari beban yang dipikulnya, sosok ibu juga memiliki kekuatan tersembunyi - kekuatan magis yang dahsyat. Mereka yang memberikan kehidupan dari tubuh mereka sendiri dapat menggunakan kekuatan yang sama untuk mengubah sosok mereka yang lembut, anggun menjadi bentuk yang menyeramkan. Lukisan karya Budiana penuh dengan wujud leyak, ceceran darah dan api yang keluar dari alat vitalnya dengan lidahnya yang menjulur menyerupai seekor ular raksasa. Ketamakan, kemarahan dan kekuatan merusak maha hebat merupakan cara-cara kerja leyak, wujud yang sama sekali bertolak belakang dengan sosok ibu yang penuh kasih sayang.

Budiana juga menampilkan bentuk-bentuk besar yang sepertinya tidak memiliki hubungan dengan sosok seorang ibu. Wajah yang menakutkan tiba-tiba mencuat dari awan tebal dan bebatuan, mahluk yang aneh tampak keluar dari pepohonan, raksasa yang merangkak dari puncak gunung atau yang sedang mengguncang bumi dengan kekuatannya; semuanya ini juga muncul dari sosok ibu karena seluruh kekuatan entitas di bumi merupakan ciptaannya atau anak-anaknya. Ini semua menunjukkan betapa besarnya kekuatan yang dimiliki oleh ibu, kekuatan alam sekitar kita. Mereka begitu kuat dan besar, menakutkan, memiliki kemampuan menghancurkan tergantung pada cara kita melihatnya dan bagaimana kita menghadapinya. Kemampuan Budiana untuk menciptakan rasa yang mencekam menggugah kita untuk memahami bahwa semuanya ini berasal dari sumber kekuatan yang sama, yaitu Dewi Uma dalam berbagai manifestasinya - Saraswati, Dewi Sri, Dewi Danu, dan Durga. Ia memang benar-benar pencipta dan sekaligus perusak; dan selanjutnya peran gandanya ini dapat kita jumpai dalam diri kita sendiri. Jadi, kita harus mulai memahami misteri keberadaan manusia dengan menerima sosok ibu dalam kedua aspeknya yang sangat berbeda itu. Untuk itu diperlukan langkah yang menurun untuk menyelami rahasia yang paling dalam seluruh mahluk di dunia. Kenikmatan rohani rupanya tidak merupakan tujuan akhir, namun kesadaran spiritual dan pendekatan terhadap kekuatan spiritual dengan segala kekuatannya haruslah menjadi tujuan. Ini merupakan gerakan ke atas, menjauh dari dunia kegelapan kita yang fana.

Arah perjalanan internal ini ditunjukkan dalam lukisan Padma (tinta dan akrilik di atas kertas, 51 x 37 cm) yang merupakan sintesis pandangan pelukis Budiana. Distorsi bentuk sentral menunjukkan keberadaan penjelajah spiritual setelah memperoleh kebenaran sejati. Sosok itu berlutut di atas kaki kirinya duduk di atas punggung seekor sapi - Ibu Pertiwi. Di belakangnya adalah kepala Bedawang (Penyu), yang melambangkan dunia kosmik kita yang dianggap penyeimbang dunia yang bertengger di atas punggungnya. Kaki kanan sosok tersebut tampak memanjat ekor sapi yang telah berubah menjadi bendera putih yang memuat bayangan Acintya, Tuhan Yang Maha Tinggi. Semuanya ini menunjukkan bahwa tujuan utama yang harus dicapai adalah kesucian rohani, ketidakterikatan dengan badan jasmani dan kebahagiaan abadi (moksa). Di tengah-tengah terdapat bunga padma yang sedang mekar yang menurut filsafat Bali, bunga padma (tunjung) yang mampu mengeluarkan bunganya indah dari dalam lumpur melambangkan tiga tahapan kehidupan spiritual. Seekor ular yang berada di bawah tiga bunga padma melambangkan kundalini yang merupakan kekuatan dalam yang berhasil diciptakan melalui latihan yoga. Bagian bawah tubuh (tempat berkumpulnya nafsu duniawi, ketamakan, dan kejahatan) mendorong nafsu seksualitas dan energi lainnya untuk menghasilkan kekuatan suci yang dilambangkan dengan tiga helai padma. Jadi, seperti halnya sifat bunga padma, kundalini juga muncul dari ketidaksucian dan kotoran yang memberikan jalan atas lahirnya bunga yang indah di udara. Tiga helai padma beserta warnanya melambangkan dewa Brahma (merah), Wisnu (hitam) dan Siwa (warna-warni). Ini menunjukkan bahwa kekuatan para dewa juga terdapat di dalam tubuh kita dan dengan melaksanakan berbagai kegiatan spiritual kita akan mampu membangkitkan kekuatan ini. Bentuk leher yang aneh menoleh ke kiri dan melingkar turun berada di bawah alat vital, dan muncul di depan tubuh di antara kedua kaki, kemudian mencuat mengitari wajah pencari kebenaran yang tampak sedih dipegang dengan tangan kanan sedemikian rupa sehingga tampak bahwa sosok itu sedang mengamati wajahnya sendiri. Gerakan kepala dengan lehernya yang panjang menyerupai ular melambangkan kesadaran, menunjukkan keinginan untuk melakukan perlawanan dan untuk mengetahui diri sendiri melalui perjalanan memahami diri sendiri yang akhirnya menunjukkan atma yang bergerak ke atas menuju sumber segalanya yang diyakini berada di atas.

