Made Budhiana

Made Budhiana:

Meruwat Diri Sendiri, Imaji dan Bumi

oleh Wayan Suardika

Apakah sebetulnya persoalan bumi? Jika dikaji, alangkah luasnya. Tetapi baiklah kita ikuti saja bagaimana seorang Made Budhiana menyederhanakannya menjadi urusan sehari-hari. Baginya bumi adalah lembah, bukit, gunung, laut, ikan-ikan, perahu, batu-batu, serakan sampah upacara, bau tanah kering pedesaan, suasana malam, ruko, mata air neing nun di dasar lembah, irama hujan . . .

"Bumi adalah yang kita akrabi sehari-hari," serunya suatu hari, saat menghabiskan Nyepi di puncak salah satu bukit di kawasan Budakeling, Karangasem sana, Minggu (29/3) lalu. Alangkah sederhananya. "Tetapi tidak pelaksanaannya," bantahnya. Karena, "Alam rusak bukan karena ulahnya sendiri, melainkan oleh ulah manusia. Persoalannya kemudian, jika bumi hendak diruwat, maka hal yang sama jugua dilakukan pada batin manusia, seperti pengkatarsisan hati nurani," ungkap perupa yang permulaan tahun ini telah berkali-kali berpameran, baik di bali maupun di luar negeri.

Maka, bagi Budhiana, pejelajahannyamenyusur bukit, gunung, lembah, pesawahan, jalanan kecil berkelok-kelok dan penuh batu besar di ujung Bali Timur yang dilakukannya dua tiga tahun terakhir ini, adalah upaya menjaga semacam "dialog transendental" dengan bumi dan keseluruhan isinya. Secara implisit Made Budhiana pernah pernah mengungkapkan, kitalah yang sebaiknya "meluruh" dengan alam guna dapat merasakan percakapan tanpa "bunyi", untuk merasakan keindahan dan kemarahan yang tak kasat oleh dria kecuali dengan matahati, untuk megerti betapa sesungguhnya kita tak berarti apa-apa jika membandingkan diri dengan keagungan alam, keagungan bumi!

Alam adalah realitas ilham. Realitas ini juga yang mempengaruhi kualitas imaji. Ini disadari betul oleh Made Budhiana. pergumulan mesra dengan alam, disadarinya betul, amat kental mempengaruhi karya-karyanya belakangan ini. "Hampir semua karya-karya saya belakangan ini berasal dari alam," ungkap Made Budhiana tatakala ia memberi sambutan kecil pada pameran tunggalnya di ganesha gallery Four Seasons Resort bali, 25 Februari lalu. Dengan tajuk pameran "Image Dance", Made Budhiana seperti memperlihatkan betapa leluasanya ia menari-nari menuangkan imaji-imaji besar dan kecil sebagai respek batinnya kepada alam seperti yang nampak pada salah satu karyanya yang berjudul Dance of Freedom (74 x 104 cm), Movement and Space 9125 x 150 cm) atau Wind of Dry Season (50 x 60 cm).

Dalam karyanya yang berjudul Movement and Space, sosok-sosok absurd yang dibangun oleh kekuatan garis dan warna serta pola kompositork yang mantap mensugesti penikmat pada keneradaan ruang dan gerak yang ritmis dan ilutif. Namun pada bebarapa karyanya yang lain Budhiana tak segan-segan mempepatkan kesatuan komposisi dan taburan warna, seakan ia ingin seperti apa yang diungkapkan Henri Matisse, melihat keindahan (lukisan) lewat warna. Itu tercermin dari beberapa karyanya seperti Nature's Dance (140 x 150 cm), Power of Triangle (60 x 60 x 60 cm) atau Red Face (32 x 15 cm).

Imaji, sebagaimana pencerapan orang terhadap alam, amat pribadi. Dan karena itu amat sugestif. Dalam wilayah ini orang boleh menemukan keindahan yang paling sempurna, menemukan kebebasan yang tak bertepi (unlimited), atau berperilaku dari tingkatan nirnyawa, animali hingga yang paling sufi. Intinya, iamji adalah ruang besar yang tak membebankan apa-apa kepada seseorang selain membawa dirinya sendiri.

