Made Budhiana

Made Budhiana: Lukisan Abstrak dan Ketulusan

oleh Wayan Suardika

Keindahan itu berserak di sekitar. Setiap benda, dari bentuknya yang kongkret, tak beraturan, hingga yang abstrak sekalipun, mempunyai keindahannya sendiri. "Itulah kebesaran alam, menyimpan tanda tanya dalam keindahannya, dan karenanya ia seperti mengisyaratkan untuk tidak berhenti dalam mencari keindahan yang dikandungnya," kata Made Budhiana (32), pelukis yang kini tengah berpameran di Bali Hilton Internasional, Nusa Dua, selama dua minggu (28/9 - 10/10).

Apa yang diungkapkannya, adalah apa yang juga ia lakukan, baik dalam kesehariannya maupun ketika ia menuangkannya ke atas kanvas. Ia akrab dengan alam. Pelukis yang dua kali berturut-turut meraih penghargaan Pratisara Affandi Adhi Karya ini mengaku, ia banyak belajar dari alam. "Gunung, sungai, lembah, langit, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, itu akan memberikan keindahan yang tak berujung," akunya sehari setelah pembukaan pameran di hotel berbintang itu.

Alam, bagi Budhiana, adalah mahakarya. Ia yang kerap melakukan penjelajahan dan menikmati alam, sering tergagap, kadang tersentak, betapa alam kerapkali memperlihatkan apa yang tak pernah dipikirkan manusia. "Marilah misalnya kita berjalan-jalan di pantai, atau di lereng-lereng gunung. Seringkali kita menemukan batu-batu yang aneh bentuknya, dan kita tak terpikir mengapa ia serupa itu," ungkap pelukis dengan rambutnya yang gondrong menjuntai ini. Kebesaran alam, baginya, adalah sumber keterpanaan yang tanpa batas.

Tiga puluh karya lukisan yang dipamerkan di Hilton dengan berbagai ukuran itu semuanya dalam bentuk abstrak-ekspresif. Objek tidak hadir sebagaimana ia ada, objek dalam lukisan-lukisan Budhiana ialah stimulans untuk menyuruk lebih jauh atas apa suatu simbol mengadukduk suasana hati. Kontradiksi ekspresi sang pelukis sangat kentara pada karya-karyanya. Ambil sebuah karyanya yang berjudul Nelayan. Warna-warna laut yang tenang, tiba-tiba harus "ditabrak" dengan garis-garis kuat pada objek nelayan dan perahunya. Hidup ini sendiri, sesungguhnya, adalah sarat dengan kontradiksi; ada siang ada malam, ada kalah ada menang . . . . .

Kadang, dalam penerimaan awam, lukisan-lukisan abstrak sulit mencapai dialog yang memuaskan. Mengapa? Budhiana mengungkapkan bahwa dalam menghayati lukisan abstrak, atau sesuatu yang abstrak, diperlukan ketulusan. "Tuhan sendiri pun adalah sesuatu yang abstrak. Namun jika kita menerimanya dengan jiwa yang tulus, kita akan bisa menghayati keberadaannya," ujar Budhiana. Lebih jauh ia bertutur, ketulusan akan penerimaan atas sesuatu itu bukan lantas berhenti dalam pencarian. "Ketulusan itu bergerak. Ibarat kedalaman laut, ia nampak begitu tenang, tetapi sesungguhnya ia bergerak," cetusnya.

Lukisan, apapun ekspresi yang tertuang, seperti apa yang diungkapkan Budhiana, merupakan ekspresi dari konflik batin si pelukis dalam hidup dan kehidupan ini. "Selalu ada sifat yang mendasari kehidupan manusia antara keinginan dan kenyataan, yang dialami dan dirasakan sebagai konflik, yang pada puncak keterbatasan mengakibatkan suatu pemberontakan yang akhirnya menyentak kesadaran untuk menuju ketenangan jiwa," katanya memaparkan pandangan hidupnya.

Kini, Budhiana merambah hotel berbintang untuk menggelar karya-karyanya. Lalu, bukan tak mustahil bila, misal, ada kesan ia "jualan." Kemungkinan semacam itu bukan tak terpikirkan oleh Budhiana. "Saya ingin tampil jujur di mana pun saya berpameran, dan tidak sama sekali dengan berpretensi apapun kecuali saya menganggap bahwa pameran merupakan salah satu mata rantai dari kegiatan kesenian itu sendiri," tukas Budhiana. Ia menambahkan, jika kemudian ada lukisannya dibeli orang, itu konsekuensi logis. "Tapi bagi saya, keberhasilan sebuah pameran itu tidak dilihat dari berapa buah lukisan yang terjual, melainkan kepuasan si pelukis waktu karya-karyanya tampil," kata Budhiana.

Maka, sesungguhnya telah lama terbersit dalam benaknya untuk merambah semua tempat untuk menyelenggarakan pameran. "Saya malah tetap mempunyai rencana untuk merambah kampung-kampung untuk kegiatan apresiasi seni lukis, misalnya membagikan kertas kepada anak-anak dan membiarkan mereka menggambar. Dan setelah itu karya-karya mereka kita pamerkan di tempat itu juga," ungkapnya antusias. Menurutnya, seorang seniman tetap mempunyai peran sosial, tentu dalam bingkai kesenian yang menjadi wilayahnya.

Begitulah Budhiana, tetap berjalan di garis keseniannya dalam menjenjangi kehidupan ini. Ia melukis dan melukis, kadang bersahabat dengan alam dan mencandainya, mencari irama dan keseimbangan, bergumul di antara keinginan dan kenyataan dan pada akhirnya bermuara pada ketenangan jiwa. Setiap objek dalam hidup ini, baginya, adalah suatu kemurnian, keindahan dan kepolosan. Dan ia membiarkan semua karyanya untuk tidak berbohong kepada orang lain.