Karya-karya Budiana mengajar penikmatnya untuk memahami diri mereka sendiri agar bisa menyadari bahwa dunia kegelapan dan menakutkan yang tersirat dalam lukisannya dapat pula dijumpai dalam diri mereka. Dan jika kita berani menghadapinya dengan kesadaran penuh maka hal itu akan menjadi alat untuk mencapai kesadaran dan peningkatan kemampuan spiritual. Karya Budiana telah menampilkan tantangan yang begitu halus bagi jiwa: Cermin Diri!

TENTANG PELUKIS
I Ketut Budiana lahir pada tahun 1950 di Padangtegal, Ubud, Bali. Ia pernah belajar melukis dari pelukis kelahiran Belanda, Rudolf Bonnet. Tahun 1969 - 1972 ia belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SESRI) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Denpasar. Sejak tahun 1972 ia mengajar di sejumlah sekolah dan saat ini Budiana mengajar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Batubulan. Ia menjadi ketua Yayasan Ratna Wartha di Ubud sejak 1980.

Budiana berasal dari keluarga seniman tradisional Bali yang menguasai keterampilan membangun pura, membuat topeng serta peralatan upacara Ngaben (pembakaran mayat). Di samping sebagai pelukis, Budiana juga seorang pematung kayu dan batu yang tangguh. Keahlian khususnya adalah membuat lembu yang digunakan sebagai tempat jenazah untuk upacara Ngaben dan memahat patung yang biasa digunakan sebagai penjaga pura. Sebagian besar dari waktunya ia habiskan untuk ngayah dalam pembuatan pura, waktu yang ia berikan secara percuma sebagai ungkapan terima kasihnya atas bakat seni yang dianugerahkan oleh Tuhan. Semuanya ini merupakan tradisi keluarga yang turun-temurun; kakeknya adalah seorang sangging (seniman) dan juga seorang arsitek (undagi), dan Budiana belajar keterampilan membuat patung ketika ia masih bocah dengan membantu kakeknya memahat di Pura Dalem Padangtegal, Ubud.

Lukisan karya Budiana kini dapat dijumpai dalam koleksi lukisan di Tropenmuseum di Amsterdam, Belanda; Museum of Ethnology di Berlin, Jerman; Fukuoka Art Museum di Jepang; Museum Puri Lukisan di Ubud, Bali; Neka Museum di Ubud, Bali; Agung Rai Museum of Art di Ubud, Bali; Taman Budaya di Denpasar, Bali; Rudana Museum di Ubud, Bali.

Pameran lukisan yang baru-baru ini ia selenggarakan meliputi pameran di Agung Rai Museum of Art di Ubud (2000); “Proyek Ogoh-ogoh” di Barcelona, Spanyol (1998); Festival Persahabatan Indonesia-Jepang di Morioka, Jepang (1997); “Lukisan Bali Modern” di Tokyo (1997); Museum Nasional di Jakarta (1995); “Proyek Ogoh-ogoh” di Seattle, A.S. (1995). Budiana juga berpartisipasi dalam beberapa pameran di Singapore Art Museum (1994); World Presidents Organization d Washington D.C., A.S. (1992); Rudana Gallery di Peliatan (1991); Festival Pameran Keliling Indonesia di A.S. (199092); Museum Puri Lukisan di Ubud (1973 dan 1988); Tropenmuseum di Belanda (1979 dan 1986); Tokyo (1986); National Museum di Fukuoka, Jepang (1985); Taman Budaya di Denpasar (1979-91); Sydney, Australia (1977); pameran solo di Museum Puri Lukisan Ubud (1976); Taman Ismail Marzuki di Jakarta (1975-77); Jakarta (1974).