KOMPAS | Seni & Budaya
Minggu, 08 Januari 2006

"Bengkel" Sureal Edo Pop
oleh Hendro Wiyanto

Citra sureal pada seni lukis kita umumnya dihela oleh hasrat untuk menghidup-hidupkan yang antik, kuno, atau purba: potongan relief candi, topeng, wayang, dan citra-citra makhluk ajaib penghuni alam niskala. Kehidupan yang aneh, gaib, dan misteri dihadirkan kembali melalui fragmen atau simbol budaya lama yang nyaris sudah menjadi semacam klise.

Kritikus Clement Greenberg malahan pernah mengatakan, lukisan-lukisan surealis umumnya dibikin-bikin begitu rupa sehingga tampak seram dengan tujuan untuk menakut-nakuti penontonnya saja. Gaya semacam itu tak cukup bermakna karena sejatinya berada di luar jalur pencarian yang hakiki dari sejarah ’bentuk’ seni modernis, kata Greenberg.

Sejumlah lukisan Eduard (Edo Pop) bertarikh 2000-2005 dalam pameran tunggalnya, ”Membuat Rumah Baru”, di Emmitan Fine Art Gallery, Surabaya (12 Desember 2005-10 Januari 2006), menampik citra sureal yang semata-mata seram semacam itu. Lukisan Edo tampaknya juga berjarak dari gubahan citra yang sekadar antik, aneh, dan ajaib. Pelukis muda (34) yang belajar seni lukis di Institut Seni Indonesia ini (1995-2000) berupaya menggali dan mencari ungkapan dan pencitraan baru yang lebih segar dan tidak klise. Disadari atau tidak, lukisan Edo berupaya menepis citra surealis yang sarat dengan identitas visual dari khazanah budaya lama atau muatan serba lokal.

Semua lukisan Edo cuma ditandai oleh hadirnya obyek tunggal. Obyek tunggal yang selalu tampil di tengah kanvasnya inilah seakan-akan yang menjadi semacam pusat konstruksi ’cerita’. Tapi ’cerita’ tidak datang karena susunan, regatan, atau lompatan adegan mengikuti hukum ruang dan waktu. Cerita atau ’makna’ dalam lukisan Edo adalah polifoni: hanya bisa direka-reka dengan kemungkinan alur serba terbuka. Tiap kali, cerita semacam itu hanya ’membayang’, tak akan sampai ke garis final karena akan buyar atau kandas di tengah jalan.

Bengkel tamasya batin

Lukisan Edo bertumpu pada penggambaran sosok. Citra ini kuat karena kita dapat mengenali semacam anatomi makhluk primata yang berjalan tegak. Boleh jadi, inilah citra yang seakan menampik dengan halus gambaran lukisan sureal sebagai hantu-hantu. Michelle Chin, salah seorang pengamat dekat lukisan Edo, mengungkapkan, sesungguhnya kehidupan sehari-hari yang kelabu dan tak jarang juga muatan kritik disampaikan oleh Edo lewat lukisan-lukisannya. Karya awalnya dalam pameran ini, misalnya, ’Kompromi’ (2001) yang melukiskan makhluk serupa kuda-anjing melompat, bertubuh ganda dan mulut terikat seraya menikmati walkman adalah kritik terhadap kehidupan para seniman.

Melalui citra penyimpangan mirip rekayasa genetik, muncullah sosok-sosok aneh bercitra binatang, robot, atau setengah manusia yang ganjil. Namun, citra baja putih yang mengilat pada bentuk-bentuk seperti helm, radar, tabung, sepatu, cerobong, atau wajan kembali menyembulkan raut wajah dan sosok manusia yang terjepit atau terkejut. Sosok-sosok itu mirip kutil seakan terjebak di dalam sebuah ruang, habitus, atau organisme raksasa yang tak dikenal. Penampang benda-benda membentuk semacam ruang, celah, atau lubang yang meringkus wajah atau badan. Kita melihat Edo menggunakan metode sureal di sini: memadukan yang ganjil, menyatukannya dengan membuat disintegrasi dan destruksi. Meminjam kosa kaum surealis, dapat pula kita katakan bahwa ’perabot-perabot’ itu terserap kembali, membentuk sebuah ’lingkungan-dalam’.

Edo membawa citra sureal bukan kepada sebuah lanskap semu yang umumnya—pada seni lukis kita—dilanda oleh citra horizon yang jauh atau langit kosong untuk menegas-negaskan ke-sureal-an. Bukankah citra ke-sureal-an semacam itu tak jarang seakan cuma mengingatkan para pelukis pemandangan yang kesasar? Edo lebih mirip pelukis yang bekerja di bengkel sebuah percobaan sureal untuk menganggit kembali makhluk-makhluk fantastis atau sengkarut tamasya batinnya.

Sosok-sosoknya dilukis pada latar bercorak yang menampilkan sifat ekspresif, digurat berulang-ulang untuk menampilkan nuansa warna di lapis dalam. Jika unsur rupa semacam ini dapat kita maknai, maka sosok-sosok ganjil yang dilukisnya seakan muncul dari dataran reduplikasi tanpa makna yang membentangkan kekosongan dan kehampaan.

Tiga lukisan terbarunya (2005) menampilkan perkembangan yang berarti. Lukisan-lukisan itu makin mengarah ke bentuk non-identitas dan mendekati peleburan sosok manusia-perabot. Lukisan-lukisan ”Dalam Duka Ditinggal Sendiri” dan ”Malam Tanpa Ranjang” menampilkan imaji-imaji erotis yang tertahan, halus, gelap, sublim. Sosok kerempeng dengan kepala mirip corong bengkok dalam lukisan ”Dalam Duka Ditinggal Sendiri” dilukiskan terikat di depan latar berbentuk belahan pantat yang bundar. Lukisan ”Malam Tanpa Ranjang” menampilkan makhluk mirip trenggiling yang tergolek di atas selimut sisik buaya yang meliuk-liuk.

Tentunya menarik untuk mengamati perkembangan pencarian bahasa sureal pelukis muda ini. Dalam sambutan pembukaan pamerannya, sang kolektor kawakan kita pun tak lupa menguarkan puja-pujinya. ”Tak ada lukisan yang buruk pada pameran ini. Yang satu hanya lebih baik dari yang lain,” ujar dr Oei Hong Djien. Tapi ”selera Pak Dokter” sejatinya bermakna ganda: sinyal positif bagi sentimen pasar, sekaligus kerangkeng bagi sang seniman bermental ’artopopian’ yang takut bangkrut lantaran mengubah penampilan di hadapan para ’juragan’.

Hendro Wiyanto
Kritikus Seni Rupa