Inilah yang mendasari hakikat kreatif Made Budhiana. Dasar ini pulalah yang membuatnya tanpa beban menuangkan apa yang menurutnya berpotensi sebagai elemen estetis, menggunakan teknik yang "bukan teknik", menafikan aliran, melukis berbagai obyek yang menurutnya indah buat dituangkan di atas kertas atau kanvas. kebebasan yang menjadi dasar proses kreatifnya membuat Made Budhiana percaya bahwa seni (lukis), abstrak sekalipun, sah buat dinikmati setiap orang (art for everyone) . "Kita sebaiknya jangan meremehkan imajinasi orang," seru Made Budhiana ketika mengkomandoi pameran "Seni untuk Semua" di ruko Gatsu Oktober 1997 kemarin.

Sejak Made Budhiana mengakhiri periode rerajahan yang memberinya banyak hal: identitas Bali, penghargaan prestisius Pratisara Affandi Adikarya dua kali berturut-turut, popularitas, ia kemudian seperti "lahir kembali" dengan mengusung tema yang lebih besar; kebebasan. Ia jauh lebih terbuka, untuk akhirnya sampai pada pengertian bahwa keindahan itu ada di sekitar kita yang lebih bersinggungan dengan alam dan lingkungan para manusia.

"Saya barangkali mementingkan imaji, tetapi saya tak mungkin mengabaikan kehidupan nyata," katanya. Karena, menurut pelukis yang pernah tinggal beberapa minggu di pemukiman orang-orang Aborigin di Australia sana, "Imaji toh harus diturunkan buat dinikmati bersama."

Karena itu, lukisan-lukisan Made Budhiana kini sepenuhnya memperlihatkan cara berungkap yang berdasari imaji kebebasan: jujur, berani, tanpa beban, dan amat terbuka untuk setiap penikmat apakah mau menjadi bagian atau tidak sama sekali ke dalam tebaran garis, warna, dan komposisi di dalam lukisannya. Jika pada mulanya ia hanya mau membuat skets sosok seseorang dengan bahan charcoal namun kemudian berkembang menjadi tebaran garis dan penuh warna dengan komposisi yang pepat seperti yang terlihat pada karyanya yang berjudul Dream (100 x 155 cm), adalah salah satu bentuk kekayaan cara yang membiarkan segalanya mengalir, efek dan sarat dengan efek kejut.

Penjelajahan artistiknya yang diwujudkan ke dalam bentuk perjalanan ke berbagai tempat, pada gilirannya tak kuasa ditepisnya untuk menjadi bagian pula ke dalam tema-tema karya-karyanya selama ini yang secara impresif tertuang ke dalam kanvas atau kertas (lihat pula pameran Made Budhiana dan Nyoman Wirata yang bertajuk "Garis Sakti" di Rumah Budaya Bali Mangsi Februari-Maret 1998).

Imaji yang amat pribadi, dan alam yang amat terbuka, dengan indahnya menari-nari di atas kanvas Made Budhiana. Kentara betapa ia amat mendalami penguasaan imaji tentang hidup dan tak berpura-pura. Kebebasan kembali ditemukan dalam wujudnya yang sederhana sekaligus kompleks, karena kebebasan yang sah dimiliki setiap orang toh pada perspektif tertentu mempunyai kompleksitasnya sendiri. Namun, bagaimanapun, Made Budhiana setidaknya telah memberi arti baru dalam dirinya sendiri, dan ini menjanjikan berbagai kemungkinan dalam perjalanan kesenirupaannya.

"Dialog" dan intensitas mau memahami alam, bagai Made Budhiana, adalah cara yang tiada henti buat meruwat diri sendiri, imaji dan bumi. "Jika sumber ilham dan keindahan adalah alam, alangkah bodoh kita merusaknya," ujarnya retotik.

Ya, alangkah bodohnya . . . . .