BALI POST 22 Februari 2004

Lomba Melukis atau Lomba Kreativitas?

PELUKIS Made Budhiana mengkritik para peserta lomba lukis HUT ke-12 Kodya Denpasar (Bali Post, Sabtu 14/2). Dia mengkritik karena miskinnya penggalian tema dari para peserta khususnya untuk kategori dewasa. Figur barong, rangda, penari Bali muncul dalam lukisan hasil lomba tersebut.

Tema dalam Lomba
Banyak yang mengeluh seperti Budhiana. Tidak dalam kapasitas sebagai juri, melainkan sebagai masyarakat yang sempat memperhatikan seni lukis anak-anak. Yang dikeluhkan karena selalu saja muncul gunung pada gambar anak-anak di sekolah dasar sampai ke SLTP. Ini mungkin mirip persoalannya kalau di tingkat lebih dewasa mereka melakukan pengulangan tema ketika kegiatan lomba melukis diarahkan ke tema kebudayaan Bali, misalnya. Tema sebagai sebuah penggiringan lantas perlu dipersoalkan di situ. Jika bukan karena tema yang dituntut oleh sebuah lomba melukis penyebab hadirnya figur barong, rangda, penari dan pura, barangkali ini ada kaitannya dengan wawasan tentang seni lukis masih di masa Mooi Indie.

Tema bukanlah segalanya. Tetapi banyak sponsor tak mau kehilangan momen dan memanfaatkan kepentingannya. Tema pesanan sponsor dalam lomba melukis pun terjadi. Ada banyak cara di situ. Misalnya, sebuah pemasaran mobil pernah mencantumkan tema "lingkungan dan merek mobil yang dipasarkan". Sebuah mal yang baru dibangun bekerja sama dengan sebuah bank membuat lomba lukis dengan tema lingkungan mal tersebut. Sebuah bank membuat lomba dengan tema menabung. Museum Bali pernah membuat lomba melukis, patung dan foto dengan objek benda-benda dan lingkungan museum. Model manakah yang lebih menyehatkan kreativitas? Silakan memilih, sebab semuanya merasa memberi pembinaan serta mengusung kreativitas, pendidikan, dan apresiasi.

Tapi bukan tema penyebab hilangnya kebebasan ekspresi dan lenyapnya kreativitas. Tentu, jika ada cara berpikir kreatif. Atau pernyataan ini bisa keliru sebab sifat latah sangat gampang mengikuti arus. Lantas, ketika sebuah lomba menyodorkan tema kebudayaan Bali, ajeg Bali, secara refleks muncul barong, rangda, penari, pura dan upacara. Apa boleh buat jika tema ditelan bulat-bulat. Pemahaman yang demikian juga memasuki ruang-ruang kelas, proses belajar dan mungkin dari sinilah juga penyebab timbulnya keprihatinan Made Budhiana ketika ia menjadi juri lomba melukis tempo hari.

Bukan sekolah saja bertanggung jawab terhadap semua ini. Apresiasi masyarakat mengenai perkembangan seni lukis terbatas dan belum beranjak jauh dari massa Mooi Indie. Ini juga ikut sebagai penyebab. Simbol barong, rangda, pura terlalu akrab dan mengandung kebanggaan yang dianggap identik dengan Bali. Cara berpikir turistik dengan slogan pariwisata budaya yang dibanggakan juga mendukung cara berpikir remaja.

Tema dan Teknis
Tema menantang pemikiran dan apresiasi terhadap kehidupan. Teknis menuntut ketrampilan menggunakan alat dan bahan. Kegiatan pengajaran seni rupa di sekolah kerap lebih berkutat pada ketrampilan teknik. Pekerjaan yang rapi dan naturalisme menjadi acuan dan kebanggaan. Upaya kreatif membahas tema dianggap tidak penting, terlalu teoritis, omong kosong dan percuma. Sebab, pujian-pujian pada ketrampilan dan kegiatan praktik menunjukkan ketrampilan teknis lebih memberi kebanggaan. Dengan demikian keberanian menggali cenderung terabaikan.

Istilah eksplorasi dalam tema, bahan, alat dan teknik, luput dibicarakan. Pengajaran menggapai kebanggaan hasil akhir dan mengabaikan proses yang memperkaya wawasan tentang nilai-nilai lingkungan kehidupan. Padahal membahas tema dapat memperkaya pemahaman simbol. Simbol sebagai bahasa tersirat yang menantang interpretasi memperdalam hubungan manusia dengan bahasa kehidupan yang luas. Korelasi kesusastraan dan seni rupa yang kerap muncul dalam gambar vignet dengan tema dibangun dengan simbol romantik tak nampak jejaknya dalam lukisan mereka. Tema romantik tersebut tergusur ditendang keluar oleh barung, rangda dan penari.

