Di Atas Kanvas, Semuanya Mengalir

oleh Made Budhiana

Saya tidak tahu darimana harus memulai menjelaskan tentang perjalanan keseni-rupaan saya. Sama tidak tahunya apakah penjelasan tentang itu memang perlu. Seringkali orang meyakini bahwa untuk memahami seorang pelukis sudah cukup menikmati dan mengapresiasi dari karya-karyanya. Namun setelah lama merenungi, akhirnya saya percaya, bahwa seorang pelukis juga ingin mengungkapkan cara ia memahami sesuatu, baik sesuatu di luar dirinya maupun apa yang menjadi impian-impiannya, sebagaimana seorang Henri Matisse, misalnya, mengungkapkan betapa keindahan begitu mencengangkan dalam serakan warna, atau Paul Gauguin yang mengungkapkan kemurungannya ketika Tahiti harus berubah menjadi modern, atau . . . . . tak dapat dihindari bahwa orang, suatu hari dalam hidupnya, membutuhkan percakapan-percakapan kecil.

Saya amat mengerti bahwa proses kreatif tiap pelukis tak sama. Begitupun konsepsi, ekspresi, keyakinan-keyakinan estetiknya, cara ia merespons keadaan lingkungannya. Tak ada masalah dengan karakteristik serupa itu, sebagaimana pula dengan cara saya menjalani proses kreatif saya. Orang membutuhkan kondisi bersendiri, atau bersama-sama, atau kondisi tertentu, semua itu sah saja.

Bagi saya, sumber-sumber keindahan terlalu luas untuk hanya dipahami dari studio yang tak seberapa luas. Barangkali karena kegemaran saya, atau telah tertanam suatu sifat yang tak pernah diam dalam diri, saya seringkali gemar bepergian ke mana saja, sekalipun tempat itu asing sama sekali. Dan saya amat menikmati semua itu, menikmati warung-warung kumuh di pinggir desa, menyelusuri jalan setapa di bawah lembah, berendam di kali di pinggir jalan pedesaan, bercakap-cakap dengan orang-orang desa, bermain dengan anak-anak kampung yang telanjang atau hanya mengenakan celana . . . . . Saya percaya ada semacam pengendapan humanistik, ekologis, sosiologis, dan juga psikis atas apa yang saya lihat, dengar, rasai dan semuanya . . . . . semuanya. Saya percaya semua itu tak akan lenyap dalam kesadaran saya. Kehidupan semacam yang saya jalani ini akhirnya menyadarikan saya bahwa sebetulnya keindahan itu berserak di sekitar kita.

Kesadaran semacam itulah yang membuat saya tak terlalu bergantung dengan bahan, material atau apapun namanya, ketika saya melukis. Saya pun tak terlalu tergantung pada suasana atau kondisi saat hendak melukis. Banyak kali saya menggunakan bahan-bahan atau material yang tak lazim sebagai media pencapaian estetik saya di atas kanvas atau kertas. Saya mau menggunakan seng, sandal, benang, plastik, pipa, kaca, kain, itu urusan kreativitas saya. Begitupun ketika memilih untuk melukis. Bukan persoalan benar jika suatu hari saya melukis di tengah pasar Badung, di tepi sungai, di pinggir pantai, di warung-warung, di kuburan atau di tengah kerumunan orang. Kadang saya merasa bahwa saat-saat melukis di tempat yang ramai, misalnya, saya seperti melakoni sebuah teater kecil, dimana orang-orang dan lingkungan adalah aktor-aktor utamanya. Saya kira inilah pemaknaan kebebasan yang saya yakini; saya memahami teori, tetapi memiliki keberanian untuk membantahnya, saya melukis, tetapi tak tergantung pada bahan, menerapkan tehnik yang "bukan tehnik" dalam melukis, memilih dan menjalani kehidupan yang spontan daripada perencanaan yang rumit dan seterusnya.

Kini orang mengenal saya sebagai seorang pelukis abstrak. Tetapi apakah abstrak, bagaiamana orang menikmatinya, apakah bisa laku, adalah pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak berdosa, karena mereka yang bertanya adalah orang-orang yang mulai tertarik dan menaruh respek terhadap lukisan-lukisan semacam itu. Ingin sekali saya menjelaskannya secara deskriptif, tetapi bagi saya yang lebih penting adalah "memulangkan" mereka pada kehidupan ini dan memperlihatkan pada mereka, bahwa betapa banyaknya hal-hal abstrak yang bisa dinikmati dalam hidup kita sehari-hari. Sebuah lukisan abstrak adalah pergumulan yang tak cepat selesai. Ia bahkan cenderung menawarkan pergumulan imaji kita yang berkepanjangan.
Maka, pada kanvas yang kosong, serakan garis dan warna adalah pengendapan pengalaman estetik yang selama ini tersimpan dalam diri saya mengalir menjadi bentuk-bentuk seperti yang Anda nikmati selama ini. Semuanya mengalir sebagaimana saya hidup . . . . .

Titanic Camp, 10 Mei 1998