BALI POST, Minggu Wage, 2 April 2006

Rama Surya Rayakan Ketelanjangan | Pameran Foto ''KeMURNIan''

OLEH: wayan sunarta

Para perancang dan pendukung RUU APP bisa dipastikan akan gerah dan mencak-mencak bila berkesempatan menyaksikan pameran foto karya fotografer Rama Surya (36) di Richard Meyer Culture, Krobokan, Badung, Bali. Sebab, pameran yang berlangsung sejak 23 Februari sampai 8 April 2006 itu semuanya menampilkan adegan dan pose telanjang.

-------------

HANYA saja, jangan berharap bisa menemukan pose bugil perempuan dalam pameran bertajuk "KeMURNIan" yang juga didedikasikan untuk mengenang pelukis pendobrak tabu (alm.) IGAK Murniasih. Sebab, semua modelnya berjenis kelamin laki-laki dan rata-rata berprofesi seniman. Misalnya, dalam pameran ini orang bisa menikmati foto telanjang pelukis Made Budhiana dalam berbagai adegan dan pose.

Bagi Rama Surya, ketelanjangan adalah kemurnian. Dan fotografer yang pernah berpameran di sejumlah tempat di luar negeri ini sangat piawai membidik momen-momen artistik manusia Bali dalam konteks perayaan ketelanjangan. Rama juga menyadari, sesungguhnya masyarakat Bali sudah sejak dulu, bahkan sebelum Belanda datang menjajah, telah terbiasa merayakan ketelanjangan. Misalnya, para perempuan Bali -- muda maupun tua -- saat itu telah terbiasa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan telanjang dada.

Namun, ketelanjangan mereka hanya sebatas dada, sedangkan dari pinggang ke tumit ditutupi kain. Saat itu laki-laki Bali tidaklah terlalu terangsang melihat buah dada yang banyak bertebaran di pasar dan jalan-jalan desa karena merupakan suatu pemandangan "biasa". Malah pemerintah kolonial Belanda yang merasa risih dan melarang perempuan Bali mempertontonkan dada di depan umum. Bahkan perempuan dan lelaki telah terbiasa mandi bersama di pancuran atau sungai dengan bertelanjang tanpa risih atau cemas seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jejak-jejak perayaan ketelanjangan, seperti mandi bersama itu, sampai sekarang masih bisa ditemukan di sejumlah desa di Bali.

Perayaan ketelanjangan pada masyarakat Bali yang berakar budaya agraris juga seringkali berhubungan dengan perayaan kelamin yang dikaitkan dengan ritual-ritual kesuburan dan ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta. Simbol-simbol kelamin perempuan dan laki-laki atau adegan persetubuhan dengan mudah bisa ditemukan pada alat-alat dan benda-benda ritual dalam kehidupan masyarakat Bali, bahkan sampai saat ini.

Perayaan ketelanjangan dan kelamin juga bisa ditemukan pada banyak karya seni di Bali yang telah dicipta oleh para seniman dari berbagai generasi, dari zaman Wayang Kamasan (Klungkung), Lempad, Mokoh sampai Murniasih. Mengingat perayaan ketelanjangan dan kelamin telah menjadi unsur tersendiri dalam struktur kebudayaan Bali, maka RUU APP bagi masyarakat Bali merupakan suatu yang sangat basi dan mubazir. Dalam tataran yang lebih khusus, hal itu menjadi teror dan ancaman bagi keselamatan dan kelangsungan hidup kebudayaan Bali.

 

Momentum Tepat

Pameran foto "KeMURNIan" ini menemukan momentum yang tepat di tengah situasi tegang pro-kontra penggodokan RUU APP. Dan ini merupakan sikap protes seorang fotografer terhadap tindakan sewenang-wenang yang dilakukan segelintir orang yang mengatasnamakan moralitas bangsa. Melalui foto-foto hitam-putih yang ditampilkan, Rama seakan ingin mengatakan bahwa ketelanjangan bila dikemas dalam suatu wadah estetika tidak akan serta merta jatuh menjadi pornografi. Dalam hal ini, porno dan tidak porno menjadi suatu konsep yang sangat subjektif dan tergantung dari isi otak masing-masing orang.

Sensasi apa yang muncul dalam benak pemirsa pameran ini ketika melihat seri foto telanjang pelukis Made Budhiana yang sedang melakukan berbagai adegan dan pose beryoga di bawah cucuran air pancuran di sebuah kolam permandian umum di desa Kubutambahan (Buleleng)? Atau pada pose Budhiana sedang semedi dengan sikap sempurna di atas pilar batu, juga adegan yoga dengan kaki terlentang atau terlipat di atas tumpuan kepala. Foto hitam-putih berjudul "Made Budhiana Beryoga" (2001) itu justru nampak sangat artistik. Unsur-unsur gelap terang dengan memanfaatkan cahaya matahari sore terasa seirama dengan cucuran air pancuran dan gerak-gerak yoga Budhiana.

Pameran ini juga menampilkan foto-foto Budhiana yang berinteraksi dengan beberapa kawan dan anak-anak dalam sejumlah aktivitas, dan semuanya bugil. Misalnya foto Budhiana bermain kejar-kejaran dengan anaknya, bermain musik dengan teman di alam bebas, mencari kutu bersama, menari dan berjingkrak dengan beberapa kawan di lembah pegunungan yang terlihat gersang, menari di tengah malam dengan tangan menggapai langit ingin meraih purnama yang bercahaya terang.

Pemirsa juga bisa melihat foto bugil Budhiana dan seorang kawannya di tengah-tengah alam bebas dengan latarbelakang kegersangan lembah Gunung Agung. Foto ini bisa mengingatkan atau memberi gambaran pada orang tentang kehidupan manusia purba ribuan tahun lalu. Juga menyadarkan orang bahwa manusia pada hakikatnya murni, telanjang, polos, sehingga alam begitu ramah dan berkawan akrab dengan manusia-manusia "murni" itu.

Kehidupan yang katanya modern dan beradab dengan berbagai pernak-pernik penutup tubuh dan aurat justru pada titik tertentu membuat manusia menjadi munafik dan membohongi dirinya sendiri. Sehingga, pada titik tertentu yang lain manusia merindukan ketelanjangan, merindukan kemurnian. Dan Rama berhasil mengabaikan kemurnian itu melalui foto-foto artistiknya.