Pasar Seni
Munculnya barong, rangda, penari dalam lukisan remaja yang kemudian menyebabkan seorang Budhiana prihatin, mungkin karena pasar-pasar seni di Sukawati, Ubud yang masih menampakan figur seperti itu dalam bentuk lukisan, patung dan barang cenderamata memasuki kesadaran mereka. Bahwa itulah pasar seni yang memberi lapangan kerja di daerah pariwisata. Pendidikan dan pengajaran di sekolah yang menekankan hubungan pembelajaran dengan pasar kerja, kian memperkuat keinginan untuk meniru karya di pasaran itu. Dengan begitu, sejak dini mereka sudah ambil ancang-ancang memasuki lapangan kerja dengan ketrampilan seperti itu. Padahal dalam tingkat lebih tinggi, di Museum Neka, Rudana, Arma dan di galeri terkemuka, wajah barong, rangda dan penari kian pupus. Pelukis-pelukis yang tak lagi melukis barong, rangda dan penari sudah jauh lebih kaya ketimbang yang suntuk melukis barong, rangda dan penari. Sebenarnya juga tidak keliru berharap dari hasil pengajaran dan pendidikan memberi wilayah kerja. Namun, tentang produk yang dijual di pasar bukan hanya karya seni berbentuk lukisan. Pembeli produk seni bukan hanya turis. Apalagi jika menganggap menjual tema barong, rangda, pura atau tema Bali lainnya sebagai cara penyelesaian.

Hartanto, pemilik Rumah Budaya Bali Mangsi pernah menyampaikan sebuah obsesinya, bahwa suatu ketika dia ingin melihat seorang remaja menghadiri pameran dan membeli lukisan. Dari kantung remaja, walau setebal apapun dengan isi rupiah berlimpah, pasti berbeda dengan semangat membeli seorang kolektor atau kolekdol. Remaja memanfaatkan apresiasinya.

Obsesi Hartanto terjawab, ketika siswa SLTP 5 Denpasar memamerkan lukisan kolase dengan tema pameran "Mengangkat Kasta Sampah" di Museum Bali. Banyak lukisan pada pameran itu terjual dan salah satu pembelinya adalah anak SLTP yang membeli dua lukisan. Lalu, ada pemikiran, mengapa kalau pengajaran seni rupa di sekolah hanya berhenti pada membuat lukisan atau gambar yang dibuat dari cat air, cat minyak, krayon? Bukankah kartu ucapan, cinderamata Ultah atau pada perayaan Valentine juga adalah persoalan estetik yang kuat daya tariknya membangun perhatian dan partisipasi pembelajaran seni rupa bagi remaja?

Seorang anak SMU, dengan semangatnya memesan kartu Valentine pada penulis dengan pertimbangan eksklusif, manual dan ngepop. Remaja yang apresiatif demikian, jika berkembang dengan baik, akan menjadi pembeli yang menuntut sikap kreatif. Remaja seperti mereka umumnya loyar dan mudah dijumpai saat kini. Sikap loyar itulah juga dibidik dunia rekaman, dunia mode, produksi makanan. Puluhan ribu rupiah digunakan oleh remaja untuk membeli kaset, VCD, atau barang-barang ngepop lainnya. Para mahasiswa di Bandung berhasil memanfaatkan keadaan tersebut. Paling tidak, jika anak-anak tingkat sekolah menengah belum mampu memproduksi barang seni seperti itu, mereka sudah cukup jika mampu memiliki wawasan tentang pasar yang bukan hanya memerlukan lukisan, turis bule dan barang seni bertema barong, rangda, dan pura yang naturalis.

Lomba Kreativitas
Sebagai perbandingan saja, sebuah komunitas sastra "Sanggar Minum Kopi" yang bermarkas di Denpasar sekitar 1990-an secara rutin mengadakan lomba baca puisi. Karena hasil lombanya tiap tahun, mungkin, kurang menunjukkan kreativitas, akhirnya dibuat cara lain untuk membangun motivasi baca puisi yang lebih segar. Lomba baca puisi itu diberi tambahan syarat, mencari kemungkinan lain dalam sebuah pembacaan puisi. Dalam hubungan dengan lomba melukis, apakah tak perlu meniru hal tadi?

"Lomba melukis" diubah menjadi "lomba kreativitas seni lukis". Yang ditekankan adalah kreativitasnya, tema, bahan, teknik dan alat, kemudian yang juga penting dipertanyakan, "Apakah pernah ada khusus lomba melukis remaja? Sebab remaja itu bukan anak-anak dan juga bukan dewasa. Ditilik dari ciri ekspresinya, mereka memiliki karakteristik berbeda dengan anak-anak dan orang dewasa.

* i nyoman wirata